Membesarkan Sekolah dengan Strategi Growth Mindset dan Change Mindset

0
120
Dr Mulyana AZ SPd MSi mengisi Workshop dan Motivasi Etos Kerja Menuju Sukses PPDB 2023-2024 di SMK Muhammadiyah 1 Probolinggo. ((Uswatun Chasanah/Zeny Dwi Marta/KLIKMU.CO)

Probolinggo, KLIKMU.CO – SMK Muhammadiyah 1 Probolinggo (Muhipro) menggelar Workshop dan Motivasi Etos Kerja Menuju Sukses PPDB 2023-2024 dengan menghadirkan motivator Muhammadiyah, Dr Mulyana AZ SPd MSi, Jumat (21/1/22) di aula SMK Muhipro, Probolinggo.  Kegiatan yang diikuti 56 peserta ini bertujuan untuk memotivasi etos kerja guru dan juga menyukseskan PPDB tahun 2023-2024.

Kepala Sekolah SMK Muhipro Tri Gusmienarti mengatakan bahwa workshop ini diharapkan dapat membantu sekolah untuk menemukan strategi baru dalam mencari siswa baru dan juga memotivasi guru agar lebih semangat lagi dalam berjuang.

Sementara itu, Mulyana mengawali kegiatan dengan melemparkan materi “Mengelola Growth Mindset dan Change Mindset untuk Membesarkan Sekolah dan Sukses PPDB.”

“Apakah sebenarnya growth mindset dan change mindset itu?” tanaya doktor psikologi lulusan Universitas Airlangga ini. Peserta diam dan membisu sejenak.

Menurutnya, growth mindset berarti bahwa guru harus memiliki keyakinan bahwa kita akan mampu menumbuhkembangkan sekolah ini. Lalu, change mindset berarti  kemampuan mengubah pola pikir kita sendiri untuk mampu membesarkan sekolah ini.

“Jika kita guru-guru SMKM Kota Probolinggo ini memiliki growth mindset dan change mindset, untuk menjadikan sekolah ini menjadi besar, unggul, dan favorit itu gampang,” ujarnya.

“Yakin bahwa sekolah ini dapat  tumbuh besar, yakin bahwa sekolah ini memiliki murid yang banyak, yakin gurunya dapat sejahtera, itu penting. Itulah pentingnya mengubah pola pikir agar selalu tumbuh dan berkembang untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah,” imbuhnya.

Menurut dosen Psikologi UM Surabaya ini, masih banyak guru di sekolah Muhammadiyah yang memiliki penyakit pola pikir fixed mindset. Apakah fixed mindset itu? Yakni, pola pikir yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, merasa nyaman dengan kondisi hari ini, merasa tidak butuh bantuan orang lain, dan tidak mempedulikan perubahan sehingga mereka cenderung pasif dan apatis.

Dalam workshop sehari ini, Ketua Litbang SD Muhammadiyah 4 Surabaya ini juga mengenalkan adversity quotient, yaitu kecerdasan dalam mengatasi masalah. Konsep adversity quotient adalah kemampuan seseorang/guru dalam menghadapi kegagalan atau tantangan sehingga orang tersebut mampu mencapai keberhasilan.

“Lebih lanjut, Mulyana menjelaskan ada tiga tipe dalam adversity quotient, yaitu tipe quitter, tipe camper, dan tipe climber. “Setiap tipe memiliki karakteristik berbeda dan cara penanganan yang berbeda pula,” paparnya. 

Tipe quitter memiliki kharakter malas, mudah menyerah, tidak mau belajar, gaptek, tidak mau berusaha, gampang putus asa, tidak mau repot, suka mengeluh, sering merasa tuigasnya banyak. Guru hanya mau mengerjakan tugas tanpa ikut berpikir membesarkan sekolah. Guru kurang proaktif, guru cenderung menyalahkan pimpinan dan pimpinan juga cenderung menyalahkan bawahan.

Sedangkan tipe camper memiliki karakter aktif datang ke sekolah (tidak mbolos), tetapi tidak pernah mau repot dan tidak peduli dengan kondisi sekolah. Hanya mau mengerjakan tugas pokoknya, tidak tertarik membantu guru lain, tidak mau menjadi panitia di sekolah. Tidak mau mengembangkan diri dan senang di zona nyaman.

Lalu, tipe climber tipe guru yang selalu optimistis, pantang menyerah dan datang pagi pulang petang, etos tinggi, bersemangat, tidak pernah mengeluh, dapat menjadi cahaya pencerah kesuksesan dan selalu menjadi panutan bagi rekan kerjanya dan menjadi pusat konsultasi.

“Dalam mengelola PPDB guru-guru di SMKM Kota Probolinggo tentunya akan menghadapi tantangan dan kesulitan. maka hanya guru yang memiliki jiwa climbers yang akan keluar sebagai pemenangnya,” papar Mulyana mengakiri workshopnya. (Uswatun Chasanah/Zeny Dwi Marta/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini