Ibrah Kehidupan #237: Jalaluddin Muhammad Akbar. Raja Ketiga Berjuluk Shahanshah Akbar e-Azam (Syahan Syah Akbar Azam) yakni Akbar yang Agung (-1)

0
100
Foto diambil dari kumpulan makalahku

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya : Abul Fatih Jalaluddin Muhammad Akbar (Urdu: جلال الدین محمد اکبر , Hindi: जलालुद्दीन मुहम्मद अकबर ). Lebih popular dipanggil Sultan Akbar, atau Raja Akbar, atau Kaisar Akbar.

Beliau dilahirkan pada tanggal 15 Oktober 1542 di kota Umerkot, Sind, dan meninggal dunia pada tanggal 27 Oktober 1605 di kota Fatehpur Sikri, Agra. Ayah kandunya bernama Humayun, sedangkan Ibunya bernama Hamida Banu Begum. Istri-istrinya antara lain Ruqaiya Sultan Begum, Salima Sultan Begum, dan Mariam-uz-Zamani (Jodha Bai). Sedangkan anak-anaknya adalah Hassan, Hussain, Jahangir, Murad, Daniyal, Aram Banu Begum, Shakr-un-Nissa Begum, Shahzadi Khanum, dan Maluki bai.

Waktu itu, ayahnya sang kaisar/ Raja ke-2 dinasti Mughal, Sultan Humayun, sedang dalam pelarian setelah kekalahannya dalam pertempuran Kanauj melawan Sher Shah Suri. Humayun dan istrinya, Hamida Banu Begum, yang pada waktu itu tengah hamil, diberi perlindungan oleh penguasa Hindu, Rana Prasad. Setelah sang anak dilahirkan, maka anak tersebut (Jalaluddin) dan ibunda Hamida Banu Begum tersebut dibawa dan dibesarkan di rumah paman dari pihak ayah, yaitu Kamran Mirza dan Aksari Mirza.

Di sana Jalaludin Akbar diajari teknik berburu dan bertarung menggunakan segala macam senjata, sehingga dirinya menjadi prajurit hebat yang siap menjadi kaisar terhebat di India. Walaupun tidak pernah belajar membaca dan menulis selama masa kecilnya, tetapi hal tersebut tidak mengurangi minatnya akan ilmu pengetahuan. Dia sering meminta untuk dibacakan dan diajari masalah seni dan agama.

Sultan Akbar adalah Sultan Mughal yang ke-3. beliau adalah keturunan Dinasti Timurid yakni dinasti Islam yang didirikan oleh Tamber Lance (Timur Lenk). Sultan Akbar adalah putra dari Sultan Humayun dan cucu dari Sultan Mughal Zaheeruddin Muhammad Babur, penguasa yang mendirikan dinasti Mughal di India. Pada akhir pemerintahannya pada tahun 1605, kesultanan Mughal mencakup sebagian besar bagian utara dan tengah India.
Berbeda dengan pendahulunya, Sultan Akbar paling banyak apresiasi dan dihargai karena memiliki pandangan liberal untuk semua agama dan kepercayaan, selama pemerintahannya seni dan budaya mencapai puncak kejayaan dibandingkan dengan pendahulunya.

Sultan Akbar berusia tiga belas tahun ketika ia naik tahta Mughal di Delhi (pada bulan Februari 1556) setelah kematian ayahnya, Humayun. Selama masa pemerintahannya, ia menyingkirkan ancaman militer dari keturunan Pashtun yang paling berkuasa, Sher Shah Suri, dan di pertempuran Panipat ia mengalahkan seorang raja yang beragama hindu, bernama Hemu.

Di awal pemerintahannya Sultan Akbar membutuhkan waktu hampir dua dekade lebih untuk mengukuhkan kekuatannya dan membawa semua bagian utara dan tengah India menjadi wilayah kekuasaannya.
Salah satu strategi menghadapi kekuatan komunitas Hindu, Sultan Akbar mengukuhkan kekuasaannya dengan strategi diplomasi bersama kasta Hindu yang sangat kuat pimpinan Rajput, yakni dengan menikahi putri Rajput.

IBRAH DARI KISAH INI :

Seorang bayi lahir dalam situasi kurang menguntungkan, yakni di saat sang ayah dan ibu dalam pelarian. Tetapi di kemudian harinya bayi tersebut (Jalaluddin Muhammad Akbar) berhasil menduduki singgahsana kerajaan yakni menjadi Raja ketiga dari dinasti Mughal India.
Pada masa kecilnya Akbar betul-betul dilatih kesiapan mental dan fisiknya agar siap menjadi pribadi yang utuh.

Oleh pamannya, Akbar diajari teknik berburu dan bertarung menggunakan segala macam senjata, sehingga di kemudian hari menjadi prajurit trampil yang hebat bahkan siap menjadi kaisar atau Raja terhebat di India.

Walaupun sejak muda tidak pernah belajar membaca dan menulis secara khusus, tetapi hal tersebut tidak mengurangi minatnya akan ilmu pengetahuan. Dia sering meminta untuk dibacakan dan diajari masalah seni dan terutama syariat ajaran agama islam.

Sultan Akbar, setelah melalui berbagai pelatihan yang tentu saja menghadapi berbagai ujian, kesulitan dan tantangan, akhirnya menuai hasil yang menakjubkan yakni menjadi Sultan yang agung, dan dicintai rakyatnya.

Kiranya benar kata pepatah : Laa Tunaalul ‘Izzatu illaa Bimuruuril Baliyyah (tidak akan tercapai suatu cita-cita atau kemulyan seseorang kecuali pasti melalui berbagai tantangan dan rintangan). Sultan Akbar adalah contoh nyata yang telah melakukannya.

*Ketua DPD PAN Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here