Ibrah Kehidupan #202 : Abu Ja’far Al-Mansur, Baghdad sebagai pusat Intelektual dan Peradaban Dunia (-3)

0
92
Foto diambil dari wikidata

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh penulis sejarah sebagai seorang politikus yang demokratis, pemberani, cerdas, teliti, disiplin, kuat dalam beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dan memperhatikan kepentingan rakyat.
Oleh karena itu, tidakah mengherankan bahwa selama kurang lebih 20 tahun kekuasannya, ia berhasil meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu.

Al-Mansur merupakan peletak dasar-dasar pemerintahan dinasti Abbasiyyah. Ketika awal Khalifah al-Mansur berkuasa, Daulah Bani Abbasiyyah masih dalam masa transisi dari bayang-bayang kekuasaan Bani Umayyah ke Bani Abbasiyyah, namun berkat strategi kepemimpinan ataupun pola pemerintahannya yang tergolong radikal Ia mampu melewati masa transisi dengan gemilang dimulai ketika Abu Ja’far al-Mansur mengangkat dirinya menjadi Khalifah bergelar al-Mansur.

Baghdad sebagai “kota baru” yang dibangun dari nol, terletak di pinggir sungai Tigris. Al-Mansur sangat cermat dan teliti dalam memilih lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Dengan mengerahkan ratusan peneliti yang akhirnya memutuskan untuk membangun kota Baghdad. Projek prestisius ini mengerahkan lebih dari 100 ribu ahli bangunan terdiri dari arsitektur, tenaga bangunan dan keahlian-keahlian pendukung lainnya.
Kerja keras tim ahli bangunan dengan dana 3.88 juta Dirham dikerjakan selama 4 tahun berhasil secara gemilang membangun kota Baghdad yang unik nan megah kemudian kota Baghdad dijuluki “Madinatus-Salam” atau kota perdamaian. Baghdad kemudian juga dikenal sebagai “pusat peradaban dunia”. Pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Baghdad bukan hanya dinikmati oleh masyarakat dari negara-negara Islam saja, tetapi juga oleh masyarakat manca negara non islam.

Kota Baghdad juga sebagai pusat intelektual terdapat beberapa aktivitas pengembangan ilmu, antara lain “Baitul Hikmah” yaitu observatorium, perpustakaan besar, dan lembaga ilmu pengetahuan sebagai pusat pengkajian berbagai ilmu, dan juga pusat penerjemah buku-buku dari berbagai cabang ilmu yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arab.
Kota Baghdad memang indah memukau. Kota Baghdad yang dibangun selama 4 tahun yang didesain oleh Nowbakht dari persia dan Mashallah dari Iran itu berbentuk bundar hingga dijuluki kota Bundar terinspirasi kota Firouyabad di Persia kemudian kota Baghdad dikelilingi 3 tembok benteng dan dilengkapi Istana Khalifah yang megah bernama al Qasr Az Zahabi atau istana keindahan, masjid Jami’ al Manshur, pasar, alun-alun, parit , kanal sebagai saluran air sekaligus benteng pertahanan membuat kota Baghdad menjadi kota peradaban Islam kelas dunia ketika itu.

Selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman dan makmur. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan pemberontakan-pemberontakan. Kepemimpinan Al-Mansur telah benar-benar membawa kedamaian bagi rakyatnya, sehingga ia disanjung dan dielu-elukan.
Sejarah telah mengukir prestasi gemilang pada masa Dinasti Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di era kemajuan dan kejayaan, dan memimpin peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan Al-Mansur ini merupakan era menuju golden age dalam perjalanan sejarah peradaban islam dunia.

IBRAH DARI KISAH INI:

Al-Mansur, khalifah kedua dari dinasti Bani Abbasiyyah yang oleh para ahli sejarah dikategorikan sebagai pemimpin yang cukup berhasil dan sukses besar. Ia menjadi khalifah dinasti bani Abbasiyah dalam situasi “transisi” (perpindahan dari sisa kekuasaan Bani Umayyah ke dinasti baru yakni Abbasiyah).
Dalam masa transisi tersebut, Al-Mansur telah mampu melewatinya dengan selamat dan kemudian memperkokoh landasan pemerintahan yang baru ini sehingga memungkinkan terjadinya lompatan-lompatan kemajuan baik yang bernuansa religiusitas maupun yang bernuansa humanitas, sehingga terbentuk komunitas sosial politik yang relative aman damai, serta berkualitas.

Yang sangat monumental, adalah kebijakan Al-Mansur membangun ibu kota dan pusat pemerintahan baru yakni Baghdad. Di kemudian hari Baghdad benar-benar menjadi pusat peradaban kelas dunia. Para pelajar/ mahasiswa bukan hanya dating dari berbagai negara Islam saja tetapi dari manca negara khususnya Kawasan Eropa. Mereka telah melakukan transmisi keilmuan dari dunia Islam untuk dikembangkan di negaranya masing-masing. Tidak heran jika dikatakan bahwa kemajuan dunia barat (eropa dan Amerika) sesungguhnya karena mereka peroleh ilmunya dari dunia Islam.

Transmisi keilmuan dunia barat dari dunia Islam dilakukan melalui: mahasiswa yang belajar di Baghdad, Gerakan penterjemahan manuskrip Bahasa arab ke Bahasa inggris, dan melalui perang salib yang mereka manfaatkan untuk merampas “Mutiara” ilmu pengetahuan dari negeri-negeri Islam.
Wallahul Musta’aan illa Sabilirrahmaan.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

Berita sebelumyaNgaji Dino Iki #927: Pentingnya Gizi Makanan Halal
Berita berikutnyaCommunity Chain, Belajar dari Taiwan Atasi Pandemi
Ferry Yudi AS. Asli arek Suroboyo, gemar berpetualang dan mencari hal hal yang baru dan penuh tantangan. Pria yang suka makan sate dan gule ini selain menjadi Wapemred KLIKMU CO- juga sebagai Ketua Majelis pelayanan sosial Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Ketua Ranting Muhammadiyah Jajartunggal, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, Direktur KLIK JODOH MU dan juga Founder sekaligus Owner dari MUST B TRAINING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here