Ibrah Kehidupan #289: Buya Hamka.Ulama dan Sastrawan Indonesia Terkemuka.

0
22

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Nama lengkapnya: Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Popular dengan panggilan Hamka (Hamka itu sendiri sejatinya adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Nama aslinya “Abdul Malik” sedangkan Ayahnya bernama “Abdul Karim Amrullah” seorang ulama besar di Sumatera Barat. Ibunya bernama: Sitti Shofiah.


Hamka Lahir pada tanggal 17-Februari-1908 M. di desa Sungai Batang, Tanjung Raya, Onderafdeeling Oud Agam, Hindia Belanda. Meninggal pada tanggal 24 Juli 1981 (dalam usia 73 tahun). Isteri: Sitti Raham Sitti Khadijah. Putra-putrinya: Rusydi Hamka, Irfan Hamka, Aliyah Hamka, Afif Hamka, Hisyam Hamka, Husna Hamka, Fathiyah Hamka-Vickri, Helmi Hamka, Syakib Arsalan Hamka, Azizah Hamka, Fachry Hamka, dan Zaki Hamka.


Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, populer dengan nama penanya Hamka (literasi Arab: عبد الملك كريم أمر الله‎; 17 Februari 1908 – 24 Juli 1981) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia sempat berkecimpung di politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan.


menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan (HC), sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.


Nama Hamka diabadikan menjadi nama untuk Universitas Hamka (UHAMKA) milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia
Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka remaja sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa pada tahun 1924. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padang Panjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki ijazah diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah.
Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Setelah menikah, ia kembali ke Medan dan menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.
Selama revolusi fisik Indonesia, Hamka bergerilya di Sumatra Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Semula Hamka mendapat pekerjaan di Departemen Agama, tapi ia mengundurkan diri karena terjun di dunia politik.


Dalam pemilihan umum 1955, Hamka terpilih duduk di Konstituante mewakili Masyumi. Hamka terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Masyumi menentang komunisme dan menolak sistem Demokrasi Terpimpin mempengaruhi hubungan Hamka dengan Presiden Soekarno.


Setelah Masyumi dibubarkan sesuai Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang sempat dibredel oleh Soekarno setelah menurunkan tulisan Hatta yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden berjudul “Demokrasi Kita”. Seiring meluasnya komunisme di Indonesia, Hamka diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Dalam keadaan sakit sebagai tahanan, ia merampungkan Tafsir Al-Azhar.

IBRAH DARI KISAH INI:
Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), tokoh Islam ini berbeda dan agak unik dibandingkan dengan tokoh-tokoh terdahulu. Tokoh ini multi talent, yakni selain Ulama besar, juga seorang wartawan, sastrawan, kolumnis, dan juga novelis. Hal ini jarang dimiliki oleh Ulama di zamannya.


Hamka tercatat sebagai politikus yang handal tatkala pemilu pertama tahun 1955, beliau duduk di lembaga konstituante mewakili “Masyumi”. Ketegasannya sebagai wakil rakyat terutama ketika menolak ideologi komunis, dan menentang sistem demokrasi terpimpin.


Sikap tegasnya bukan tanpa resiko. Hamka harus keluar masuk penjara, dinista, bahkan dianggap subversib. Tetapi Hamka yang sampai akhir hayatnya aktif di Muhammadiyah ini ternyata kokoh pendiriannya biarpun berhadapan dengan oknum-oknum komunis yang ada di pemerintahan.
Hamka hampir bisa dipastikan tidak pernah surut dan menyerah menghadapi berbagai hambatan dan rintangan di semua medan baik di ormas kemasyarakatan (Muhammadiyah) maupun di ranah politik. Kharisma dan wibawa Hamka sebagai tokoh umat secara nasional sejatinya memang “temurun” dari sang Ayah dan Kakek yang memang tercatat sebagai ulama besar di Sumatera barat.

*Direktur Ma’had Umar bin Khattab UMSurabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini