Lebaran dan Me-lebar-kan

0
134
Prof Dr Djoko Saryono MPd

Oleh: Prof Dr Djoko Saryono MPd

KLIKMU.CO

Sesudah puasa Ramadan kita genapkan dan suara takbir lantang jernih mengalir dari rumah ibadah menuju ruang-ruang kota, kampung, dan juga ruang hati. Kita pun merayakan lebaran begitu gegap gempita meskipun pandemi Covid-19 memasuki tahun ketiga belum dinyatakan berakhir. Pelonggaran pergerakan dan acara hari besar ini memang menjadikan orang-orang melepaskan diri dari kungkungan pandemi: menyambut dan merayakan lebaran bagai lebaran sebelum pandemi.

Kita pun mengucap Selamat Idul Fitri 1443 H kepada keluarga, tetangga, rekan sekerja, pimpinan, kenalan, dan handai tolan lain dengan aneka rupa cara, gaya, dan pintalan kata-kata dan/atau gambar. Media sosial atau media digital kita penuh sesak dengan gambar, kata-kata, dan kombinasi gambar dan kata-kata indah-berkesan disertai potret, sketsa atau animasi tertentu. Tak lupa saudara-saudara pemeluk teguh agama selain Islam, juga penuh suka cita dan tulus mengucapkan selamat idulfitri kepada saudaranya pemeluk Islam. Mereka menjadi bagian teater sosial kolosal yang digerakkan oleh salah satu hari raya Islam.

Di bawah bayang pandemi Covid-19, yang sudah sangat melandai dan nyaris menjadi kesadaran refleksif tiap orang di sini, dengan penuh keberanian dan kemantapan hati, kita mudik dan mengunjungi keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sahabat dengan macam-macam kiat biar selamat, beroleh berkat, dan nikmat. Ada orang yang mencari kiat aman, ada yang mencari kiat murah-hemat, ada yang mencari kiat asal sampai, dan ada yang mencari kiat cepat tiba di tujuan. Di sinilah kita saksikan, ada berbondong orang mudik naik motor, naik mobil sendiri dan/atau sewaan, bahkan naik sepeda onthel (nggowes) ratusan kilo. Kita semua bagaikan pemain teater sosial religius yang memerankan peran tertentu dalam lakon lebaran yang begitu memesona.

Dalam suasana lebaran, Idul Fitri yang seharusnya mengantarkan kita ke dunia makrifati, adakah kita menyadari diri kita sendiri? Adakah kesadaran diri dan lalu bertanya: di manakah diri kita sekarang berada di tengah pertunjukan teater sosial religius bernama Idul Fitri 1443 H?; seperti apakah diri kita sekarang? Karena puasa dan lebaran seharusnya mengolah diri tiap manusia menjadi cahaya, apakah diri kita sudah bermandi cahaya yang sanggup menjelajahi bukit-bukit cahaya, bahkan membubung ke langit tinggi tiada terperi, lalu menjangkau sidratul muntaha yang berlambangkan pohon bidara dengan dedaunan semua makhluk semesta, ruang berada Sang Cahaya Mahacahaya, Sang Cahaya di Atas Segala Cahaya?

Sesuai namanya, Idul Fitri yang notabene kembali kepada kesucian awal, apakah diri kita telah kembali seperti semula seperti idealitas penciptaannya? Ataukah kita hanya menjadi manusia yang tersaruk-saruk, terantuk-antuk, bahkan terbungkuk-bungkuk mengarungi kehidupan bumi akibat kehilangan lentera yang cahayanya mendamaikan sesama manusia, gara-gara puasa dan lebaran kita hanya sekadar mendapat lapar dan dahaga, bukan metamarfosa diri manusia?

Apakah diri kita sudah menjadi lentera mungil atau lilin-lilin kecil yang sanggup memijarkan terang cahaya sejati bagi kelangsungan dan keselamatan hidup sesama manusia di dunia dan setelahnya? Ataukah tetap membopong dan menggendong kegelapan yang menjadikan kehidupan kita dirundung mendung, akibat puasa dan lebaran tak bisa mengubah diri kita bercahaya atau menjelma cahaya? Apakah diri kita telah menjadi suar mungkin bagi keselamatan, keberlangsungan, dan keberlanjutan alam semesta terutama bumi kita? Ataukah tetap suka menggarong dan membopengi alam semesta sampai bolong-bolong, bahkan rusak di sana-sini, hingga bumi atau planet kita di ambang bahaya?

Marilah kita pulang ke diri sejati ketika lebaran tiba kali ini di bayang pandemi. Tengoklah, pulanglah ke dalam diri sendiri karena puasa dan Idul Fitri bermakna harus bisa memulangkan diri kita kepada cahaya sejati, yang letaknya ada di relung sanubari, yang kodratnya senantiasa hangat mengasihi, dan yang jalannya silaturahmi: bisa berupa silaturahmi atau halal bihalal yang sudah mentradisi. Bila mampu pulang ke dalam diri sendiri kita niscaya bersua jalan cahaya menuju sumber cahaya sejati. Bila kita bisa tiba di singgasana sumber cahaya sejati, kita mengalami mandi cahaya sejati, bahkan menjelma menjadi cahaya itu sendiri. Kita pun bakal mampu mencahayai bumi atau menerangi jalan menuju singgasana Cahaya Mahacahaya.

Di manakah kita harus menemukan cahaya sejati di dalam kehidupan bumi yang penuh warna-warni? Seorang wali Tanah Jawa yang senantiasa kita kasihi, Sunan Bonang asmanya, telah beratus tahun lampau bertamsil janur kupat. Kendati ada pelbagai pemaknaan atas frasa janur kupat, salah satu kepanjangannya yang populer adalah: sejating nur ono ing laku papat: lebar, lebur, luber, dan labur. Terjemahannya cahaya sejati ada dalam empat perilaku manusia.

Maka, jika kita saban tahun hanya sibuk lebar-an, bisa jadi kita manusia yang tak pernah naik tingkatan, tiada mengalami perubahan dan kemajuan. Biar diri kita mampu meraih perubahan dan kemajuan kehidupan, bahkan peningkatan maqam kehidupan, marilah kita semarakkan lebur-an, luber-an, dan bahkan labur-an dalam tiap langkah kehidupan kita yang di ambang lulus dari ujian pandemi: kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan kehidupan kebangsaan kita.

Sebagai sesama manusia, marilah kita menyudahi atau me-lebar-kan segenap persengketaan, pertikaian, dan permasalahan yang ada. Marilah kita menyirnakan, menghancurkan, dan memusnahkan atau me-lebur-kan segala purba sangka, wasangka, kebencian, dan nista sebagai sesama agar senantiasa indah dan baik kehidupan bersama, bahkan dunia. Marilah kita meluapkan atau me-luber-kan kasih sayang, cinta, kebaikan, keindahan, dan kebahagiaan kepada sesama supaya dunia dan manusia bertabur kedamaian senantiasa. Dan marilah kita mempersolek, memperindah, dan menghiasi atau me-labur-i kehidupan kita dengan kebaikan, keindahan, dan kebahagiaan agar kehidupan bersama bermandikan cahaya.

Untuk itu, marilah kita tingkatkan ibadah ghairu mahdah (luar ritual), tak cuma ibadah mahdah (ritual). Kehidupan dunia, bangsa, masyarakat, keluarga, dan bangsa kita tak bakal banyak berubah hanya dengan ibadah mahdah. Bisa dibilang kehidupan normal baru pasca-pandemi dapat terwujud bila kita memperkuat ibadah ghairu mahdah. Kemajuan dunia, bangsa, masyarakat, keluarga, dan lembaga kita memerlukan ibadah ghairu mahdah kita yang tak kenal lelah. Maka, marilah kita bekerja dan berusaha tak kenal lelah, membuang pesimisme, karena bekerja penuh optimisme adalah paras cantik ibadah, demi kemajuan negara dan bangsa kita di samping demi kemaslahatan dunia, bangsa, masyarakat, dan keluarga. Maka, marilah kita tingkatkan kinerja, lantaran kinerja yang memesona, yang bermaslahat bagi bangsa kita, adalah ibadah mulia.

Bukankah bekerja dan kinerja sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh Rasulallah Muhammad kita? Bahkan Rasulallah Muhammad dengan suka cita menciumi tangan-tangan kasar dan kotor yang menggambarkan rajin dan optimis bekerja dan bagus berkinerja. Ingatlah, pada suatu ketika Rasulallah bertanya kepada seorang umatnya, Saad namanya. Begini pertanyaannya: mengapa tanganmu kotor begitu? Saad menjawab, karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku. Kemudian Rasulallah Saw mengambil tangan Saad dan menciuminya seraya berkata: ‘Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka’ (Hadis Riwayat HR Thabrani).

Ketika lebaran kali ini, di bawah bayang meredanya pandemi, semoga kita semua dijauhkan dari api neraka karena jauh lebih tekun dan optimis bekerja dan tinggi kinerja. Tatkala lebaran ini semoga kita semua senantiasa bermandi cahaya sejati, bahkan tengah bermetamarfosa menjelma cahaya: cahaya kebaikan, cahaya kedamaian, cahaya keindahan, dan cahaya kebahagiaan bagi kehidupan bersama, sesama, dan semesta. Sebagai cahaya atau insan bermandi cahaya, kita semua bakal leluasa membubung tinggi, pulang kepada sumber cahaya sejati: di situ semoga kita semua bersua cahaya Muhammad, dan tangan-tangan kita semua diciumi oleh Rasulallah tiada henti. Amin. (*)

Malang, 3 Mei 2022
Prof Dr Djoko Saryono MPd, guru besar sastra UM Malang dan pegiat literasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here