LLHPB PP Aisyiyah: Problem Kerusakan Lingkungan Tak Bisa Diselesaikan dengan Pendekatan Sains, Harus Pakai Pendekatan Agama

0
37
Hening Parlan, ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah. (Iwan Abdul Gani/KLIKMU.CO)

Jakarta, KLIKMU.CO – Uji coba Pasar Bebas Plastik oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, pada 2019 hingga 2021 lalu, telah berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik berukuran kecil dan besar sebesar 6%. Karena itu, perlu ditindaklanjuti.

Sampai saat ini, GIDKP terus gencar melakukan upaya perubahan perilaku agar penggunaan kantong plastik sekali pakai terus berkurang di Pasar Tebet Barat dengan menggandeng Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah. Tidak hanya pedagang dan konsumen, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program kali ini.

Mengacu pada pendapat ilmuwan asal Columbia University, Gus Speth, yang mengatakan bahwa masalah lingkungan terutama disebabkan karena keegoisan, keserakahan, dan sikap apatis dan untuk menghadapinya kita membutuhkan transformasi budaya dan spiritual.

Oleh karena itu, kolaborasi GIDKP dan LLHPB PP Aisyiyah dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang didukung oleh GIZ melalui program Religious Matters bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik melalui pendekatan agama.

Program perubahan perilaku pada program Pasar Bebas Plastik kali ini dilakukan melalui pendekatan agama Islam dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar Pasar Tebet Barat.

“Karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim dan kerja sama kami dengan LLHPB PP Aisyiyah juga sangat tepat karena (mereka) merupakan bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia (Muhammadiyah),” ujar Rahyang, Koordinator Nasional GIDKP.

“Melalui kerja sama ini, kami berupaya untuk mengangkat pesan terkait kampanye bebas plastik dalam setiap kegiatan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak kami lakukan pada program sebelumnya di tahun 2019,” imbuhnya.

Sementara itu, Hening Parlan, ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah dalam webinar bertajuk “Pembelajaran dalam Pendekatan Religius dalam Mengubah Perilaku di Pasar Rakyat” yang diselenggarakan pada Selasa (29/11/2022) mengungkapkan, perubahan iklim tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sains. Pendekatan agama harus menjadi bagian dari perubahan iklim itu.

“Kalau masalah kerusakan iklim ini saja tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan sains, saya rasa ini saatnya kita berperan untuk menjaga bumi dari kerusakan iklim dengan pendekatan spiritualitas atau dengan pendekatan agama,” ungkapnya.

“Dalam Islam juga sudah diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jadi, ketika penggunaan plastik sekali pakai yang berujung nyampah itu bisa mengotori bumi kita, maka kalau kita menggunakannya kita termasuk kaum yang tidak beriman,” imbuhnya.

Dia menuturkan, konsumen dan pedagang yang ada di Pasar Tebet Barat ini juga aktif dalam kajian yang diadakan di masjid yang ada di dekat Pasar Tebet Barat itu sendiri. Ia menilai hal ini merupakan kolaborasi yang benar-benar tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya plastik sekali pakai dalam sudut pandang keagamaan.

Selama hampir 10 bulan berlangsung, program ini sudah melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pedagang, konsumen, dan masyarakat di sekitar Pasar Tebet Barat.

Beberapa kegiatan baru yang dilakukan adalah pengadaan dropbox peminjaman kantong belanja untuk konsumen dan aktivitas bersama DKM Pasar Tebet Barat, seperti tafsir Al Qur’an, pembagian risalah Jum’at, khutbah Jumat, dan lain sebagainya.

“Adapun pencapaian yang sudah terjadi sebagai dampak kegiatan-kegiatan di atas adalah semakin menurunnya jumlah kios yang tidak menyediakan kantong plastik, dimana pada uji coba pertama turun sebesar 57% dan tahun ini terdapat tambahan penurunan jumlah kios sekitar hingga 17% yang juga berdampak pada penurunan jumlah kantong plastik,” ungkapnya.

Selain itu, kata Hening yang juga direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah itu, pedagang menunjukkan sikap dan motivasi yang tergolong tinggi dalam mengurangi plastik sekali pakai.

“Hal ini terjadi pada seluruh aspek, mulai dari alasan perbaikan lingkungan, petunjuk dari ustadz atau guru agama, serta yang berasal dari ajaran agama,” tutupnya.

Sebagaimana informasi, Pasar Bebas Plastik merupakan sebuah program uji coba pasar percontohan bebas plastik yang merupakan kolaborasi antara Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dengan pengelola pasar tradisional di daerah (Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Bogor, Surabaya, Denpasar, dan Gianyar).

Kegiatan ini sudah dimulai sejak Desember 2019 di Pasar Tebet Barat, Jakarta. Aktivitas utama program ini adalah sebagai berikut:

(1) Standard operational procedure training, pelatihan tata cara bertransaksi bebas plastik antara pedagang dengan konsumen.

(2) Focus group discussion, pedagang, pemerintah kota,bkomunitas lokal dan pengelola pasar tradisional berdiskusi guna mencari alternatif ide dan solusi untuk mensukseskan program pasar bebas plastik di masing-masing wilayah.

(3) Rampok plastik, bentuk edukasi yang dilakukan kepada konsumen dengan cara menukar kantong plastik yang digunakan dengan kantong guna ulang.

(4) Riset konsumsi plastik, menghitung penurunan atau peningkatan konsumsi plastik sekali pakai pada saat program berjalan.

(5) Publikasi program, menyebarluaskan informasi program kepada para konsumen dan juga masyarakat luas yang berada di sekitar area pasar percontohan melalui sosial media, talkshow, press conference dan pemasangan materi visual di area pasar. (Iwan Abdul Gani/Hening Parlan/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini