Mahasiswa UMM Bantu Masyarakat Manfaatkan Limbah Kedelai Jadi Abon

0
44
Mahasiswa UMM bersama warga Desa Tanjungtani saat produksi abon dari limbah kedelai. (Wildan/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Limbah produksi masih menjadi momok tersendiri. Mulai kurangnya usaha daur ulang hingga perusakan lingkungan. Melihat masalah tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan pemanfaatan limbah kulit kedelai kepada masyarakat Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Pengabdian ini dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang telah lolos pendanaan dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu.

Siti Mariyatul Qibliyah, ketua kelompok, menceritakan bahwa Desa Tanjungtani menjadi salah satu sentral tempe dan tahu di Nganjuk. Sayangnya, limbah produksi kulit ari kedelai tidak dimanfaatkan dengan baik. Hanya segelintir orang yang melakukan pemanfaatan ulang. Ia dan yang melihat adanya peluang bagi warga setempat kemudian mencoba memanfaatkan kulit ari kedelai tersebut.

“Kami melihat adanya peluang pada memanfaatkan kulit ari kedelai ini menjadi produk yang memiliki nilai jual,” imbuhnya.

Adapun proyek PKM-PM ini mereka targetkan kepada ibu-ibu PKK sebagai mitra. Ia dan tim telah melakukan pendampingan sejak bulan Juni hingga Agustus. Terhitung sudah 18 kali mereka mendampingi dalam berbagai aktivitas. Ibu-ibu PKK yang menjadi mitra diajarkan bagaimana memanfaatkan kulit ari kedelai hingga akhirnya menjadi abon dan mendapatkan label produk. Juga diajarkan cara distribusi produk dan uji kandungan pada lembaga pemerintah.

Selain materi teknis, adapula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-Ibu Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan pengeluaran dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depan.

Siti juga mencerikatan bahwa penadampingan yang dilakukan berefek positif pada masyarakat. Mereka dapat memproduksi dan memasaran secara mandiri. Adapun harga produk abon dipatok di kisaran Rp 15.000-Rp 20.000.

“Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” tambahnya.

PKM dengan judul “Penambahan Nilai Ekonomi Abon Kulit Ari Kedelai Sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Tanjungtani Prambon Nganjuk” ini digarap oleh Siti Mariyatul Qibliyah, Hanifa Rizky Rahmawati dan Allifia Nisa’ Cholida. Mereka tergabung dalam dalam satu selompok.

Siti yang juga mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini berharap bisa terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi Desa Tanjungtani. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here