Ironi Kampanye Anti-Maulid Nabi

0
111
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Syiar Maulid Nabi Saw dihabisi. Digembosi dengan berbagai cara. Pada tataran eksternal digempur kebebasan berekspresi bikin kartun komik dan narasi negatif tentang Nabi Saw, sementara di internal umat Islam digembosi dengan isu bidah dan haram: klop sudah.

Mestinya diviralkan dengan tagar Maulid Nabi Saw agar orang-orang kafir bergetar mendengar kelahiran manusia teragung dan pembawa rahmat semesta ini.

Ironis, ikhtiar memuliakan nabi di tengah masyarakat global melawan kebebasan berekspresi di negara-negara Barat terutama Prancis, Norwegia, Denmark, Belanda di mana Nabi Saw sering mendapat perlakuan buruk, berbanding lurus dengan gerakan anti-maulid yang dilakukan sebagain kecil kelompok Islam yang menganggap haram dan bidah seakan gayung bersambut memasung syiar bulan maulid.

Gerakan anti-Maulid Nabi Saw dilakukan secara sistematis dan terencana. Gerakan ini berlindung di balik packaging purifikasi atau pemurnian. Dikarenakan perayaan Maulid Nabi tidak ada dalam Kitabullah dan sunah sahihah juga tidak pernah dikerjakan oleh nabi dan para sahabatnya, maka jatuhlah vonis haram dan bidah sungguh disesalkan di tengah riuh globalisasi dan hedonisme.

Rasionalitas atas nama kembali kepada Al-Quran dan as Sunah karena para sahabat nabi tidak melakukan menjadi satu-satunya hujjah yang terus mereka gelindingkan dalam berbagai halaqah dan majelis sungguh mengkhawatirkan. Syiar maulid dihabisi digembosi dengan berbagai cara.

Gerakan anti-maulid ini juga membawa implikasi negatif terhadap perkembangan kesejarahan nabi, baik secara teologis ataupun sosial. Tentu saja lebih banyak mudaratnya daripada sisi positifnya dengan berbagai dalih yang menyertai. Ini persoalan urgen mengingat posisi Nabi Saw sangat sentral sebagai episentrum spirit Islam.

Gerakan anti-maulid ini bahkan tidak segan-segan menghukumi aktivitas perayaan maulid Nabi Saw sebagai ekspresi syiar cinta adalah bidah dan haram. Bagi mereka apa pun yang tidak dikerjakan Nabi Saw dan para sahabat adalah buruk, berdosa, dan harus ditinggalkan tanpa kata tapi.

Mereka bersikeras semua harus dikerjakan nabi dan para sahabatnya, baru kemudian mendapat penghalalan atasnya. Padahal ada banyak hal yang telah kita lakukan, sementara sahabat nabi tak pernah melakukannya. Dan itu sah-sah saja, tak melanggar syariat.

Para sahabat nabi juga manusia biasa. Mereka bertengkar berebut kekuasaan, bahkan berperang saling membunuh dan saya pikir bukan sunah yang harus dirawat dan dikerjakan. Banyak hal baik yang harus dikerjakan dan dirawat, tapi juga ada hal-hal buruk yang tidak patut ditiru dan harus ditinggalkan.

Kita baca Al-Quran lewat gadget, pakai sarung dan kopiah saat shalat,  pakai sendal saat ke mesjid dan azan menggunakan pengeras suara merek TOA buatan orang kafir meski tidak ada dalil dan tidak dikerjakan para sahabat nabi. Jadi, apa masalahnya?

Bagaimana mungkin saya tidak bersyukur atas kelahiran manusia teragung dan termulia, kelahirannya adalah rahmat bagi semesta. Puncaknya adalah ketika Nabi Saw memberi syafaat al uzhma dan membukakan pintu surga. Bukankah saya juga bersyukur atas kelahiran putra-putri tercinta, merayakan milad Muhammadiyah dan merayakan harlah NU, bahkan merayakan kelahiran Syaikh al al Bani (guru nya para penganut Salafi) sebagai tanda sukacita? Dan semuanya tiada dalil dan tidak dikerjakan para sahabat salafus saleh.

Lantas, kenapa begitu bernafsu mengharamkan dan terus melakukan kampanye anti-Maulid Nabi hanya karena para sahabat tidak pernah melakukan. Ada apakah?

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here