Ibrah Kehidupan #165: Walid bin Abdul Malik, Penggemar Arsitektur, Pembangun pertama Menara masjid Nabawi (-1)

0
423
Foto diambil dari blogger Harian Islam Agamaku

KLIKMU.CO-

Oleh : Kyai Mahsun Djayadi *

Nama lengkapnya, Al-Walid bin Abdul Malik (Arab: الوليد بن عبد الملك‎), bin Marwan, bin Hakam, bin Abil ‘Ash, bin Umayyah, bin ‘Abdis-Syams. Lebih popular dengan panggilan Walid bin Abdul Malik, atau “Al-Walid” saja.

Lahir di Madinah tahun 668.
Ibundanya bernama Walladah binti al-Abbas. Sedang isteri-isterinya : Ummu ‘Abdullah binti ‘Abdullah, ‘Izzah binti ‘Abdul ‘Aziz, Ummul Banin binti ‘Abdul ‘Aziz, dan Syah-i Afrid binti Firosy. Walid bin Abdul Malik dikaruniai 5 (lima) anak : ‘Abdul ‘Aziz, Yazid, Ibrahim, Masrur, dan Al-Abbas.
Walid bin Abdul Malik, adalah khalifah keenam dari dinasti Bani Umayyah, yang berkuasa pada tahun 705 – 715.

Dia berasal dari Bani Umayyah trah/ wangsa Marwani. Walid bin Abdul Malik mewarisi tampuk kekhalifahan dari ayahnya Abdul Malik bin Marwan, dan nantinya diteruskan oleh saudaranya yakni Sulaiman bin Abdul Malik.

Al-Walid (Walid bin Abdul Malik) lahir pada tahun 668 di masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia merupakan putra tertua dari ayahnya, ‘Abdul Malik bin Marwan.

Pada masa kekhalifahan kakeknya, Marwan bin Al-Hakam, ‘Abdul Malik ditetapkan sebagai putra mahkota dan saudara ‘Abdul Malik, yakni ‘Abdul Aziz, ditetapkan sebagai putra mahkota kedua. Dengan demikian, saat ‘Abdul Malik menjadi khalifah, ‘Abdul ‘Aziz berada di urutan pertama sebagai pewaris sepeninggal ‘Abdul Malik.

‘Abdul Malik berkeinginan agar takhta diwariskan kepada putranya, tetapi ‘Abdul ‘Aziz menolak menyerahkan statusnya. Namun perselisihan dapat dihindari lantaran ‘Abdul ‘Aziz meninggal dunia pada Mei 705. Lima bulan kemudian, ‘Abdul Malik juga meninggal dunia. Al-Walid kemudian mewarisi tampuk kekhalifahan tanpa ada halangan. Dengan kata lain tidak ada penentangan yang berarti atas kedudukan Al-Walid sebagai khalifah sebagaimana pada masa tiga khalifah pendahulunya.

Al-Walid merupakan penggemar arsitektur dan memerintahkan melakukan berbagai pembangunan di masanya. Sekitar tahun 701 pada masa kekuasaan ayahnya, Al-Walid memerintahkan pembangunan Jami’ Al-Aqsha, tempat shalat di Masjid Al-Aqsha bagian selatan. Pada tahun 707, Al-Walid memerintahkan perluasan Masjid Nabawi di Madinah. Untuk pertama kalinya, menara masjid dibangun dengan didirikannya empat menara di Masjid Nabawi.

Al-Walid juga memerintahkan pembangunan jalan dan sumur-sumur di Hijaz. Di Damaskus, Al-Walid mengubah basilika Kristen yang dipersembahkan untuk Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya dalam Islam) menjadi masjid agung. Basilika ini sendiri awalnya adalah kuil Romawi untuk pemujaan Dewa Yupiter. Masjid ini, kemudian dikenal dengan Masjid Agung Umayyah, selesai dibangun pada 715, beberapa saat setelah Al-Walid wafat.

Sebuah sumber riwayat menyebutkan bahwa kepala Nabi Yahya dikebumikan di kompleks masjid ini.

Al-Walid juga termasuk yang pertama membangun rumah perawatan untuk tunagrahita dan membangun rumah sakit pertama yang menampung mereka sebagai bagian dari layanannya. Setiap penderita juga memiliki perawat yang ditugaskan merawat mereka. Dia juga mengembangkan sistem kesejahteraan, lembaga pendidikan, dan langkah-langkah untuk apresiasi seni.

*IBRAH DARI KISAH INI :*

Al-Walid (Walid bin Abdul Malik), benar-benar mengharungi tahapan kehidupannya dalam situasi yang “nyaman” bak air mengalir. Begitu jernih air pegunungan itu mengalir dengan derasnya, menghidupi alam sekitarnya. Al-Walid benar-benar “hidup” dan “menghidupi”.

Tetapi, lagi-lagi semuanya itu bukan instan melainkan melalui tahapan yang terukur. Basis keagamaan yang kuat (dalam setiap pidato selalu menyertakan ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadits sebagai penguat/ dalil atas pikiran-pikirannya), dan basis keilmuan yang dinamis telah mengantarkan Al-Walid sebagai sosok pemimpin yang berwibawa, bahkan para ahli sejarah menyebut bahwa Al-Walid telah mampu mengangkat dinasti Bani Umayyah menjadi model pemerintahan yang maju, dinamis, dan bermartabat.

Kebijakan yang monumental adalah pertama kalinya membangun “Menara” masjid Nabawi di Madinah dengan 4 (empat) buah Menara yang anggun nan indah. Dari waktu ke waktu direnovasi dan diperindah sebagaimana yang kita lihat saat ini. Dan jangan lupa bahwa Walid bin Abdul Malik memiliki darah seni dan bahkan pecinta arsitektur.

Wahai generasi 1912. Satu hal lagi yang patut dicatat adalah bahwa Al-Walid juga dikenal karena kesalehan pribadinya dan banyak riwayat menyebutkan bahwa ia terus-menerus mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, dan selalu menjadi tuan rumah yang menyajikan jamuan besar untuk orang-orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan.
Subhanalloh.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here