Oleh: Ace Somantri
Wakil Ketua PWM Jawa Barat

Ahlan wa sahlan marhaban ya Ramadhan. Kerinduan kami untuk kembali bertemu denganmu akhirnya terpenuhi. Atas izin dan kehendak-Nya, alhamdulillah selama satu bulan ke depan kita akan bercengkrama dan berpelukan dalam kekhusyukan.
Hari-hari awal Ramadhan menjadi masa adaptasi waktu dan pola makan, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak usia belia. Sambutan hangat, ceria, dan bahagia terpancar dari umat Muslim atas kedatangannya. Tanpa syarat, Ramadhan dijalani dengan penuh khidmat. Anak-anak hingga orang tua lanjut usia bercengkrama di rumah dan masjid dalam balutan kebahagiaan. Canda tawa anak-anak menjelang Maghrib menambah suasana semakin ceria. Begitulah setiap tahun ketika bulan suci Ramadhan tiba. Keberkahannya tak terbatas ruang dan waktu, menembus langit, memberitahu Sang Pemilik alam semesta.
Ada beberapa hal penting yang perlu disadari. Ketika bulan suci Ramadhan tiba, setiap Muslim diharapkan menyiapkan mental, spiritual, dan jasad lahiriah. Pemanasan diperlukan agar tubuh tidak kaget menerima perubahan pola makan dan tidur. Hal ini terutama dialami anak-anak usia belia yang membutuhkan waktu beradaptasi.

Ramadhan selalu memiliki nilai tersendiri dibanding bulan lainnya. Ia disebut sebagai syahru ash-shiyam, syahru al-Qur’an, syahru al-barakah, syahru al-maghfirah, dan sebutan lainnya. Karena itu, Rasulullah Muhammad SAW merasa sangat sedih ketika Ramadhan akan berakhir, sebab berbagai kebahagiaan yang menyertainya pergi, entah akan kembali bertemu atau tidak. Sementara kita sebagai umatnya, terkadang biasa-biasa saja menyambut kedatangannya. Bahkan, bagi sebagian orang, Ramadhan justru dianggap mengganggu sikap kapitalistik dan hedonistik yang telah mapan.
Ramadhan dan Pilihan Keberagamaan
Ramadhan tahun ini kembali menghadirkan diskursus hangat. Sebagian umat Islam dihadapkan pada keputusan beragama secara kolektif dari ormas-ormas Islam besar yang memiliki otoritas penetapan waktu ibadah. Muhammadiyah, tahun ini, menetapkan awal puasa lebih awal.
Dengan pendekatan hisab global melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal shaum 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Ada kemungkinan Muhammadiyah lebih dahulu dibanding ormas Islam lainnya, termasuk keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang diprediksi jatuh pada 19 Februari 2026.
Langkah Muhammadiyah ini memiliki dasar strategis untuk kepentingan keumatan yang lebih luas. Pendekatan KHGT telah menjadi rekomendasi para ulama dari berbagai negara Muslim dalam beberapa tahun terakhir.
Perbedaan ini sah dan tidak mesti diperdebatkan, kecuali untuk memahami lebih dalam logika dan rasionalisasi di balik pilihan metodologi tersebut. Umat Islam kini semakin dewasa memahami perbedaan pendapat. Yang penting adalah kemampuan menjelaskan dan memahamkan publik tentang pilihan keberagamaan, khususnya terkait penetapan awal Ramadhan dan dua hari raya. Selain berlandaskan nash, terdapat pula rujukan rasional yang membuat keyakinan beragama lebih kokoh ketika diterima oleh nurani dan akal sehat, bukan akal emosional yang berujung hujatan dan sikap takfiri.
Menjaga Nalar Sehat dan Persaudaraan
Memulai puasa lebih awal bukanlah soal terbaik atau tidak. Namun, bagi mereka yang menerima logika dan alasannya, itulah pilihan terbaik. Demikian pula jika berbeda hari, selama nalar sehat mampu merasionalisasikannya. Yang harus dihindari adalah sikap merasa paling benar hingga meretakkan persaudaraan akibat perbedaan furu’iyah.
Muhammadiyah dalam beragama selalu melakukan dinamisasi keilmuan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi dasar persyarikatan untuk terus melakukan pembaruan melalui kajian strategis. Tujuannya adalah mewujudkan visi besar Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, baik di dunia maupun akhirat.
Pada dasarnya, semua manusia sama. Sandaran hidup dan kehidupan bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah ash-shahihah al-maqbulah. Titik tekan keberislaman terletak pada pengalaman spiritual individu, baik dalam ibadah mahdhah yang berdimensi vertikal (habluminallah) maupun ibadah ghairu mahdhah yang berdimensi horizontal (habluminannas).
Namun, Ramadhan memiliki keunikan tersendiri karena penetapan awalnya melibatkan pemerintah. Perbedaan sering memicu respons emosional umat. Padahal, kalender Masehi maupun Hijriah telah disusun secara pasti berdasarkan perhitungan astronomis. Bahkan jadwal salat lima waktu pun telah tertera rinci hingga menitnya. Khazanah keilmuan Islam sangat kaya, fleksibel, detail, dan visioner.
Karena itu, menyikapi awal Ramadhan seharusnya tidak berujung pada perdebatan tanpa ujung, apalagi perselisihan. Hal tersebut justru menunjukkan kemunduran.
Muhammadiyah menggunakan KHGT dengan prinsip ittihadul mathali’ (kesatuan matla’) dan parameter global, bukan kriteria lokal (muhammadiyah.or.id, 29/01/2026). Dalam istilah lama, ini dikenal sebagai “transfer wujud”, yakni dari mana pun matla’ memenuhi kriteria, dapat dijadikan rujukan penentuan tanggal yang mengikat seluruh bulan Hijriah.
Ramadhan tahun ini, berdasarkan perhitungan geosentrik, wilayah Bethel, Alaska, telah memenuhi kriteria dengan elongasi lebih dari 8 derajat dan ketinggian hilal melampaui 5 derajat. Demikian penjelasan Tim Astronomi Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Semoga shaum kita bukan hanya sah, tetapi juga diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin. Wallahu a‘lam. (*)
Bandung, Februari 2026








