Jangan Serahkan Nasib Bangsa di Tangan Hakim MK

0
18
Jangan Serahkan Nasib Bangsa di Tangan Hakim MK. (Ilustrasi: hukumonline.com)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

Saya tak punya kapasitas membahas sengketa pilpres, pilkada, atau urusan politik yang penat. Juga tak hendak menggantungkan nasib negara dan bangsa pada seseorang atau sekelompok orang—takut syirik.

Ada delapan hakim yang hendak memutus, kedua pemohon terus mendalilkan kecurangan. Termohon berkata sebaliknya: para pemohon hanya mengemukakan narasi opini tanpa bukti.

Saya hanya berpikir: betapa mahalnya memilih sepasang pemimpin di negeri dengan demokrasi sebagai sistem. Demokrasi bukan solusi tapi masalah, memilih pemimpin dengan cara pungut suara adalah masalah.

Socrates berkata sambil menyindir demokrasi adalah nonsense, memilih pemimpin dengan cara pungut suara adalah tak masuk di akal, suara rakyat adalah suara gombal.

Datang dua orang Anshar menghadap Nabi saw bersengketa tentang waris. Keduanya tak mampu mendatangkan bukti dan saksi kecuali membangun narasi dan berargumentasi untuk membenarkan kehendaknya. Ketika hendak memutus perkara, Nabi saw memberi prolog:

Aku hanyalah manusia biasa dan kalian bersengketa di hadapanku. Bisa saja ada yang lebih pandai dalam mengemukakan narasi dan argumennya lalu aku putuskan sesuai dengan yang aku dengar. Karena itu, siapa yang aku putuskan menang padahal sebenarnya ia mengambil hak saudaranya, maka janganlah dia mengambilnya karena sebenarnya aku berikan kepadanya sepotong bara api neraka.

Mendengar nasihat Nabi saw keduanya menangis karena takut makan bara api neraka. Keduanya mengatakan:

Ya Rasulullah biarlah jatah hak saya buat saudara saya.

Keduanya berebut menolak menerima warisan itu padahal sebelumnya keduanya berebut untuk mendapat warisan itu. Kemudian Nabi saw memberikan closing yang sangat indah: jika kalian sudah paham dan saling ridaa maka berbagilah.

Kekuasaan yang diperebutkan tidak akan membawa berkah. Yang merebut yang mendukung yang membantu yang membenarkan dan yang mendiamkan masing-masing mengambil dosanya sesuai peran masing-masing.

Dr Nurbani Yusuf MSi
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, Komunitas Padhang Makhsyar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini