Juara Peneliti Belia, Siswa Smamda Surabaya Berbagi Tips

0
112
Dwi Rahma Kurniasari dan Jamilatus Syafiqoh, siswa Smamda Surabaya berhasil menjuarai Lomba Peneliti Belia (LPB) 2021 tingkat Provinsi Jawa Timur. (Muhammad Zarkasi/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Dua siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda Surabaya), yaitu Dwi Rahma Kurniasari dan Jamilatus Syafiqoh, berhasil menjuarai Lomba Peneliti Belia (LPB) 2021 tingkat Provinsi Jawa Timur. Kepastian juara itu diumumkan melalui website cys.or.id pada Selasa (12/11/2021).

Sebulan berselang sejak dinobatkan sebagai juara, baik Dwi maupun Jamilah membagikan tipsnya. “Perasaan saya senang sekali dan sempat tidak menyangka,” jawab Dwi.

Siswi Smamda Surabaya asal Jember tersebut menambahkan, kolaborasinya dengan Jamilah ternyata mampu menghasilkan riset yang baik dan solutif, tidak sekadar mengantarkan mereka menuju gelar juara.

“Padahal ini kolaborasi pertama kami, tapi kami bersyukur bahwa kami bisa kompak,” tegasnya.

Jamilah, yang tidak lain adalah adik kelas Dwi, membocorkan rahasia bagaimana mereka bisa melakukan riset dengan semaksimal mungkin. Yaitu, komunikasi, mental, dan komitmen.

“Pertama, saya bersama mbak Dwi selalu komunikasi yang intens. Kita berkenalan lebih dalam satu sama lain, sebelum akhirnya membagi tugas. Kedua, mental nothing to lose, di mana kami berpikir bahwa kami tidak berpikir menang atau kalah terlebih dahulu, tapi mendahulukan bagaimana menyajikan hasil riset yang terbaik,” jelas Jamilah.

Terkait dengan komitmen, Jamilah menambahkan, bahwa dia dan Dwi berusaha untuk menepati jadwal pekerjaan yang mereka sudah sepakati. “Misalnya, kami menetapkan batas pengambilan data tanggal sekian, maka kami berdua bersama-sama berkomitmen mematuhi tanggal tersebut,” tambahnya.

Di lain sisi, Dwi juga menambahkan, ada tips keempat yang harus dilakukan sebagai peneliti muda. “Yang terakhir dan tidak kalah pentingnya, yaitu kita harus punya kepekaan terhadap isu di sekitar kita,” pesan Dwi.

Perlu diketahui, bahwa Lomba Penelitian Belia ini diadakan atas kerjasama pemerintah dengan Center For Young Scientist (CYS).

Dalam edisi kali ini, Dwi dan Jamila mengangkat isu terkait efek pertumbuhan kota terhadap perubahan pola interaksi masyarakat. Metode yang digunakan adalah analisis korelasi, dengan membandingkan apa yang terjadi di Surabaya dengan yang ada di Jember.

“Angka korelasinya adalah -0.9, artinya sangat memiliki hubungan, namun arahnya terbalik. Artinya, semakin tumbuh suatu daerah, maka semakin renggang pula hubungan sosial masyarakatnya,” tambah Dwi.

Saat ditanya untuk siapa juara ini mereka dedikasikan, mereka memberikan jawaban yang mengejutkan. “Pertama, tentu untuk pengalaman kita masing-masing. Kedua, kepada orang tua kami. Terakhir, untuk sekolah, khususnya untuk Pak Zarko dan Bu Eka selaku pelatih dan pembina ekskul KIR yang menjadi pembimbing kami dalam melakukan riset ini,” pungkas Jamila. (Muhammad Zarkasi/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here