Kisah Nyata Liputan di Jalur Gaza

0
117
Kwpanikan di Gaza City saat tentara Israel merangsek masuk Gaza pada awal Januari 2009. (Istimewa)

Oleh: Kardono Setyorakhmadiwartawan senior eks Jawa Pos

KLIKMU.CO

“TAHUKAH anda, bahwa semua orang Goza (Gaza, Red) berebut ingin menjadi martir. Siap mati untuk melawan Israel,” kata juru bicara HAMAS Fauzi Barhoum dalam sebuah wawancara di sebuah safe house milik seorang Lenan di Brigade Izzudin al-Qassam kepada saya pada Januari 2009 lalu.

Ketika itu, memang saya sempat masuk ke Gaza City dan melakukan liputan langsung di sana. Butuh waktu lebih dari satu minggu dan jalan berliku untuk bisa wawancara Fauzi pada saat perang Israel-Hamas di Gaza 2009 lalu.

Dalam wawancara itu, dia sempat bertanya kepada saya, dengan nada sedikit bercanda: maukah saya jadi martir? Tentu saja langsung saya jawab: tidak, terima kasih. Saya tak berkeberatan meninggal ketika melakukan liputan (karena toh kesediaan itu sudah saya tandatangani di sebuah dokumen di pemerintahan Mesir, ketika hendak masuk bia Raffah). Tapi tidak untuk menjadi martir. Karena tujuan saya bukan itu. Fauzi tertawa dan kemudian memberitahu kalimat di atas.

Saya mengangguk mengiyakan. Selama beberapa minggu di Gaza, saya melihat sendiri bagaimana masyarakat di sana diradikalkan oleh situasi. Jika anda fans sepakbola garis keras, dan bagaimana meluapnya perasaan anda ketika tim anda meraih juara dengan cara dramatis, maka perasaan itu kalikan sejuta kali. Maka itulah perasaan dasar sehari-hari rakyat Gaza. Selalu penuh dengan luapan perasaan perjuangan.

Selama di sana, acara televisi hanya menyiarkan bagaimana situasi konflik dengan Israel, diselingi hanya dengan iklan prajurit Izzudin al Qassam -sayap militer HAMAS— berlatih dan berlaga di medan perang. Dengan iringan musik patriotik, tentunya.

Belum lagi perlakuan terhadap warga yg gugur kena serangan Israel. Montase almarhum dengan mengenakan pakaian militer dicetak dalam ukuran besar dan banyak, lalu dipajang di seluruh gang menuju rumahnya. Meski sedih, keluarga-keluarga yang ditinggalkan juga tampak terlihat bangga. Ini saya tahu sendiri karena beberapa kali diajak hadir takziah ke keluarga para pejuang itu.

Kisah-kisah adikodrati disebarkan. Mulai dari yang biasa-biasa seperti kain kafan yang membentuk seraut siluet wajah bidadari cantik yang mengecup jenazah para pejuang, hingga banyak yg mengklaim jenazah para syuhada banyak yang berbau wangi misterius. Kisah-kisah yang penting untuk menjaga semangat juang tetap menyala, dan meyakinkan banyak warga Gaza bahwa kematian melawan Israel bukan kematian yang buruk. Malah mengangkat derajat mereka.

Namun, yang paling utama mengobarkan semangat mereka tentu saja ketidakadilan. Pencaplokan lahan, Israel yang membuat hidup mereka susah meski satu sama lain bisa melihat karena berdekatan lokasinya (anda bisa naik bukit tak terlalu tinggi di Khan Yunis dan bisa melihat perumahan Yahudi tak lebih dari 3 km jauhnya), dan ini diperparah dengan sejarah panjang dan berdarah di Yerusalem, kota suci tiga agama.

Juga yang membuat tambah buruk, AS -sebagai sponsor Israel-mencap Hamas sebagai organisasi teroris. Bagaimana perasaan anda, jika tanah anda dicaplok oleh orang yang dinyatakan musuh dalam kitab anda, lalu anda dicap teroris pula. Tentu sangat marah, dan anda tak melihat peluang lain selain bertarung terus, bukan.

Ini pula yang membuat saya ingin tahu siapa yang mengusulkan ke pemerintah Jokowi untuk melabeli kelompok separatis Papua sebagai organisasi teroris. Melabeli itu hanya one way ticket untuk membuat banyak penduduk Papua teradikalkan.

Maka, di ujung wawancara, saya bilang kepada Fauzi Barhoum, bahwa hidup sebagai muslim di Gaza jauh lebih simple ketimbang di Indonesia. “Kok bisa?” Katanya, penasaran. “Ya jelas. Hidup di sini hitam putih. Musuh di depan mata. Musuh nyata pula. Juga memperlakukan anda tak adil. Dengan alasan religius, sosial, ekonomi, atau apapun, sangat sah bagi warga Gaza untuk bertarung,” jawab saya.

Tak perlu mikir jalan hidup yang rumit, seperti usia 25 tahun sudah punya apa. Atau mikir mitigasi Covid-19. Atau mikir oligarkhi keparat yang melemahkan lembaga antikorupsi misalnya. Dengan segala penderitaannya, saya melihat hidup menjadi warga Gaza menjadi jauh lebih sederhana.

***

Lepas dari kerumitan dan komplikasi yang ditinggalkan oleh Presiden AS saat itu Donald Trump atas pengakuannya Yerusalem sebagai ibukota baru Israel, sejarah atas kota itu jauh terentang sejak zaman Nabi Sulaiman. Sebuah perjalanan sejarah yang membuat kota itu jadi tempat suci tiga agama semitik sekaligus. Islam (Masjidil Aqsa dan Kubah Batu), Kristen (Gereja Makam Suci Yesus), dan Yahudi (tembok ratapan yang bagian dari keping-keping Kenisah Sulaiman).

Nabi yang juga Raja besar yang konon menguasai bahasa jin dan hewan itu lah yang membuat Yerusalem tak pernah terhapuskan dalam sejarah. Melanjutkan kemenangan Nabi Daud atas Raja Jalut (David vs Goliath), Nabi Sulaiman membangun sebuah Kenisah, atau Rumah Allah di Yerusalem. Sebuah penanda tanah yang dijanjikan kepada kaumnya, Yahudi.

Namun, pada 586 SM, Raja Nebukadnezzar dari Babylonia datang dan menghancurkan kenisah tersebut. Namun, kemudian pemimpin Yahudi pada abad ke 1 SM, Herodes membangunnya kembali. Serta berharap bahwa akan datang pemimpin Yahudi sekaligus Nabi baru seperkasa Nabi Daud atau Nabi Sulaiman.

Nabi yang datang kemudian adalah Isa, atau Yesus. Alih-alih memimpin dan mengorganisir mereka dalam sebuah parade militer besar dan penaklukan, Nabi Isa justru datang dengan ajaran kelembutan, cinta kasih, dan amat menyayangi semua kehidupan. Ini pula yang kemudian membuat terjadinya intrik politik terjadi.

Lalu, situasi sosial politik juga memanas, ketika terjadi gesekan antara agama pagan Romawi, penguasa dunia saat itu, dengan Yahudi. Yang kemudian berkembang menjadi gesekan sosial ekonomi seperti boikot pajak dan sebagainya. Apapun latar belakangnya, Romawi mengirim Jenderal Titus untuk menghancurkan pemberontakan tersebut. Setelah melakukan pengepungan, Titis akhirnya berhasil menjebol pertahanan kaum Yahudi, masuk ke Yerusalem, menghancurkan Kenisah Sulaiman, dan menyisakan sebidang tembok yang kini dikenal dengan Tembok Ratapan.

Sejarah terus bergulir, hingga kemudian ada Gereja Makam Suci, Masjidil Aqsha, dan Masjid Kubah Batu (masjid yang dipercaya menjadi awal perjalanan Rasul melakukan Mi’raj ke langit ke tujuh).

Selanjutnya adalah sejarah panjang, dan sayangnya juga berdarah mengenai penguasaan Yerusalem. Perang Salib berjilid-jilid, dan di sejarah modern, kaum Yahudi memanfaatkan celah kekosongan kekuasaan dengan cepat mengonsolidasikan diri melakukan pemukiman dengan terus mencaplok wilayah kawasan Palestina. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here