Ibrah Kehidupan #183 : Shalahuddin al-Ayyubi, Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya (-1)

0
185
Foto diambil dari Muslim Obsession

KLIKMU CO-

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sebelum mengedepankan sosok Shalahuddin al-Ayyubi, perlu ditampilkankan lebih dulu sosok dan peran Najmuddin Ayyub (Ayah dari Shalahuddin al-Ayyubi), karena Najmuddin Ayyub inilah yang “menurunkan” dan mewariskan Kepahlawanan kepada Shalahuddin al Ayyubi.

Pada seri pertama ini saya akan fokuskan lebih dulu pada sosok Najmuddin Ayyub, seorang kesatria, pahlawan yang berintegritas tinggi, religious, serta memiliki loyalitas serta komitmen perjuangan yang mantap. Kepribadian tersebut telah “melimpah” kepada putranya “Shalahuddin al-Ayyubi”.

Kota Duwin (Armenia), perbatasan Azerbaijan, menjadi saksi bisu kelahiran ksatria Muslim kenamaan yang di kemudian hari melahirkan pahlawan agung pembebas Al-Quds dari cengkeraman tentara Salib dan Mesir dari pengaruh Dinasti Syi’ah Fathimiyah.

Dalam literatur sejarah, figur ini dikenal sebagai seorang pemberani. Di medan tempur, ia pantang mundur. Jika badan sudah berada di arena juang, dengan nyali tinggi akan melawan siapa pun yang menghadang. Sosok ini bernama Najmuddin Ayyub. Sedangkan anaknya adalah Shalahuddin Al-Ayyubi.

Ungkapan “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” demikian kata peribahasa masyhur untuk menggambarkan figur Shalahuddin al Ayyubi. Di balik kepahlawanan, keagungan, ksatriaan, kehebatan dan kepopulerannya dalam belantika sejarah, setelah takdir Allah swt, tidak bisa dilepaskan dari “tangan dingin” yang telah mengukirnya, yakni Najmuddin Ayyub.

Nama lengkap Najmuddin Ayyub, adalah : Ayyub bin Syadzi, bin Marwan, bin Ya’qub al-Amir, Najmuddin Abu al-Syukr, Ad-Duwini. Dikenal dengan panggilan Najmuddin. Dialah dengan ketelatenannya, dan juga atas dukungan istri dan saudaranya mampu mencetak kader brilian yang sumbangsihnya bagi umat Islam begitu besar.

Menurut beberapa sejarawan Muslim, Najmuddin Ayyub memiliki beberapa keistimewaan yang sangat cukup fenomenal. Setidaknya, bisa dikerucutkan menjadi tiga kata kunci: Pertama, taat beragama. Kedua, pemberani. Ketiga, dermawan.

Najmuddin Ayyub, dalam sejarah dikenal sebagai pribadi yang taat beragama. Ibadah seperti Shalat, puasa dan yang lainnya, begitu dijaga. Sampai-sampai, selain masjid, ayah Shalahuddin ini memiliki tempat khusus untuk menyendiri beribadah baik di Mesir maupun di Damskus yang disebut dengan An-Najmiyah.

Shalahuddin al-Ayyubi, hidup dalam didikan keberanian pada nuansa militer yang cukup ketat di benteng Tikrit. Ia dilatih kesatriaan, berenang, bela diri, dan seni perang oleh ayahnya. Maka sangat lumrah jika pada usia 14 tahun, dirinya sudah dilibatkan dalam ekspedisi militer.

Lebih dari itu, berkat didikan ayahnya, (menurut catatan Muhammad Ash-Shayim), Shalahuddin al-Ayyubi mampu menghafal al-Qur`an ketika berumur sepuluh tahun. Bahkan ia rajin hadir dalam majelis ilmu fikih, hadits dan tafsir. Tanpa didikan keagamaan yang baik, tak mungkin Shalahuddin al-Ayyubi bisa menjadi pribadi yang taat beragama.

Shalahuddin al-Ayyubi, juga mewarisi kedermawanannya sang Ayah (Najmuddin Ayyub). Begitu dermawannya, sampai-sampai ketika Shalahuddin wafat, meski sebagai penguasa, dalam simpanannya hanya tersisa perak berjumlah 40 dirham Nashiriyah dan emas hanya satu gram Shuri. Kekayaan yang dimiliki Shalahuddin hampir habis untuk kepentingan agama dan sosial.

IBRAH DARI KISAH INI:

Shalahuddin al-Ayyubi, tokoh legendaris yang (pada seri berikutnya nanti) dikenal sebagai pahlawan agung, kesatria yang sangat relegius, dan memiliki karateristik : taat beribadah, pemberani, dan sangat dermawan.

Tetapi jangan lupa, ke tiga karakteristik utama tersebut sejatinya adalah karakter yang dimiliki sang Ayah yakni Najmuddin Ayyub.

Sang Ayah Najmuddin Ayyub, merupakan profil Ayah yang nyaris sempurna dalam hal keutuhan kepribadiannya, sehingga pantas mampu menurunkan seorang kader yang militant di kemudian hari, yakni “Shalahuddin al-Ayyubi”.

Benar kata pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Bahwa kepribadian Shalahuddin al-Ayyubi sejatinya merupakan “foto copy” dari lembaran aslinya, yakni Najmuddin Ayyub.

Wahai kader pejuang Islam berkemajuan, sebuah agenda besar sekaligus pertanyaan ideologis : sudahkah anda menyiapkan perisai diri anda dengan kepribadian yang luhur? Sudahkah anda menyiapkan generasi (anak-anak anda) yang kesatria, pemberani, dan bermilitansi?

Perjuangan dakwah kita adalah perjuangan dakwah sepanjang masa. Jika kita “menanam” pohon atau biji-bijian yang  berkualitas, maka buah-nya nanti yang akan “memetik” belum tentu kita sendiri melainkan anak cucu kita nanti.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here