Islam Capai Puncak Kejayaan di Masa Khalifah Al-Makmun berkat Ilmu

0
120
Ustadz Fery Yudhi Antonis dalam Darul Arqam Kelas 6 Ramadhan di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya. (Anang/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Sudahkah hari ini kita shalat Dhuha? Sudahkah hari ini kita membaca Al-Qur’an?, Sudahkah hari ini kita bersedekah?” “Itu pertanyaan sederhana yang perlu ditanamkan pada diri kita masing-masing, khususnya di bulan Ramadhan.”

Demikian disampaikan Ustadz Fery Yudhi Antonis dalam Darul Arqam Kelas 6 Ramadhan 1442 H SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Sabtu (17/4/2021). Darul Arqam tahun ini mengusung tema “Ramadhan Bernilai di Masa Pandemi”. Materi disampaikan secara daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting.

Ustadz Fery menerangkan, di masa pandemi sekarang ini meskipun belajar jarak jauh, para siswa tak boleh patah semangat menuntut ilmu dari guru. “Keterbatasan ini tidak boleh menyurutkan semangat untuk berfastabiqul khairat dalam berthalabul ilmi atau menuntut ilmu,” paparnya.

Sejarah mencatat dahulu ada seorang khalifah bernama Harun Al-Rasyid dari Kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah Harun Al-Rasyid sangat concern pada ilmu pengetahuan, luar biasa semangatnya dalam mencari ilmu. Bahkan mendirikan lembaga ilmu pengetahuan yang disebut Baitul Hikmah.

“Buku-buku pengetahuan dari berbagai bahasa diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian disimpan di Baitul Hikmah agar bisa digunakan untuk belajar. Hal itu dilakukan agar generasi Islam di masa itu memiliki peradaban yang tinggi melalui penguasaan ilmu pengetahuan,” katanya.

Sepeninggal Khalifah Harun Al-Rasyid, dia melanjutkan, kekhalifahan diteruskan Khalifah Al-Makmun. Khalifah Al-Makmun meneruskan apa yang sudah dilakukan Khalifah Harun Al-Rasyid, yaitu menerjemahkan buku-buku pengetahuan ke bahasa Arab, bahkan memperluas bidang ilmu buku yang diterjemahkan.

“Maka di masa Khalifah Al-Makmun, Islam mencapai puncak kejayaannya atau golden age,” katanya.

Semangat Belajar Bareng Wong Shaleh

“Nah, sekarang anak-anak kan sedang belajar, apa yang kamu lakukan sekarang ini merupakan ikhtiar untuk mencapai kejayaan. Kamu harus mempunyai jalan berpikir, menyimak atau memahami materi, memahami kehidupan yang berbeda dengan yang lain,” terangnya.

Lebih lanjut, Ustadz Fery menerangkan cara agar tetap semangat belajar di masa pandemi. “Agar tetap semangat belajar, kamu harus kumpulono wong kang shaleh atau berkumpul dengan orang shaleh. Tidak usah jauh-jauh, wong kang shaleh itu dekat denganmu. Ada di sekitarmu, senantiasa menjagamu, ada di sisimu. Siapa? Orang tua, yang setiap hari ada di dekatmu, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini,” tuturnya.

“Inilah kekuasaan Allah, kemahabesaran Allah, dengan skenarionya kamu senantiasa bersama orang tua. Kamu bisa belajar sama orang tua, shalat jamaah sama orang tua, baik shalat lima waktu atau shalat Tarawih. Waktu bersama orang tua lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya,” katanya.

Wong kang shaleh selanjutnya adalah ustadz. “Ketika kamu sudah berkumpul dengan orang shaleh, yaitu orang tua, maka harus diperluas lagi wong kang shaleh itu, yaitu guru ngaji atau ustadz. Kamu bisa belajar baca Al-Quran atau belajar keislaman yang lainnya, baik daring atau tatap muka,” katanya.

Ustadz Feri mengatakan semangat belajar adalah kata kunci yang tidak bisa ditawar. Terutama kepada siswa yang sudah kelas 6 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian.

Dia melanjutkan, siswa kelas 6 diharapkan sudah memiliki tanggung jawab, yaitu tanggung jawab pada diri sendiri, tanggung jawab pada keluarga, tanggung pada agama, dan tanggung jawab pada Allah.

“Melaksanakan shalat tanpa diperintah atau disuruh lagi, belajar tanpa disuruh. Sikap itu berarti siswa sudah memiliki kesadaran bahwa ia memiliki tanggung jawab,” ujarnya. (Anang/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here