Ibrah Kehidupan #276: Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Syaikh Tuanku Nan Mudo, Ulama dan Reformis Islam Indonesia (-1)

0
72

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada serial berikut ini adalah tokoh dan ulama dari Sumatera barat. Beliau adalah ayahanda dari Buya Hamka, yakni Dr. (HC) H. Abdul Karim Amrullah.
Dinukil dari beberapa sumber antara lain (http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com), bahwa Dr. H. Abdul Karim Amrullah, lahir dengan nama Muhammad Rasul di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 10 Februari 1879 bertepatan dengan 17 Syafar 1296 Hijriah. Pada masa kecilnya, beliau diberi nama Muhammad Rasul, namun setelah menunaikan ibadah haji, namanya diganti menjadi Abdul Karim Amrullah.
Dr. H. Abdul Karim Amrullah dijuluki sebagai Haji Rasul, adalah ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia. Ia juga merupakan pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Ia bersama Abdullah Ahmad menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir.


Beliau juga dikenal dengan panggilan “Inyiak De-er” (Dr.), karena pada tahun 1926 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir dalam bidang agama. Ayahnya bernama Syekh Amrullah atau Tuanku Kisai atau dalam beberapa literatur sering ditulis dengan Syekh Amrullah Tuanku Kisa-i, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah di Maninjau.


Dr. H. Abdul Karim Amrullah di masa kecil termasuk anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia belajar di pendidikan elementer tradisional dan mengaji di surau-surau. Sekitar usia 10 tahun, ayahnya menyuruh beliau mengaji Al-Qur`an kepada Muhammad Shalih dan Haji Hud di Tarusan, Pesisir Selatan. Setahun kemudian, ia belajar berbagai ilmu agama kepada ayahnya, Syekh Amrullah di Sungai Batang, Maninjau.
Pada usianya memasuki 15 tahun ia berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama atas perintah ayahnya. Dalam kepergiannya ini, ia tinggal di Mekkah selama lebih kurang 7 tahun (1894-1901) dan selama di sana ia belajar kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Taher Jalaluddin, Syekh Muhammad Djamil Djambek (ketiga guru itu berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat), Syekh Abdul Hamid, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Shalih Bafadal, Syekh Hamid Jeddah, Syekh Sa’id Yamani.


Sekembalinya dari Mekkah tahun 1901, ia dinobatkan sebagai seorang ulama muda dengan gelar Syekh Tuanku Nan Mudo, sedangkan ayahnya, Syekh Muhammad Amrullah diberi gelar Syekh Tuanku Nan Tuo dengan suatu upacara. Tuanku Nan Tuo beraliran lama, sedangkan Tuanku Nan Mudo seorang pemuda yang membawa aliran baru. Pada tahun 1904 ia kembali ke Makkah dan kembali ke kampungnya tahun 1906.


Kepergian yang kedua kalinya ini, disuruh ayahnya untuk mengantar adiknya belajar di sana. Namun, kesempatan ini dimanfaatkannya untuk mengajar pada halaqah sendiri di rumah Syekh Muhammad Nur al-Khalidi di Samiyah atas izin dari Ahmad Khatib. Namun demikian, ia sering bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib mengenai masalah-masalah (agama) yang dianggap rumit.


Usaha yang pertama dilakukan setelah kepulangannya dari Makkah untuk kedua kalinya adalah menumpas faham taqlid, bid’ah, dan kurafat yang bercampur-baur dengan ajaran agama. Untuk itu, ia aktif memberikan pengajian, tabligh, diskusi-diskusi atau polemik-polemik dengan orang-orang yang memper-tahankannya. Hal ini dilakukannya, bukan saja di Sungai Batang, Maninjau, kampung halamannya sendiri, akan tetapi juga sampai ke Bukittinggi, Padang Panjang, Matur, Padang, dan berbagai pelosok Minangkabau.

IBRAH DARI KISAH INI:
Dr. H. Abdul Karim Amrullah, yang juga dikenal dengan panggilan “Haji Rasul” merupakan salah satu ulama reformis Islam di Indonesia. Ulama yang pertama kali mendapat gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.


Meskipun secara umur tergolong muda (generasi baru) di bawah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi seorang ulama besar asal Minangkabau yang bermukim di Makkah dan imam di masjidil Haram, tetapi Dr. H. Abdul Karim Amrullah termasuk ulama dan intelektual yang mendalam agamanya dan luas wawasan keilmuannya.


Jika Ayahnya Syaikh Muhammad Amrullah termasuk ulama’ tradisional (gaya lama) guru tarekat Naqsyabandiyah, maka Dr. H. Abdul Karim Amrullah termasuk Ulama modern. Hal ini wajar karena pernah mukim di Makkah sekitar 7 (tujuh) tahun pada haji yang pertama, dan mukim di Makkah selama 2 (dua) tahun pada haji yang kedua. Sehingga beliau banyak bersentuhan dengan alam pikiran para ulama pembaharu di kawasan timur tengah.
Nashrun Minallah, Wa Fathun Qariib, Wa Basy-syiril Mukminin.

*Ketua DPD PAN Kota Surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini