Ideologi Muhammadiyah Dahlaniyah

0
889
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Dahlaniyah bukan kultus, tapi conduct of moral dalam berkhidmat di Persyarikatan. Kultus adalah alasan klasik untuk memutus tali rahim ideologis Kiai Dahlan dan gerakan Muhammadiyah. Agar tiada lagi frasa Muhammadiyah rasa salafi, rasa FPI, atau rasa lainnya akibat kekosongan ideologi.

Jika diminta memilih mengikuti Prof Amien, Buya Syafii, Prof Din atau Prof Haedar, saya memilih Guru Agung Kiai Haji Ahmad Dahlan dalam memikir dan menggerakkan Peryarikatan tanpa mengurangi rasa takzim kepada keempatnya atau ulama lainnya yang telah berjasa.

Sebab semua kita adalah pengikut Kiai Ahmad Dahlan dalam hal pergerakan. Dengan kelebihan dan kekurangannya. Saya tidak tau mana di antara keempat Ketua PP yang masih ‘sugeng’ itu yang paling mendekati Kiai Ahmad Dahlan dan paling layak diikuti.

Ironis jika ideologi Dahlaniyah ditampik, tapi berbalik mengembangkan idelogi baru yang sesuai dengan yang dimaui. Bukankah pergerakan ini adalah Perserikatan. Federasi pemikiran, ide, gagasan, dan amal.

Lantas apa ideologi Dahlaniyah itu? Jujur belum ada sama sekali kajian komprehensif tentang pemikiran dan gerakan Kiai Dahlan yang menggambarkan ideologinya secara utuh dan komprehensif. Saya tak tau mengapa? Padahal berkumpul banyak orang pintar dan ahli riset yang berserak di berbagai pusat kajian di semua universitas. Kenapa belum ada ikhtiar membuat riset ideologi Dahlaniyah sebagai kredo?

Maaf bila saya berpikir dan menyangka yang tidak baik. Bagaimana kalau ini kesengajaan. Sengaja membenamkan ideologi Dahlaniyah dan menggantinya dengan ideologi baru yang sesuai dengan kehendak pimpinan dalam kurun tertentu. Ideologi Dahlaniyah justru terhalang kalau tidak boleh dikatakan sengaja dibenamkan dalam riuh ideologi baru yang katanya modern tapi tidak baku.

Realitas macam ini menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan dengan ideologi sangat terbuka, sangat bergantung pada pimpinan yang pegang. Apakah menjadi modernis, puritan, bahkan radikal amat bergantung siapa yang pegang pimpinan. Bersifat fluktuatif.

Tidak ada blueprint ideologis yang ditahdidz sebagai conduct of moral yang mengikat. Hanya ada anggaran dasar, anggaran rumah tangga yang sudah mulai dianggap usang atau matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah atau kepribadian Muhammadiyah yang sudah mulai ditinggalkan karena absurd. Karena tidak semua pimpinan di setiap level punya apalagi baca.

Lantas KiAI Ahmad Dahlan ada di mana? Dari mana bisa belajar dan mengenal Kiai Dahlan dari dekat? Bila tidak bersungguh sungguh nyantri kepadanya. Bagaimana bila ber-Muhammadiyah hanya karena kebetulan: kebetulan bekerja sebagai karyawan di aum atau kebetulan tidak suka selamatan karena memang pelit?

Mengatakan bahwa Dahlaniyah itu tidak perlu sambil mengagumi pendapat sendiri atau ulama lain juga ironis. Apalagi hanya berbekal jargon kembali kepada Al-Quran dan as Sunah, bukankah Salafi-Wahabi juga punya jargon sama, jadi apa yang membedakan?

Ideologi Dahlaniyah dan Muhammadiyah bukan setara, tapi bagaimana jika ideologi Dahlaniyah diperankan sebagai conduct of moral dalam ber-Muhammadiyah? Tegasnya, Muhammadiyah itu nama Persarikatan sedang Dahlaniyah adalah ideologinya. Hal ini penting mengingat tantangan dan kompetisi atas berbagai ideologi dan manhaj Muhammadiyah pada abad kedua.

Satu kata tentang ideologi. Ideologi NU: Aswaja. Ideologi Salafi : Wahabi. Ideologi HTI, FPI, dan Ikhwan: Tarbiyah. Ideologi China dan Rusia: Komunis. Ideologi Kristen-Protestan: puritanisme atau Calvinis. Ideologi Eropa dan Amerik: liberal-sekuler. Ideologi Jepang; Takugawa. Ideologi Indonesia: Pancasila.

Jadi, ideologi Muhammadiyah apa?

Dahlaniyah saya bilang… (*)

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here