Khazanah Perbedaan Ceruk Pemikiran di Muhammadiyah

0
17
Kiai Nurbani Yusuf, dosen UMM, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Perbedaan pemikiran di Muhammadiyah itu lazim dan niscaya. Karena itu, kita sikapi dengan dada lapang dan pikiran bening.

Tahun 1922, Kiai Soedjak berdebat hebat dengan kader lain, saat mengajukan proposal pendirian rumah sakit di kalangan pribumi santri. Tak sedikit kader yang mengundurkan diri dan meletakkan kartu anggota karena tak setuju dengan pendirian rumah sakit yang dianggap tasyabuh.

Kiai Yunus Anis, ketua PP Muhammadiyah, berselisih dengan Buya Hamka terhadap sikap dengan rezim Soekarno tentang pengangkatan Pak Moljadi Djojosoemarto sebagai Mensos.

Buya Hamka dipenjarakan Soekarno karena dugaan plagiasi novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck yang viral saat itu.

Muhammadiyah juga terbelah menyikapi pemberian gelar doktor honoris causa kepada Soekarno oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Pak AR Fachruddin, Pak Amien Rais, Buya Syafii Maarif, Prof Malik Fadjar, Prof Din Syamsuddin, dan Pak Haedar Nashir juga banyak berbeda.

Pak Busyro Muqoddas dan Pak Anwar Abbas sangat berbeda dengan Pak Abdul Mu’ti.

Saya mungkin dekat dengan pemikiran Pak AR Fachruddin yang kultural-humanis dan Buya Syafii Maarif yang moderat-egaliter.

Dalam bernahi munkar kepada rezim penguasa pun keduanya berbeda jauh.

Pak AR Fachruddin dan Pak Amien punya style yang tidak sama. Pak Amien lebih terbuka dan menyampaikan kritik di depan publik, bikin tulisan, seminar, diskusi, atau pernyataan pers bahkan demo turun ke jalan.

Pak AR Fachruddin menyampaikannya langsung ke hadapan Pak Harto, sarapan bersama atau ngopi di istana dalam tata krama Jawa yang santun dan beradab.

Keduanya baik, tapi saya lebih suka cara Pak AR Fachruddin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini