Lima Titipan Kiai Dahlan bagi Orang yang Beragama

0
224
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi saat mengisi kajian di UMM secara daring. (Wildan/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Agenda rutin tahunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar. Sama seperti tahun lalu, UMM melangsungkan kajian Ramadhan bagi seluruh karyawan dan dosen. Agenda ini digelar secara luring bertempat di Dome UMM serta daring melalui kanal Youtube UMM pada Selasa (20/4/2021). Prof Dr Haedar Nashir MSi, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, didapuk sebagai pemateri dengan tema “Muhammadiyah dan Misi Pencerahan Kemanusiaan”.

Prof Haedar menerangkan bahwa kata “pencerahan” sudah dipopulerkan sejak 2000-an. Kata ini dinisbahkan pada pergerakan Muhammadiyah generasi awal, utamanya saat Ahmad Dahlan baru saja mendirikan organisasi Muhammadiyah. Selain itu, juga menjadi mata rantai penghubung kepada risalah Rasulullah SAW.

Adapun kata pencerahan atau tanwir dalam bahasa arab diambil dari kata nur. Ia kembali menjelaskan bahwa dalam kamus Munjid, nur memiliki tiga arti. Pertama, nur diartikan sebagai cahaya yang menerangi. Kemudian juga bisa dipahami sebagai naara atau api dan panas. Istilah ketiga merujuk ke kata arr’yu yang berarti akal pikiran.

Haedar lantas menyebut salah satu contoh gerakan pencerahan yang terjadi di masa lalu. Rasulullah lahir dan hadir di tengah sistem masyarakat jahiliyah dan bodoh. Kemudian, Islam hadir dan mencerahkan dengan ajaran-ajarannya. Dalam tempo 23 tahun, Islam mampu mengubah bangsa Arab yang dulu dikenal dengan kejahiliyahannya menjadi pemegang kunci peradaban kemajuan umat manusia. “Bahkan bisa bertahan hingga kurang lebih 7 abad lamanya,” tegasnya.

Lima Hal dalam Beragama

Prof Haedar Nashir lantas mengutip perkataan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan tentang beragama harus memiliki lima hal. Pertama, perlunya wajib beragama. Kemudian, pada mulanya agama itu bercahaya, namun lama-kelamaan berubah menjadi suram karena manusia yang salah menggunakannya. Ketiga, manusia juga harus menuntut dari syarat yang sah dan pikiran yang suci.

“Mencari tambahan pengetahuan juga menjadi aspek penting. Hingga yang terakhir, yaitu menjalankan pengetahuan yang utama,” tuturnya.

Haedar berpesan kepada para dosen dan karyawan bahwa pikiran yang mencerahkan haruslah dimiliki setiap insan. Hal itu bisa menjadi kekuatan utama, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat secara luas. Selain itu, gerakan pencerahan harus terwujud dalam gerakan keilmuan.

“Tidak hanya diwakili oleh banyaknya perguruan tinggi, tapi juga tingkat keilmuan yang hadir di tengah masyarakat,” paparnya.

Guru besar UMY ini juga menekankan bahwa gerakan Muhammadiyah harus melahirkan gerakan yang moderat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Warga Muhammadiyah harus membawa kemaslahatan bagi umat. Bukan malah sebaliknya, memberikan masalah yang tak kunjung usai.

“Pencerahan yang dilakukan seyogianya juga melahirkan rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.

Dosen dan karyawan UMM ikut pengajian Ramadhan di Dome UMM. (Wildan/Klikmu.co)

Sementara itu, Rektor UMM Dr Fauzan MPd menerangkan bahwa tema kajian merupakan bentuk semangat dari jargon UMM “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”.  Selain itu, mempertegas fungsi kehidupan kampus bagi kemaslahatan masyarakat. “Tema ini juga menjadi salah satu langkah menegakkan kembali bahwa hidup haruslah mencerahkan, baik secara personal maupun institusional,” terangnya.

Fauzan melanjutkan bahwa tema yang diusung berangkat dari salah satu ayat Al-Quran yang mengajak untuk mengeluarkan dan mengentaskan diri dari kegelapan menuju ke arah yang lebih cerah. “Tentu saja saya berharap agar tema ini tidak hanya menjadi tema kajian pada hari ini saja. Tapi juga bisa menjadi tema kehidupan bapak dan ibu sekalian,” pesannya. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here