Ibrah Kehidupan #188: Abul Abbas Assafah (bagian -1). Pemimpin Dermawan, Perintis Imperium Besar Abbasyiyah.

0
78
Foto diambil dari UMMA

KLIKMU CO-
Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada serial berikut ini akan saya tampilkan tokoh-tokoh yang pernah menjadi khalifah pada masa dinasti Abbasiyah. Tetapi tentu tidak semua khalifah kami tampilkan melainkan beberapa khalifah saja yang menonjol (masyhur) dan inspiratif sehingga mampu melahirkan sikap uswah dan ibrah yang positive.

Salah satunya ialah Abul Abbas Assafah.
Nama lengkapnya adalah : Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abbdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf. Nasabnya ternyata bersambung dengan paman Nabi yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Abul Abbas adalah khalifah pertama dinasti/ Daulah Abbasiyah.

Abul Abbas, diberi laqob (diberi gelar) dengan berbagai gelaran. Seperti: assafah, al-Qaim, ats-Tsair, dan al-Mubih. Yang paling popular adalah “Assafah”. Salah satu Riwayat menyebutkan bahwa Beliau lahir di kota Hamimah, Yordania, awal bulan Rajab tahun 104 Hijriyah.

Terdapat perbedaan penafsiran tentang laqob assafah pada Abul Abbas, khalifah pertama Abbasiyah ini. Dalam Bahasa Arab, kata assafah memiliki dua makna. Pertama al-jawwad (الجوَّاد) yaitu dermawan. Kedua saffak ad-dima (سفَّاك الدماء) yaitu penumpah darah (Ibnu Manzhur: Lisan al-Arab 2/485). Karena itulah, terdapat perbedaan riwayat sejarah dalam mengartikan laqob assafah ini.

Apakah yang dimaksud adalah dermawan. Atau malah si penumpah darah? Saya cenderung husnudz-dzon yakni “Pemimpin yang dermawan” dengan alasan bahwa kenyataannya Abul Abbas Assafah dikenal suka memberi, bahkan tidak pernah ingkar janji tentang pemberiannya.

Ibunya bernama Rit-hah binti Ubaidullah bin Abdul Madan bin ar-Rayyan bin al-Harits bin Ka’ab. Ayahnya, Muhammad bin Ali, wafat pada tahun 125 H di Kota Hamimah.

Sang ayah (Muhammad bin Ali) adalah orang pertama yang menyerukan kebangkitan keturunan Abbas. Seruan itu ia mulai sejak usianya baru hendak menginjak 20 tahun. Di usia muda itu, ia menghimpun masa dan Menyusun design/ rencana.

Setelah Muhammad bin Ali (ayah dari Abul Abbas) wafat, perjuangannya diteruskan oleh putranya yang bernama Ibrahim (saudara Abul Abbas). Ibrahim ini dilaqobi (diberi gelar) dengan al-Imam. Melanjutkan estafet perjuangan ayahnya, Ibrahim al-Imam terus menggalang masa. Dakwah Abbasiyah pun semakin kuat dari sebelumnya. Tak terlewat momen penting seperti musim haji. Ia manfaatkan saat berkumpulnya manusia ini untuk semakin mempopulerkan diri dan ide revolusi yang ia gelorakan. Ia menjadi semakin terkenal.
Melihat hal ini, Daulah Umayyah tak tinggal diam. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Daulah Umayyah mengirim surat kepada walinya di Damaskus untuk menindak Ibrahim.

Ia kirim seseorang untuk menangkap Ibrahim al-Imam dan membawanya ke Haran untuk dipenjara. Sadar perjuangannya akan terhenti, Ibrahim berwasiat pada saudaranya Abul Abbas assafah untuk melanjutkan perjuangannya dan ayahnya. Ia perintahkan sang adik untuk membawa keluarganya menuju Kufah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 129 H.

Abul Abbas pun pergi dari Hamimah menuju Kufah melalui jalur Daumatul Jandal. Ia bawa serta 13 orang anggota keluarganya. Mereka terdiri dari paman-pamannya, saudara-saudaranya, putra-putra saudaranya, dan putra-putra pamannya.

Kemudian ia dibaiat di Kufah pada hari Jumat 12 Rabiul Awal 132 H. Bertepatan dengan 25 Januari 750 M. Setelah itu ia menyampaikan khotbah kekhalifahannya di Masjid Kufah. Semakin tampaklah gerakan revolusi Abbasiyah. Ia mengancam orang-orang Umayyah yang menyifatinya dengan perampas khilafah. Dan menjanjikan hadiah dan pemberian bagi rakyat Kufah yang mendukung revolusinya.
Di kemudian hari, terbukti dialah Abul Abbas Assafah sang perintis berdirinya sebuah imperium besar dinasti Abbasyiyah.

IBRAH DARI KISAH INI: 

Pada seri pertama tampilan “para khalifah Bani Abbasiyah” ini saya suguhkan cerita awal adanya upaya membangkitkan Kembali pamor keluarga besar Abbas yang merupakan klan terhormat dimana dzurriyyahnya adalah Nabi Muhammad saw.

Abbas adalah paman Nabi Muhammad saw., dari wangsa Abdul Muthallib.
Sudah menjadi sunnatullah, Ketika kejayaan dinasti Bani Umayyah mencapai puncaknya, dan regenerasi tidak disiapkan secara baik, maka di kemudian harinya dinasti tersebut redup bahkan akhirnya runtuh total, dan barangkali ini menjadi IBRAH (pelajaran) bagi kita, bahwa sebuah wadah dakwah/ alat dakwah harus sedemikian rupa dirawat secara baik dan professional.

Wahai para aktifis dakwah islam berkemajuan, Regenerasi bagi sebuah organisasi (termasuk kekhalifahan sebuah dinasti) merupakan sebuah keniscayaan. Wajib dilakukan. Jika tidak maka yang terjadi adalah cupdetat (kudeta) yang biasanya menyisakan kegetiran, penyesalan, dan ketidak pastian masa depan. Bahkan secara ekstrim bahwa pihak yang dikudeta akan “dihabisi” serta kehilangan masa depannya.

Abul Abbas Assafah, merupakan tokoh perintis berdirinya sebuah imperium Islam yang cukup besar yakni Daulah/ dinasti Abbasiyah. Tetapi para pelaku di balik layar yang melapangkan jalan dalam “babad alas” ini sesungguhnya adalah Muhammad bin Ali (sang ayah Abul Abbas), dan saudara tua Abul Abbas sendiri yakni Ibrahim (bergelar Ibrahim Al-Imam).
Sebuah karya besar, harus dimulai dengan kerja keras, kerja cerdas, dan tentu saja di balik semuanya itu adalah kerja ikhlas.
Wallahu a’lamu bis-Shawab.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here