Kisah Alumnus UMM Jalani Puasa di Hungaria

0
81
Hesti Miranda sedang menjalani S-3 di University of Debrecen, Hungaria. (Dok pribadi)

Malang, KLIKMU.CO – Tidak nikmat jika berpuasa tak ditemani dengan cuaca terik panas di siang hari. Apalagi, berburu takjil kala sore menjadi pilihan utama untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman.

Tapi, berbeda dengan suasana bulan puasa di negara lain. Mulai perbedaan budaya, kebiasaan, hingga cara menjalankan ibadah suci di bulan Ramadhan ini.

Hal itulah yang kini dirasakan Hesti Miranda, alumnus Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang tengah menjalani bulan Ramadhan di Eropa Tengah, yaitu Hungaria. Saat ini ia merupakan mahasiswa doktoral tingkat akhir di University of Debrecen, Hungaria, dengan mengambil jurusan educational science.

Hesti menyampaikan bahwa perbedaan yang sangat kentara saat bulan Ramadhan ini adalah dari sisi musim, waktu, makanan, dan ibadah.

“Kebetulan saat ini sedang musim semi, jadi puasa lebih nyaman dan tidak terlalu panas. Berkat musim ini pula, durasi puasanya juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sayangnya, di sini tentu tidak ada takjil sebagaimana di Indonesia. Jadi, kalau ingin makan gorengan, mau tidak mau harus bikin sendiri,” katanya.

Uniknya, dalam menjalani ibadah puasa, faktor yang paling mendukung adalah cuaca. Jika di Indonesia musim yang paling cocok adalah musim panas, di Hungaria musim yang paling cocok adalah musim dingin dan musim semi.

Sebab, saat itu suhu masih terbilang dingin sehingga panas matahari tidak terlalu terik dan aktivitas menjadi lebih fleksibel.

Selain itu, perbedaan mencolok lainnya adalah tidak adanya penjual di pinggir jalan yang menjajakan takjil mereka. Maka dari itu, Hesti menyiasati jika ingin memakan takjil dirinya harus usaha lebih untuk membuat takjil sendiri.

Sementara untuk tempat ibadah, Hungaria memiliki masjid, namun tidak menyelenggarakan ibadah shalat Tarawih. Karena itu, ketika akan melaksanakan Tarawih, Hesti biasanya mengikuti shalat Tarawih yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau dengan shalat di rumah salah satu teman Indonesia.

“Sebenarnya tak jauh beda dengan di Indonesia, namun di sini cuacanya saja yang mendukung kami para muslim untuk berpuasa,” tambahnya.

Walaupun suhu udara saat di Hungaria saat ini kurang lebih 5 derajat Celsius, Hesti merasakan kehangatan dari teman sekelasnya. Hal ini terjadi karena teman sekelas Hesti yang beragama nonmuslim terkadang memberinya makanan asli Hungaria untuk berbuka puasa.

Selain itu, hal menarik lainnya adalah tingginya toleransi yang ia rasakan. Paling tidak di lingkungannya.

“Misalnya, saat teman-temannya berusaha untuk tidak makan di depannya dan tidak lagi mengajaknya makan di siang hari karena tahu bahwa ia sedang berpuasa.

(Wildan/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini