Loss Democration: Antara Jokowi dan Fir’aun

0
46
Kiai Nurbani Yusuf, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Dengan 207 juta kepala yang punya hak memilih dan dipilih, kira-kira sistem apa yang paling cocok dan sesuai untuk memerintah?

Alih-alih hidup makmur, adil, dan sejahtera, bukankah demokrasi tidak didesain untuk itu, tapi sebaliknya memangkas kehendak ratusan juta orang agar tak banyak berkata, diringkas dalam satu gambar yang dipilih kemudian diberi mutlak berkuasa. Jadi siapa sebenarnya yang bikin tiran?

Demokrasi adalah ikhtiar memutus mata rantai kekuasaan agar tidak memanjang dan meluas, tapi diringkas agar simpel dan efisien—jadi demokrasi itu bukan tujuan, hanya salah satu alat atau media untuk mudah berkuasa. Belum ada kajian apakah ada korelasi antara demokrasi dengan hidup susah, ketidakadilan atau berbagai kezaliman.

Seorang ulama datang menghadap kepada khalifah Harun Al Rasyid, ia berkata akan memberikan nasihat dengan keras sehubungan dengan berbagai kezaliman dan kesengsaraan yang menimpa rakyat kebanyakan.

Sebelum ulama bernasihat, khalifah Harun Al Rasyid balik bertanya: di dunia ini apa ada raja selalim Firaun yang mengaku dirinya Tuhan, berkuasa sewenang-wenang tanpa batas dan menyengsarakan rakyat banyak? “Tidak ada,” jawab ulama itu tegas.

Kepada Firaun yang lalim saja Tuhan memerintahkan Musa dan Harun untuk mengedepankan adab, berkata sopan dan lemah lembut, bahkan Tuhan pun mendoakan kepada Firaun raja lalim itu supaya takut dan ingat (Thaha 41-43)—berarti aku lebih berhak didoakan dan mendapat perlakuan baik dan sopan, lebih dari si lalim Firaun, jawab khalifah. Sontak ulama tadi beringsut mundur, tak jadi bernasihat karena kalah alim.

Loss democration menyediakan ketersediaan ruang publik bagi khalayak untuk menyampaikan aspirasi dan kehendak, semua bicara bahkan yang seharusnya tidak bicara—aspirasi tanpa batas, kritik tanpa adab.

Jika rakyat dan penguasa saling curiga akibatnya fatal—jadi jelas mana yang harus diubah, sistemnya atau orang-orangnya yang berkuasa—bukankah pemimpin adalah cermin kata al Mawardi. Pemimpin baik lahir dari masyarakat baik, pemimpin culas lahir dari masyarakat culas. Tesis ini begitu gamblang menggambarkan realitas.

Dalam diskursus politik kekuasaan modern hampir semua sepakat bahwa demokrasi adalah cara memerintah terbaik dibanding kerajaan, monarki, bahkan khilafah sekalipun. Jadi apa yang sebenarnya kita inginkan? Perubahan sistem atau orang?

Mungkin saja seorang khalifah atau raja atau presiden atau emir ditakdirkan menjadi ‘wakil Tuhan’ di bumi yang bisa dilihat. Dengan begitu semua kehendak dan harapan tumpah, termasuk sumpah serapah akibat kesal—di saat itulah kekuasaan menemukan makrifatnya dalam ketenangan dan kesahajaan di tengah amuk massa karena penderitaan dan ketidakadilan. Wallahu taala a’lam. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini