Ibrah Kehidupan #189: Abul Abbas Assafah, Keras terhadap Lawan, Dermawan terhadap Kawan (-2)

0
128
Foto diambil dari UMMA

KLIKMU CO-
Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Khalifah Abul Abbas, terkenal dengan kedermawanannya. Jika ia berjanji akan memberi, tak sempat orang yang ia janjikan itu berdiri dari majelisnya melainkan sudah ia tunaikan janjinya (Lihat Ibrahim asy-Syahrazuri dalam Manahi al-Muhadditsin fi Naqdi ar-Riwayat at-Tarikhiyah lil Qurun al-Hijriyah ats-Tsalah al-Ula. Dubai: Darul Qalam. 2014).

Sebagian sejarawan bersandar dengan sebuah hadits shahih riwayat Muslim, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثِي اْلَمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا.
Di akhir umatku akan ada seorang khalifah (pemimpin) yang akan membagi-bagikan harta dengan kedua tangannya tanpa ada yang dapat menghitungnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah 2913).

Dan riwayat lain dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ خُلَفَائِكُمْ خَلِيفَةٌ يَحْثُو الْمَالَ حَثْيًا لَا يَعُدُّهُ عَدَدًا
Di antara khalifah kalian akan ada seorang khalifah yang membagi-bagikan harta dengan kedua tangannya tanpa dihitung-hitung.” (HR. Muslimdalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah 2914)

Ada pula hadits yang semakna dengan dua hadits di atas. Namun sanadnya lemah. Dalam hadits tersebut terdapat tambahan lafadz:
“يُقال له السَّفَّاح” أو “يُسمَّى السَّفَّاح”
“Khalifah itu disebut dengan as-Safah” atau “Khalifah itu dinamakan as-Safah”
Lafadz tambahan ini diriwayatkan lebih dari satu orang. Seperti Imam Ahmad bin Hanbal, al-Khotib al-Baghdadi, Ibnul Jauzi. Riwayat ini dari jalur al-A’masy dari ‘athiyah al-Aufi dari abu Said al-Khudri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَخْرُجُ عِنْدَ انْقِطَاعٍ مِنَ الزَّمَانِ، وَظُهُورٍ مِنَ الْفِتَنِ، رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ السَّفَّاحُ، فَيَكُونُ إِعْطَاؤُهُ الْمَالَ حَثْيًا
Akan keluar di suatu zaman, saat fitnah bermunculan, seseorang yang disebut as-Safah. Ia membagi-bagikan harta dengan kedua tangannya.” (HR. Ahmad 11774.)

Syu’aib al-Arnauth mengomentari, “Sanadnya dhaif. Karena dhaifnya Athiyah al-Aufi. Sementara periwayat yang lain Tsiqat. Termasuk rijalnya asy-Syaikhoin. Kecuali Abdullah bin Ahmad).

Sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan as-Safah yang membagi-bagikan harta di sini adalah Khalifah Abbasiyah yang pertama, Abul Abbas.

Walaupun kita menolak laqob as-Safah (pembunuh/ penumpah darah) dinisbatkan pada Abul Abbas, bukan berarti kita menafikan terjadinya pembunuhan yang terjadi di masa pemerintahan Daulah Abbasiyah. Bahwa Abul Abbas Assafah sangat keras terhadap lawan-lawan politiknya. Tetapi eksikutornya lebih banyak dilakukan oleh orang lain.

Kita akui Abu Muslim al-Khurasani dan Abdullah bin Ali banyak menumpahkan darah di awal pemerintahan Abbasiyah dan di masa Abul Abbas. Namun Abul Abbas tidak terlibat secara langsung dalam pembunuhan tersebut.

Kekerasan yang ditunjukkan Abul Abbas Assafah terutama kepada keluarga Bani Umayyah, khususnya zaman pemerintahan Marwan-II di wilayah Iran.

Abu al-‘Abbas memilih berfokus ke Khurasan, daerah militer penting di Iran timur. Pada 743, kematian Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik meletuskan perang saudara di dalam Khilafah Islam. Abu al-‘Abbas, didukung oleh Syi’ah, Khawarij, dan daerah Khurasan, memimpin pasukannya menang terhadap Bani Umayyah dan akhirnya menjatuhkan penguasa terakhirnya Marwan II pada 750.

IBRAH DARI KISAH INI:

Dari data tersebut di atas, kita bisa mendapatkan dua pelajaran penting. Yang pertama bahwa khalifah Abul Abbas Assafah di kenal sebagai khalifah pertama sekaligus pendiri imperium islam Dinasti Abbasiyah. Di kemudian hari imperium ini merupakan masa keemasan Islam “The Golden Age of Islam”. Kepribadian khalifah Abul Abbas Assafah dikenal baik, dermawan, menepati janji.

Kedua, bahwa khalifah Abul Abbas Assafah dikenal keras dalam memerangi musuh-musuh negara, khususnya dari lawan-lawan politiknya terutama keluarga Bani Umayyah. Hal ini sebuah keniscayaan karena di manapun sebuah pemerintahan yang berdiri pasti ada upaya untuk mempertahankan kelestarian pemerintahan tersebut. Hal ini adalah wajar.

Dalam ungkapan sederhana bisa disebutkan bahwa khalifah Abul Abbas Assafah, Keras Terhadap Lawan, tetapi dermawan terhadap kawan. Bahwa terhadap lawan politik pasti khalifah Abul Abbas menarik garis yang tegas tidak ada kompromi. Terhadap sesama keluarga besar Abbasyiyah dan umat Islam pendukungnya pastilah mengedepankan sikap kasih saying, menolong sesame, dan saling melindungi.

Jika sebagian sejarawan mengklaim bahwa Abul Abbas Assafah dikesankan sebagai pembunuh, pembantai, dan penumpah darah, maka hal tersebut kami anggap tidak inspiratif dan kontra produktif. Bahwa kita membaca sebuah sejarah masa lalu tentu berharap memperoleh hikmah yang positive, dan inspiratif. Insyaa Allah.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here