Maaf! Kami Tidak Shalat Tarawih, tapi Qiyamu Ramadhan

0
704
Nurbani Yusuf. (Dok Facebook)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Ini hanya ibadah sunah yang dianjurkan, tak dikerjakan pun tak mengapa. Di atas semua itu: “Dahulukan adab bila terjadi ikhtilaf di antara para ulama.” Itulah prinsip yang saya kedepankan. Jadi jangan berisik, malu sama agama sebelah.

Qiyamu Ramadhan, shalat Tahajud, shalat Witir, dan qiyamu lail adalah sama. Bukan Tarawih seperti yang dipahami umumnya. Yang kemudian berakibat kacau saling menafikan. Saya coba tarik garis demarkasi semata untuk menjelaskan, bukan untuk merasa paling benar.

Qiyam Ramadhan dikerjakan Nabi saw dan para sahabatnya, sedang Tarawih dikerjakann pada masa Khalifah Umar dan setelahnya. Dan kami mengambilnya langsung dari Rasulullah saw betapapun itu.

Bukan maksud kami menyelisihi Khalifah Umar dan para sahabat lainnya yang mengerjakan Tarawih. Kami hanya ingin meneladani apa yang dikerjakan Nabi saw dan jangan pula bertanya mazhab kami apa hanya karena kami mengerjakan Qiyam Ramadhan bukan Tarawih.

Inilah hujjah kami: insya Allah lebih kuat lebih valid dan lebih sahih sambung-menyambung dan saling menguatkan dari junjungan kami Rasulullah saw yang dikabarkan:

‎عَن أَبي هريرة قال كان رسول الله ص.م يُرَغِّبُ في قِياَمِ رَمَضَان مِن غَيرِ أَن يأمُرهم بَعَزِيمة فيقولمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه (رواه البخاري و اللفظ المسلم)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Adalah Rasulullah saw menganjurkan mereka untuk melakukan Qiyamu Ramadhan. tetapi tidak mewajibkan, sebagaimana sabda Nabi saw: Barang siapa yang terjaga (melakukan qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dan lafalnya adalah lafal Muslim)

Hukum Qiyamu Ramadhan

Qiyamu Ramadhan adalah sunah yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan. Hukumnya sunah dan tidak wajib. Hal ini dapat dilihat dari hadits Ibnu Abbas yang dikutip di muka dan hadits Aisyah berikut:

‎عن ابن شهاب قال أخبرني عروة أن عائشة أخبرته أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج ذات ليلة من جوف الليل فصلى في المسجد فصلى رجال بصلاته فأصبح الناس فتحدثوا فاجتمع أكثر منهم فصلوا معه فأصبح الناس فتحدثوا فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلوا بصلاته فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله حتى خرج لصلاة الصبح فلما قضى الفجر أقبل على الناس فتشهد ثم قال أما بعد فإنه لم يخف علي مكانكم لكني خشيت أن تفرض عليكم فتعجزوا عنه. (رواه البخاري و المسلم)

Diriwayatkan dari Ibnu Syihab (dikabarkan bahwa) ia berkata: ‘Urwah menyampaikan kepada saya bahwa Aisyah telah memberitakan bahwa Rasulullah saw pada suatu malam (di bulan Ramadhan) berangkat ke masjid dan mendirikan shalat di sana. Kemudian orang banyak mengikuti beliau. Keesokan harinya orang bercerita tentang shalat Rasulullah saw. itu sehingga jamaah semakin banyak. Keesokan harinya orang juga bercerita lagi sehingga pada malam keempat jamaah tidak lagi tertampung di masjid itu. Paginya, setelah selesai shalat Shubuh Nabi berkata: ‘amma ba’du. Sesungguhnya aku tahu kemampuan kalian. Akan tetapi aku ragu bila shalat Tarawih itu diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak mengerjakannya (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jumlah Rakaat Qiyamu Ramadhan

Pada dasarnya Qiyamu Ramadhan, shalat Tahajud, shalat Witir, dan qiyamu lail adalah sama. Dengan demikian jumlah rakaat Qiyamu Ramadhan adalah 11 rakaat. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Abi Salamah bin Abdirrahman ketika beliau bertanya pada Aisyah (istri Rasulullah).

‎كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ ؟ قَالَتْ : ” مَا كَانَ الرسول الله ص.م يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا. ( رواه البخاري)

Bagaimana shalatnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan? Aisyiyah menjawab: Tidaklah Rasulullah saw. menambah baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat maka janganlah kamu tanyakan bagus dan lamanya, kemudian beliau shalat empat rakaat, maka janganlah kamu tanyakan bagus dan lamanya, kemudian beliau mengerjakan shalat tiga rakaat (HR al-Bukhari).

Tata Cara Pelaksanaan Qiyamu Ramadhan

Beberapa hadits Nabi saw yang terdapat dalam Kitab Himpunan Putusan Tarjih hal 346-354 menjelaskan bahwa kaifiyat (tata cara) Qiyamu Ramadhan adalah sebagai berikut.

  1. Diawali dengan melaksanakan shalat iftitah 2 rakaat (rak’atain khofifatain). Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Muslim sebagai berikut:

‎عَنْ اَبِى هُرَيْرَة عَنِ النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:إِذَا قاَمَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَحْ صَلاَتَهُ بَرَكْعَتَيْنِ خَفِفَتَيْنِ.(رواه مسلم)

Diriwayatkan dari dari Abi Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda: Apabila di antaramu akan melakukan shalat malam, hendaklah membukanya dengan dua rakaat yang ringan-ringan. (HR Muslim)

  1. Cara melaksanakan shalat iftitah 2 rakaat, yaitu pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram membaca doa iftitah: “Subhanallah Dzil Malakuut wal Jabaruut wal Kibriyaa-i wal ‘Adzomah”, lalu membaca “al-Fatihah”.

Dan pada rakaat kedua hanya membaca Al-Fatihah. Adapun bacaan lainnya seperti; bacaan pada waktu ruku, sujud, dan lainnya sama bacaannya seperti dalam shalat biasa.

‎عَن حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَانِ قَالَ : أَتَيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ ، فَتَوَضَّأَ وَقَامَ يُصَلِّي ، فَأَتَيْتُهُ ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِه ، فَأَقَامَنيَ عَنْ يَمِيْنهِ ، فَكَبَّرَ ، فَقَالَ : سُبْحَانَ اللهِ ذِي اْلَمَلَكُوْتِ ، وَالْجَبَرَوت ، وَالْكِبْرِيَاءِ ، وَالْعَظَمَةِ – اَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِى فِى اْلأَوْسَطِ وَقَالَ فِى مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ: رِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ: الجزء الول: 107

Dari Khuzaifah al-Yamany ia berkata: Pada suatu malam aku pernah dapat pada Nabi saw., kemudian beliau berwudhu dan mendirikan shalat. Maka aku menghampiri beliau di sebelah kirinya, lalu aku ditempatkan di sebelah kanannya. Maka beliau membaca “Subhanallah Dzil Malakuut wal-Jabaruut wal Kibriyaa-i wal ‘Adzamah. (Majma’ az-Zawaid wa Manba’ al-Fawaiid, 2:107)

‎أَنَّ كُرَيْبًا مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَ بِتُّ عِنْدَهُ لَيْلَةً وَهُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَنَامَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفُهُ اسْتَيْقَظَ فَقَامَ إِلَى شَنٍّ فِيهِ مَاءٌ فَتَوَضَّأَ وَتَوَضَّأْتُ مَعَهُ ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي كَأَنَّهُ يَمَسُّ أُذُنِي كَأَنَّهُ يُوقِظُنِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَدْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى حَتَّى صَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ ثُمَّ نَامَ فَأَتَاهُ بِلَالٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى لِلنَّاسِ – رواه أبو داود:الصلاة: فى صلاة الليل:1157

Sungguh Kuraib ibnu Abbas, ia menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas; Bagaimana shalatnya Rasulullah saw pada malam hari. Saya bermalam di tempat, sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maemunah…, maka beliau shalat dua rakaat ringan-ringan-ringan, beliau membaca Ummul Qur’an pada setiap rakaat kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau shalat sebelas rakaat (HR Abu Daud).

  1. Pelaksanaan shalat khafifatain yang dua rakaat itu sebagaimana halnya pelaksanaan 11 rakaat dapat dilakukan secara berjamaah (hadits Ibnu Abbas dari Kuraib).
  2. Setelah itu, melaksanakan shalat sebelas rakaat. Beberapa hadits Nabi saw menjelaskan bahwa Qiyamu Ramadhan dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, di antaranya:
  3. Melaksanakan 4 rakaat + 4 rakaat + 3 rakaat = 11 rakaat

Qiyamu Ramadhan yang jumlah rakaatnya 11 dapat dilaksanakan dengan cara 4 rakaat satu salam, 4 rakaat satu salam kemudian 3 rakaat satu salam. Tata cara semacam ini didasarkan pada beberapa hadits, diantaranya;

‎عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abi Salamah bi Abdirrahman, sesungguhnya ia telah bertanya pada Aisyah ra.: Bagaimana shalatnya Rasulullah saw. di bulan Ramadhan? Aisyah menjawab: Tidaklah Rasulullah saw menambah baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat maka jangan tanyakan bagus dan lamanya, kemudian belaiu shalat empat rakaat maka janganlah kamu tanyakan bagus dan lamanya, kemudian beliau mengerjakan shalat tiga rakaat. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Nabi menjawab: Ya Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur.” (HR Muslim)

  1. 2 (rak’ataian khafifatain) 2 rakaat + 2 rakaat + 2 rakaat + 2 rakaat + 2 rakaat + 1 rakaat – 13 rakaat

Cara melaksanakan qiyamu Ramadhan 13 rakaat tersebut dimulai dengan 2 rakaat khofifatain dilakun dengan 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat kemudian witir 1 rakaat. Hal ini berdasar pada beberapa hadits, diantaranya;

‎عَنْ زَيْدِ بِنْ خَالِدٍ الْجُهَنَيِّ أَنَّهُ قَالَ لَاَرْمُقَنّ صَلَاةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم الَّيْلة فَصَلّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ الَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ الَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ الَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ الَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ اَوْتَرَفَذاَلِكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Huhany bahwa ia berkata: Benar-benar aku akan mengamati shalat Rasulullah saw pada malam ini, beliau shalat dua rakaat khafifatain, lalu beliau shalat dua rakaat panjang-panjang keduanya, kemudian shalat dua rakaat yang kurang panjang dari shalat sebelumnya, lalu beliau shalat lagi dua rakaat yang kurang lagi dari shalat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat yang kurang lagi dari sahalat sebelumnya, lalu beliau shalat lagi dua rakaat yang kurang lagi dari shalat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat yang kurang lagi dari shalat sebelumnya, dan beliau melakukan witir (satu rakaat). Demikianlah (shalat) tiga belas rakaat”(HR Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi saw pernah melakukan shalat malam 13 rakaat.

Dimulai dengan 2 rakaat yang ringan-ringan dilanjutkan dengan 11 rakaat.

  1. Setelah shalat witir selesai, kemudian membaca kalimat “Subhaanal malikil Quddus” 3 kali dengan suara nyaring dan panjang pada bacaan yang ketiga. Lalu membaca “Rabbil Malaaikati Warruuh” “Rabbil Malaaikati Warruuh”.

Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Ubah bin Ka’ab sebagai berikut;

‎كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِى الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى و َ قُلْ يَآأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَاِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Adalah Rasulullah saw pada shalat witir membaca “Sabbihis marabbikal a’la” dan “Qurl yaa ayyuhal Kafirrun” dan “Qul huwallahu Ahad”. Kemudian apabila telah selesai mengucapkan salam beliau membaca “Subhaanal malikil Quddus” tiga kali (HR an-Nasai)

Juga hadits riwayat Abdirrahman sebagai berikut:

“Adalah Rasulullah saw beliau melakukan (shalat) witir dengan membaca “Sabbihis marabbikal a’la, dan “Qul yaa ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila telah selesai salam, beliau membacda “Subhannal malikil Quddus” tiga kali dan memanjangkan dan meninggikan suaranya pada (bacaan)ketiga” (HR an-Nasai)

‎كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِى يُوْتِرُ بِسَبِّحْاِسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى و َ قُلْ يَآأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَاِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَمُدّ ُصَوْتَهُ فِى الثَّالَثَةِ ثُمَّ يَرْفَعُ – انسـأى

dan Lafadz ad-Daruquthni: Apabila beliau selesai mengucapkan salam, beliau membaca “Subhaanal malikil Quddus” tiga kali dan memangjangkan bacaannya, kemudian beliau membaca: Rabbil Malaikati war Ruuh”.

‎و لفظا الدرالقطنى : اِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَمُدّ ُصَوْتَهُ وَيَقُوْلُ رَبُّ الْمَلَإِىكَةُ وَالرُّوْحُ – رواه الطلرانى

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here