Ibrah Kehidupan #288: Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Sejalan dengan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, Beliau Pun Mendirikan Muhammadiyah di Minangkabau(Habis)

0
15

KLIKMU CO-
Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Pada tahun 1925, ia melawat ke Jawa untuk yang kedua kalinya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, terutama dengan H. Fakhruddin. Dalam pertemuan itu mereka saling mengungkapkan perkembangan Islam di daerah mereka masing-masing. Ia tertarik dengan organisasi Muhammadiyah, karena disamping ideologinya mengacu kepada ajaran al-Qur`an dan Hadis, juga amal usahanya mencakup berbagai aspek ajaran Islam, seperti menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah, melaksanakan amal sosial dengan mendirikan rumah-rumah pemeliharaan anak yatim dan fakir miskin.


Sekembalinya ke kampung, ia menceritakan pengalamannya kepada kawan-kawannya mengenai organisasi Muhammadiyah dan amal usahanya dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Pada tahun itu juga ia mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang, Maninjau melalui lembaga Sendi Aman yang didirikan tahun 1925. Setelah Sendi Aman menjalankan misi Muhammadiyah, lembaga ini berkembang dengan cepat dan sekaligus menjadi basis pertama Muhammadiyah di Minangkabau.


Haji Rasul (Dr. H. Abdul Karim Amrullah) sangat aktif dalam gerakan pembaharuan Islam. Sistem sekolah reformis Muslim yang melahirkan Persatuan Muslim Indonesia atau PERMI. Ia juga aktif menentang komunisme serta intervensi yang dilakukan Belanda dalam hal pendidikan. Kelompok di Minangkabau yang amat dirugikan ialah para kaum adat tradisional, khusunya kelompok Takrikat Naqsabandiah. Ajaran yang paling ditentang oleh sang reformis ini ialah mengenai praktik-praktik yang menggunakan rabitah (mistik).


Beliau juga yang membawa Muhammadiyah ke Minangkabau karena dianggap sepemikiran dengan KH. Ahmad Dahlan (sang pendiri Muhammadiyah) yakni menghendaki modernisme atau reformisme ajaran Islam terhadap pemahaman sebagian umat islam yang selama ini banyak yang salah dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Karena pemikirannya itu, ia banyak mendapat ancaman dari pihak kolonial, beberapa kali ia dipenjara, namun tetap tidak mengurungkan niatnya untuk berjihad dijalan dakwah. Dia juga tidak setuju kepada tokoh-tokoh(ulama) Indonesia yang memilikin sikap cooperative dengan penjajah.
Bersama H. Abdullah Ahmad, pada 1926, Syekh Abdul Karim menghadiri kongres Khifalah di Mesir sebagai utusan PGAI. Karena pidato singkat Syekh Abdul Karim dan pemikiran baru keduanya, kedua ulama Minangkabau ini menjadi pusat perhatian peserta kongres. Salah satu yang jadi perhatian adalah pakaian yang dikenakan Syekh Abdul Karim Amrullah, berjas dan berdasi. Saat ada yang menanyakan kenapa tidak menggunakan pakaian yang biasa digunakan ulama, Haji Rasul menjawab, “Di negeri kami, ilmu itu bukan di sudut jubah atau surban, tetapi di dada dan tahan uji.”


Atas usul Sayid Abdul AZiz As Salaki, seorang penasehat Islam Irak, dibentuk panitia untuk menyelidiki riwayat perjuangan kedua utusan PGAI itu dalam agama Islam di Sumatra. Para syekh dari berbagai negara mengusulkan agar keduanya diberi gelar doktor honoris causa. Guru Besar Al Azhar Syekh Husain Wali yang menjadi ketua kongres kemudian mengesahkan gelar tersebut. Sejak itulah, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Syekh Abdullah Ahmad mendapat gelar doktor di belakang namanya.


Dr. H. Abdul Abdul Karim Amrullah meninggal dunia pada 2 Juni 1945 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Kecamatan Tanjung Raya, Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang. Pada mulanya makamnya berada di Jakarta dan kemudian dipindahkan ke Maninjau. Di sisi makam beliau dimakamkan adiknya yang bernama Syech Yusuf Amrullah yang lahir pada tanggal 25 April 1889 dan wafat pada tanggal 19 Oktober 1972. Pada saat ini, komplek makam dilengkapi dengan perpustakaan.

IBRAH DARI KISAH INI:
Haji Rasul (Dr. H. Abdul Karim Amrullah), benar-benar seorang ulama intelektual yang sangat inspiratif. Kedalaman agamanya sangat mumpuni, keluasan ilmunya juga sangat memadai, dan jarang dimiliki orang pada zamannya.


Beliau seorang reformis Islam dengan sejumlah kegiatan nyata baik melalui dakwah atau tablighnya, melalui lembaga pendidikan yang dibangunnya bersama sahabat-sahabatnya, dan juga melalui tulisan-tulisannya dalam banyak majalah yang diterbitkannya.


Ketika melakukan lawatannya di Jawa sempat berdiskusi dengan para tokoh pergerakan terutama H. Fakhruddin tentang Islam dan umat Islam. Singkat kata Beliau merasa sama dan sepemikiran tentang Muhammadiyah. Akhirnya sekembalinya ke kampung halamannya Sumatera barat, mendirikan Muhammadiyah.
Subhanallooh.

*Ketua DPD PAN Kota Surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini