Kematian Prof Yatno Sudah Tertulis

0
51
Ketua BPH UMBandung Prof Dr KH Dadang Kahmad MSi saat menyampaikan tausiah dalam takziah virtual Selasa (12/10/2021) malam. (Dok UMBandung/Klikmu.co).

KLIKMU.CO – ”Wa maa kaana linafsin an tamuta illaa bi`iznillaahi kitaabam mu`ajjalaa. Tidak ada satu orang atau makhluk pun yang bernyawa wafat kecuali dengan izin Allah yang sudah tertulis. Jadi sesungguhnya kematian itu sudah tertulis. Kita ini semua sedang mengantre untuk bisa masuk ke tempat itu (kematian).”

Demikian disampaikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) Prof Dr KH Dadang Kahmad MSi dalam tausiah takziah virtual mengenang wafatnya Prof Suyatno, Selasa (12/10/2021) malam.

Prof Dadang mengatakan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang hak. Sesuatu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kematian menjadi menjadi batas akhir dari kehidupan manusia di dunia.

Kematian, menurut Prof Dadang, sama halnya seperti kelahiran yang tidak ada kompromi terlebih dahulu. Waktu manusia lahir, Allah menakdirkan lahir tanpa kompromi terlebih dahulu kepada manusia tersebut. Di mana manusia lahir, dari rahim siapa lahir, tanggal berapa lahir, itu semua rahasia Allah.

Ditegaskan Prof Dadang, kita lahir tahunya dari rahim ibu kita, tanpa ada keinginan dari kita. Begitu juga halnya dengan wafat kita, kematian kita, kurang lebih akan sama.

”Tidak akan pernah Allah meminta persetujuan kepada kita mengenai kematian. Tidak akan pernah Allah menentukan atau memberitahukan mengenai kematian kita, di mana kita mati, semua rahasia Allah SWT., dan itu begitu cepat. Dari Pak Sutriyo tadi malam saya dengar, waktu hari Minggu pagi itu beliau (Prof. Suyatno) masih bisa berkomunikasi sebelum dicek kesehatannya, tetapi tiba-tiba jam satu siang beliau dipanggil Allah. Begitu cepat sekali. Semuanya akan cepat seperti itu,” ungkap Ketua PP Muhammadiyah itu.

Mempersiapkan Kematian

Oleh karena itu, Prof Dadang menyampaikan bahwa berbahagialah orang yang sudah punya persiapan-persiapan untuk menghadapi kematian. Berbahagialah bagi orang yang sudah mengumpulkan pundi-pundi amal saleh untuk di akhirat.

“Wabtagi fiimaa aataakallaahud-daaral-aakhirata, merugilah kata Rasulullah orang-orang yang hidupnya hanya mengumpulkan pundi-pundi kehidupan dunia yang sementara ini. Berhati-hatilah kita semua terhadap kematian, apalagi saya pribadi yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun ini, harus berhati-hati betul. Kumpulkanlah sebanyak-banyaknya amal saleh kita. Kita mengabdi di perguruan tinggi Muhammadiyah ini tujuannya untuk berdakwah, untuk kepentingan menegakkan Al-Islam, untuk menegakkan dakwah, menegakkan Muhammadiyah. Oleh karena itu, siapa pun yang beramal di perguruan tinggi Muhammadiyah atau AUM, itu merupakan satu amal jariah yang nanti akan kita ambil di akhirat,” katanya.

Rasulullah SAW. bersabda bahwa berbahagialah orang-orang yang cerdas, yakni orang-orang tahu bahwa dia akan mati, dan mempersiapkan sebaik-baiknya kematian tersebut.

Sungguh celakalah orang-orang bodoh, yakni orang-orang yang merasa dirinya akan hidup abadi, lupa kepada kematian, dan dia melakukan kegiatan-kegiatan yang sia-sia dalam kehidupannya.

”Oleh karena itu sekali lagi saya atas nama Pimpinan BPH UMBandung mengucapkan takziah yang luar biasa kepada keluarga almarhum Prof Suyatno dan kita berdoa allaahummagfirlahu warhamhu wa’ aafihi wa fu’anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu wa adkhilkul jannata wa a’idzhu,” katanya.

”Semoga kita semua diberi kesempatan untuk mencapai wafat dalam keadaan husnul khatimah. Kalau kata orang Sunda, husnul khatimah itu ‘maot nyéré ka puhuna’, artinya bisa berakhir dengan baik. Sebaliknya,  ‘maot nyéré ka congona’, itu artinya kita berakhir dengan jelek atau suul khatimah, na’udzubillah min dzalik. Semoga kita diberi perlindungan oleh Allah, sehat walafiat, dan diberi kesempatan untuk menambah umur yang baik, penuh dengan zikrullah, penuh dengan amal yang luar biasa,”pungkasnya. (Feri/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here