Ilmu Sosial Punya Peluang Besar Tangani Krisis Pandemi

0
129
Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi memberikan sambutan di acara International Conference on Humanities and Social Science (ICHSoS). (Wildan/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Sukses mengadakan International Conference on Education and Psychology (ICEduPsy) beberapa minggu lalu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar konferensi internasional kedua bertajuk International Conference on Humanities and Social Science (ICHSoS). Agenda ini diprakarsai oleh Fakultas Ilmu Sosial & Politik (FISIP) dan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) pada 18-19 Juni. Mengusung tema Social and Political Issues on Sustainable Development in Post Covid-19 Crisis, acara ini melibatkan 80 penulis dari berbagai negara.

ICHSoS digelar dengan format luring terbatas dan daring melalui aplikasi Zoom serta Youtube UMM. Konferensi ini merupakan upaya kritis para akademisi dalam menangani kondisi pascapandemi.

Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi dalam sambutannya mengatakan, selain untuk menjadi solusi pascakrisis akibat pandemi, ICHSoS juga bertujuan untuk memperluas khazanah penelitian. “Melalui ICHSoS, saya harap bisa semakin memperkaya dan memperluas khazanah riset kita,”ungkap guru besar sosiologi Islam UMM tersebut.

Pada opening and plenary session, ICHSoS menghadirkan para pakar ilmu sosial dari Polandia, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Sesi keynote speech pada kegiatan ini disampaikan oleh Staf Khusus Prof Ravik Karsidi yang mewakili Menteri Koordinator PMK Prof Dr Muhajir Efendy MAP.

Rayik menuturkan bahwa ilmu sosial memiliki banyak peluang dalam penanganan pascapandemi. “Jika ilmu medis menilai Covid-19 ini sebagai virus mematikan, dalam perspektif sosiologis pandemi Covid-19 ini melahirkan pengetahuan baru karena mutasi perubahan alam. Covid-19 dikonstruksikan sebagai peluang untuk membangun kebijakan endogen yang berpihak pada inovasi sosial berbasis potensi lokal,” ujar Ravik.

Di sisi lain, Dr Vina Salviana DS MSi membahas tentang bagaimana perempuan bisa mengambil peran dalam menangani kondisi pascapandemi. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, perempuan memiliki kemampuan berpikir dan bertindak lebih cepat dengan potensi yang mereka miliki. Perempuan dinilai bisa survive secara alami.

“Perempuan memiliki kelebihan dalam hal intuisi dan kepekaan. Dengan kelebihan tersebut, mereka bisa beradaptasi pada perubahan. Di samping itu, mampu untuk segera menjalani peran-peran ganda. Menjadi pekerja sektor kedua ketika pasangan mereka terempas dampak Covid-19, bahkan berperan menjadi guru di rumah ketika anak harus sekolah dengan metode daring,” ujar dosen Sosiologi UMM tersebut.

Sementara itu, Peerasit Kamnuansilpa dari Khon Kaen University Thailand dan Dr Khadijah Alavi membagikan pengalaman Thailand serta Malaysia dalam menangani Covid-19. Khadijah Alavi memaparkan bagaimana potensi dari social worker dalam masa pandemi ini.

“Saya tentu ingin agar para social worker dapat memanfaatkan teknologi dan literasi pada sosial media dengan baik. Selain itu, mereka harus berkolaborasi baik dalam lingkup lokal maupun internasional,” ungkap Alavi.

Pada kesempatan yang sama, Dr Eko Handayanto, pembicara dari FEB UMM, memaparkan tentang fenomena consumer panic buying di kala pandemi dan bagaimana cara merespons hal tersebut. Ada pula pembicara dari Worclaw University Polandia, Dr Yash Chawla, yang mengkaji terkait sustainable consumption.

Yash berkata bahwa pandemi membuat orang menjadi lebih kreatif. “Saya menyarankan agar setiap orang berusaha melakukan berbagai upaya untuk mendukung sustainable consumption,” terang pemilik lima gelar akademik tersebut. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here