Idu Geni dan Peran Guru yang Didegradasi

0
60
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Pada awalnya guru digambarkan sebagai sosok pintar dan serbatahu, tempat rujukan segala soal. Hidup menyendiri di pesanggrahan atau padepokan tempat di mana para murid belajar dan mendapat pengalaman hidup. Guru dikelilingi para murid yang membawa pensil
dan kertas catatan.

Guru adalah manusia linuwih dengan berbagai keterampilan dan kesaktian yang dimiliki. Mengajar dan memberi banyak pengalaman kepada para murid yang kelak berguna setelah turun di masyarakat.

Guru, sosok yang digugu dan ditiru. Dipercaya kemudian diteladani. Meski tidak demikian maksudnya. Dalam mitologi Jawa, guru adalah personifikasi manusia linuwih atau insan kamil baik dalam aspek fisik maupun nonfisik. Guru ditagih mampu mengelola batin dan nalar sekaligus.

Kedewasaan berpikir dan menalar juga kematangan mengelola batin. Guru adalah sosok sentral dan fundamen di tengah perubahan masyarakat yang terus berubah. Ia adalah manusia yang tangannya layak dicium dan kakinya pantas diusap.

Peran guru demikian penting saat pengetahuan berjumlah masih sangat sedikit dan terbatas, seakan guru berikut padepokan atau pesanggrahan yang dikelola menjadi satu-satunya gerbang ilmu pengetahuan. Kemudian ilmu yang masih terbatas itu diberikan dengan cara “mencicil”, sedikit demi sedikit kemudian dievaluasi dan dilakukan proses uji untuk mengetahui seberapa banyak murid menyerap ilmu guru.

Pada kurun ini murid tak boleh menatap wajah sang guru, apalagi bertanya, agar ilmu yang didapat tidak kehilangan berkah. Dalam bahasa Al-Quran disebut ‘qaulan tsaqila’ kata-kata sang guru begitu mantab berkesan tak mudah dilupakan para murid. Metode belajar tak penting. Sebab kata guru adalah ‘idu geni’ yang tak mudah dilupa. Sebab, guru bukan hanya piawai dalam olah nalar tapi juga kuat dalam olah rasa dan olah batin. Dua hal yang saat ini sangat langka.

Pada masa sekarang nilai itu telah berubah. Pengajaran guru mengalami modernisasi, kemudian hilang sakral. Untuk mempermudah proses transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada murid yang kemudian disebut “proses belajar mengajar” diperlukan berbagai metode belajar. Maka dikembangkanlah berbagai riset dengan biaya tinggi untuk inovasi pengajaran. Akibatnya, guru hanya bagian kecil dari proses belajar. Bahkan perlahan mengalami marginalisasi di ruangnya sendiri. Guru ada, tapi tak lebih sama dengan perangkat belajar lainnya.

Saat ini telah terjadi “ledakan ilmu pengetahuan”. Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, bahkan sekolah juga bukan lagi satu-satunya gerbang ilmu pengetahuan lagi. Sebaran ilmu pengetahuan tak lagi bisa dikendalikan, peran guru dan sekolah mengalami krisis kepercayaan dan delegitimasi.

Guru tak lagi sakti sebab ia harus diawasi oleh banyak lembaga dan komisi. Hari ini kita tak lagi menjumpai sang guru memegang penggaris kayu besar untuk murid yang nakal karena tak mengerjakan PR, atau tongkat kecil untuk memukul jemari karena kuku hitam yang lama tak dipotong.

Tak ada lagi pendidikan tentang baik dan buruk, yang dikedepankan adalah pengajaran benar dan salah. Bukankah guru telah diikat tangan dan kakinya oleh banyak aturan dan pengawasan.

Pada sisi lain guru sering kali ditinggal oleh pengetahuan itu sendiri. Dalam beberapa kasus, peran guru tak lebih sekadar tukang memberi angka-angka pada rapor yang dibagi setiap satu semester sekali. Dan sosok sibuk karena tuntutan administrasi sertifikasi.

Peran sentral guru harus dikembalikan. Guru bukan alat, apalagi bagian dari perangkat pembelajaran. Reformasi peran guru tak lagi bisa ditawar. Agar pendidikan tak hilang sakral. Sebab, guru akan memberikan kita pelajaran tentang humanitas agar murid menjadi manusia. Bukan makhluk tanpa adab penuh cela.

Kita hidup di zaman di mana HAM menjadi berhala. Egalitarianisme dan demokratisasi di semua lapis kehidupan menjadi rujukan: Semua manusia dihargai sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Begitu kira-kira yang diajarkan oleh para guru di zaman sekarang. mencium tangan guru dianggap feodal. Apalagi membungkuk atau sekedar membawakan tas bawaan. Itu diskriminatif sesuatu yang bertentangan dengan semangat modernitas.

Murid boleh bertanya apapun termasuk diskusi dan mendebat sang guru. Pendidikan modern memposisikan guru hanyalah bagian dari patahan-patahan proses pembelajaran atau dari sub-sistem dan keseluruhan sistem dari proses belajar. Jadi guru sama kedudukannya dengan lap top, LCD proyektor, papan tulis atau kapur.

Sampai di sini guru kehilangan fungsi humanitas yang memanusiakan. Terjebak pada transformasi materi bukan nilai. Menjadi semacam tukang pemberi angka-angka pada rapor yang dibagi setiap satu semester sekali. Modernitas mengajarkan kesetaraan, menghapus kelas dan status. Apapun yang berlawanan dianggap feodal. Lantas apa yang guru ajarkan dan yang murid dapatkan dalam model pengajaran seperti itu.

Berdiri dan agungkanlah gurumu karena kedudukan guru hampir seperti seorang utusan. Adakah engkau tahu siapa kira-kira yang lebih mulia dan agung menyamai pendidik yang membangun dan membentuk karakter manusia?

Ditanyakan kepada Raja Iskandar Dzulqarnain abad III sebelum masehi: Mengapa engkau begitu mengangungkan gurumu dibanding ayahmu? Iskandar Yang Agung menjawab: Ayahku yang mengantarkan aku dari ketiadaan menuju alam fana ini, sedangkan guruku yang mengantarkanku dari alam fana ini menuju alam yang tak berkesudahan (baqa’)

Imam Syafii bercerita: Aku sangat berhati-hati membuka lembaran kitab di hadapan guruku (Imam Malik pengarang kitab muwattha’) khawatir bunyi kitabku terdengar oleh beliau dan mengganggunya

Imam Rabi’ murid Imam Syafii bercerita juga: Aku tidak punya kekuatan mengangkat wadah air ketika aku haus jika guruku (Imam Syafii) melihatku

Al Atha’ murid Imam Malik
menunggu sepi hingga semua temannya pulang untuk menyampaikan hadits tentang menyelai jari saat berwudhu. Tak satupun para murid berani berkata lebih keras ketimbang suara gurunya atau sekedar tertawa kecil dihadapan para guru.

Ini bukan feodal, tapi adab. Ini bukan sikap egaliter, tapi kesantunan. Para murid berdiri saat guru datang dan tidak duduk sebelum gurunya duduk ini bukan sikap diskriminatif, tapi kerendahan hati dan tawadhu. Lantas apa yang diajarkan sekarang?
Wallahu a’lam.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here