Ibrah Kehidupan #236: Humayun, Kaisar yang Lembut dan Pemaaf (bagian -2 habis)

0
293
Foto diambil dari Wikipedia

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sebagaimana yang telah disebutkan di bagian-1 bahwa “Humayun” adalah gelar bagi Nasiruddin Muhammad. Humayun artinya “Yang disukai oleh Keberuntungan”. Humayun digambarkan dalam biografi oleh adiknya, Gulbadan Begum, sebagai sosok yang sangat lunak. Ia sering kali memaafkan perbuatan-perbuatan yang secara sengaja dilakukan untuk membuatnya marah.

Dalam satu contoh catatan biografi tersebut disebutkan, ketika seorang adik bungsunya, Hindal, membunuh penasihat yang paling dipercayanya, seorang syekh, dan kemudian menyiapkan tentara untuk keluar dari Agra. Alih-alih menindaknya, Humayun mendatangi rumah ibunya, mengatakan bahwa ia tidak memiliki dendam pada adiknya dan memintanya kembali ke istana.

Biografi tersebut menyebutkan, Humayun adalah kaisar yang loyal, lembut, dan manusiawi. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat posisi terhormat berdampingan dengan ayahnya selama Pertempuran Khanwa, padahal saat itu ia baru berusia 17 tahun.
Humayun tertarik pada puisi dan mengagumi Astrologi. Setelah pencapaiannya sebagai Padishah (kaisar), ia mulai mengoordinasi ulang administrasi. Kantor-kantor publik dibaginya menjadi empat kelompok berbeda. Departemen Bumi bertanggung jawab atas pertanian dan ilmu-ilmu tentangnya. Departemen Api bertanggung jawab atas persoalan militer. Departemen Air memegang kendali atas kanal dan saluran air. Departemen Udara memiliki beban tanggung jawab lainnya di luar kewenangan ketiga departemen lainnya.

Menurut biografi tersebut, rutinitas Humayun selalu direncanakan sesuai dengan pergerakan planet. Ia menolak memasuki sebuah rumah dengan mendahulukan kaki kiri. Dan, jika orang lain diketahuinya melakukan hal itu, Humayun akan meminta yang bersangkutan keluar dan kembali masuk dengan mendahulukan kaki kanannya.

Pelayannya, Jauhar, menuliskan dalam Tadhkirat al-Waqiat, Humayun diketahui menembak -kan anak-anak panah ke langit. Sebelumnya, anak-anak panah itu telah ditandai dengan namanya atau nama Shah Persia. Bagaimana anak panah itu mendarat diinterpretasikan sebagai indikasi bagi keduanya tentang bagaimana keduanya bisa mencapai kekuasaan yang lebih besar.

Nasiruddin Muhammad Humayun, Putra kaisar pertama Mughal itu wafat pada 27 Januari 1556. Suatu hari, Humayun sedang turun dari perpustakaan dengan tangan penuh buku sesaat setelah mendengar azan. Telah menjadi kebiasaannya bahwa di mana pun ia mendengar azan, ia akan berlutut untuk menghormati panggilan tersebut. Saat berlutut itulah, kakinya terlilit jubah yang dikenakannya hingga ia terjatuh melewati beberapa anak tangga. Pelipisnya membentur sebuah sudut yang terbuat dari batu dan ia wafat tiga hari kemudian.,

IBRAH DARI KISAH INI :

Di setiap episode kepemimpinan sebuah imperium atau dinasti, pastinya ada ragam karakter para pemimpinnya. Varian ragam karakter para pemimpin itu menjadi bagian pengayaan bagi generasi di belakangnya untuk dijadikan “ibrah” atau pelajaran yang berharga bagi kita semua sebagai generasi penerus perjuangan. Pengayaan itu menjadi bekal sehingga lebih siap untuk memimpin pada episode berikutnya.
Nasiruddin Muhammad Humayun, adalah salah satu dari pemimpin yang memiliki karakter khusus, serta mempunyai integritas yang tinggi.

Meskipun di awal pemerintahan yang dia bangun harus menghadapi persoalan terutama Gerakan-gerakan subversi, pada akhirnya bisa dituntaskan. Itu berkat ketekunan, kesungguhan, dan kerja keras sebagai pemimpin yang merasa memiliki tanggung jawab yang tinggi.

Nasiruddin Muhammad Humayun dikenal sebagai perwira yang kokoh pendirian, tetapi dermawan, dan juga pemaaf terhadap fihak-fihak yang tidak menyukainya. Sikap demikian merupakan poin terpenting dalam salah satu pilar kepemimpinan Islam.
Wallahu A’lamu Bish-shawab.

*Ketua DPD PAN Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here