Mendidik Anak ala Filosofi Pohon Bambu

0
68
Mendidik anak ala filosofi pohon bambu. (Ilustrasi internet)

Oleh: Dian Yuniar *)

KLIKMU.CO

Seperti yang kita tahu, anak adalah titipan Sang Pencipta. Ia adalah amanah di pundak orang tuanya. Maka sudah seharusnya setiap orang tua menjaga anak-anak mereka, seperti firman Allah SWT pada Qur’an surah At Tahrim ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah 19 malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Golden age merupakan masa-masa krusial untuk tumbuh kembang anak. Otak anak usia 1-5 tahun akan menerima dan merekam semua yang dilihat dan dialaminya, dan kebanyakan para orang tua tidak menyadarinya karena seperti tak berdampak. Namun, justru di usia inilah peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak-anak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dasar, terutama ilmu agama, ibarat sebuah gedung yang butuh fondasi untuk menopang bangunannya agar kokoh dan tidak hancur.

Seperti pohon bambu, yang secara kasatmata tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama lima tahun pertama, ukurannya hanya puluhan sentimeter saja. Namun, setelah lima tahun berjalan, di sini pertumbuhan pohon bambu sangat pesat dan ukurannya tidak lagi dalam sentimeter, melainkan meter. Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada pohon bambu?

Ternyata selama lima tahun pertama, ia mengalami pertumbuhan yang dahsyat pada akar, dan pada batang nyaris tidak menunjukkan apa-apa, itu karena pohon bambu sedang mempersiapkan fondasi yang kuat, agar nantinya bisa menopang ketinggian batangnya yang berpuluh puluh meter kelak dikemudian hari.

Karena pohon bambu tumbuhnya hanya lurus, jadi harus kuat dari bawah supaya saat pohon bambu ditiup angin kencang. Ia akan mampu mempertahankan batangnya untuk tidak ambruk, biasanya ia akan merunduk dan seperti terombang ambing dan mengeluarkan suara yang menyiratkan akan tumbang, tetapi setelah angin berlalu, ia akan kembali berdiri tegak.

Nilai moral yang bisa kita ambil dari filosofi pohon bambu ini adalah ilmu agama wajib menjadi ilmu pertama yang diajarkan pada anak, terutama masa balita atau golden age agar bekal agama mengakar pada jiwa si anak, sehingga jika nanti mengalami ujian hidup kedepannya bisa tetap kuat dan tegar berdiri karena memiliki fondasi agama yang sudah mengakar itu tadi.

Sehingga kegagalan bukan lagi hambatan untuk terus berjuang, justru kita mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri kita. Karena perjalanan hidup seorang manusia yang tak pernah lepas dari cobaan dan rintangan. Dengan fondasi agama, ia akan sabar dan tegar dengan segala ujian hidup, pendek kata tidak cepat berputus asa.

Ibarat barang elektronik, yang dalam menjalankan mesinnya butuh buku manual, agar tidak melenceng dari petunjuk pengoperasian. Demikian pula dengan manusia, di dalam menjalankan kehidupannya membutuhkan buku manual sebagai petunjuk untuk menjalankan kehidupannya agar tidak melenceng dari kebenaran, dan buku manual itu adalah Al-Qur’an dan hadist.

Anak-anak yang tumbuh dengan fondasi agama yang baik sejak awal akan memiliki jiwa yang baik pula, dan anak-anak yang sholeh-sholeha akan membawa orang tuanya ke dalam surga, seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW yang artinya: “Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Ahmad 9079, Muslim 4310, Abu Daud 2882)

Dian Yuniar, pengurus MPS PCM Ngagel, Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here