21 Februari 2026
Surabaya, Indonesia
Berita

Meneguhkan Integritas Kader di Era Digital, Tapak Suci UMSURA Gelar General Stadium

Anang Dony Irawan menyampaikan materi “Integritas dan Etika dalam Organisasi” di acara General Stadium di UMSURA. (Putri Nur Fauziah/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Upaya penguatan karakter dan kepemimpinan kader terus dilakukan oleh Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang 19 Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) melalui kegiatan General Stadium yang digelar di Lantai 13 Gedung At-Tauhid, Ahad (15/2/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang pembekalan strategis bagi para siswa dan kader, khususnya dalam menakar urgensi integritas dan etika di tengah tantangan disrupsi digital dalam kehidupan berorganisasi. Isu etika dan integritas dinilai semakin krusial seiring pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika sosial.

Sesi terakhir General Stadium diisi oleh Pendekar Muda Anang Dony Irawan, yang menyampaikan materi bertajuk “Integritas dan Etika dalam Organisasi”. Hal ini menjadi penegasan nilai-nilai dasar yang harus dimiliki setiap kader dalam menjalankan amanah organisasi.

Materi ini disampaikan dalam rangkaian pelantikan pengurus organisasi, dengan penekanan pada pentingnya menyelaraskan nilai, ucapan, dan tindakan sebagai fondasi utama membangun kepercayaan.

Dalam paparannya, Anang menekankan pentingnya keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan serta menjaga marwah organisasi. Menurutnya, integritas bukan sekadar konsep normatif, melainkan karakter yang harus tercermin dalam setiap keputusan dan perilaku kader.

Krisis Keteladanan dan Tantangan Zaman

Dalam pemaparannya, Anang menyoroti fenomena krisis keteladanan di kalangan mahasiswa. Penyalahgunaan jabatan serta konflik internal akibat ego pribadi dinilai menjadi hambatan serius bagi kemajuan organisasi.

“Integritas adalah fondasi kepercayaan yang harus ada dalam setiap organisasi, salah satunya Tapak Suci. Tanpa nilai itu, sebuah organisasi akan rapuh,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa era digital menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Budaya instan dan senioritas yang tidak sehat (toxic) kerap menggerus proses kaderisasi yang ideal. Media sosial, menurutnya, kini menjadi cermin identitas kader sekaligus wajah organisasi.

“Integritas bukan sekadar kata, melainkan keselarasan antara nilai yang diyakini, ucapan yang dilontarkan, dan tindakan yang dilakukan,” lanjutnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, setiap unggahan, komentar, dan konten yang dibagikan mencerminkan identitas sebagai kader. Citra organisasi, katanya, bukan dibangun oleh desain yang indah, tetapi oleh perilaku anggotanya.

Etika dalam Ruang Organisasi

Masih dengan Anang Dony, ia membedah bagaimana etika harus bekerja dalam ruang-ruang rapat dan pengambilan keputusan. Beberapa prinsip fundamental yang ditekankan antara lain:

  • Transparansi Radikal: Laporan keuangan dan administrasi publik sebagai bentuk tanggung jawab moral.
  • Kritik Berbasis Adab: Mahasiswa dituntut tajam dalam berpikir, namun santun dalam bersikap. Kritik harus berorientasi solusi melalui musyawarah, bukan menjatuhkan.
  • Konsistensi Sikap: Kader yang kuat tetap berdiri di atas kebenaran meski tanpa pengawasan.

Menurutnya, pemimpin yang berintegritas adalah sosok yang memegang teguh nilai amanah, transparan, adil, dan visioner. “Pemimpin tidak hanya berdiri di depan untuk memerintah, tetapi untuk menjadi teladan (uswatun hasanah),” ujarnya.

Anang Dony Irawan (dua dari kanan) bersama para atlet Tapak Suci UMSURA. (Putri Nur Fauziah/KLIKMU.CO)

Lima Pilar Kepribadian Unggul

Sebagai jawaban atas tantangan zaman, ia merumuskan lima pilar kepribadian unggul yang harus dimiliki kader:

1. Spiritual─Menjadikan iman sebagai kemudi moral tertinggi. Nilai ini selaras dengan semboyan Tapak Suci: “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah”.

2. Mental─Memiliki daya tahan dalam menghadapi tekanan dan dinamika organisasi.

3. Emosional ─Cerdas mengelola ego, membangun empati, dan merangkul perbedaan.

4. Fisik─Kesiapan jasmani dalam menjalankan amanah perjuangan, sejalan dengan karakter Tapak Suci sebagai organisasi keatletan.

5. Intelektual─Ketajaman nalar dan keluasan wawasan untuk menganalisis persoalan serta menyebarkan nilai kebaikan.

Menjemput Marwah Organisasi

Mengakhiri materinya, Anang menegaskan bahwa menjadi kader bukan sekadar menghafal jurus, tetapi menghidupi nilai-nilainya dalam keseharian. Kader sejati adalah mereka yang kokoh dalam prinsip, namun tetap santun dalam akhlak.

Momentum ini menjadi refleksi bersama bahwa integritas adalah janji suci dalam menjaga amanah organisasi. Di tengah era disrupsi, marwah organisasi hanya dapat dijaga oleh kader-kader yang berkarakter kuat, beretika, dan berkomitmen pada nilai-nilai luhur perjuangan.

(Putri Nur Fauziah/Muri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *