Mengenang KH Andi Iskandar Tompo: Jual Mobil untuk Dakwah Muhammadiyah, Keluarga pun Tak Tahu

0
313
Almarhum KH Andi Iskandar Tompo semas hidup. (Khittah.co)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Kepergian Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, KH Andi Iskandar Tompo (Kamis, 2 September 2021) menghadap panggilan Allah Swt., merupakan duka cita yang mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah. Tidak hanya yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk pula teman-teman atau anak didik almarhum yang saat ini bertebaran di seluruh Indonesia.

Banyak kisah yang baik dan pengalaman hidup yang disampaikan berbagai kalangan tentang almarhum. Mulai dari kedudukannya sebagai Ketua IPM, Ketua Pemuda Muhammadiyah, Ketua BPKPAMM Sulsel, Wakil Ketua PWM Sulsel sampai beliau menjabat anggota DPRD Sulsel dan DPRD Kota Makassar. Semasa hidupnya, mantan Direktur Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar ini, sangat rajin memberikan bimbingan dan pendidikan kepada Angkatan Muda Muhammadiyah.

Satu di antara kenangan yang paling mendapat perhatian adalah kisah almarhum tentang menjual mobil miliknya, dimana uangnya dipakai untuk keperluan organisasi atau kegiatan dakwah. Ini sempat jadi viral di media sosial. Bahkan Ketua PP Muhammadiyah yang juga mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPI), H. Busro Muqoddas, mengaku turut memviralkan kisah sahabatnya tersebut.

Namun demikian, ternyata tidak banyak yang tahu akan hal ini. Bahkan di lingkungan keluarga almarhum, pun tidak pernah mendengar kisah ini. Seorang anak almarhum, dr. Ilham, dalam acara di Tribun Timur malam ini, mengaku sama sekali tidak pernah mengetahui kisah ini. Sedangkan istri almarhum, Hj. Chaeriyah Akib, mengatakan bahwa terdapat peristiwa atau persoalan yang terjadi di Muhammadiyah yang dialami oleh sang suami, tidak ceritakan kepadanya.

Berita tentang penjualan mobil untuk dakwah tersebut awalnya dimuat dalam media online, Majalah Khittah, milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Sumber beritanya adalah saya sendiri, ketika memberikan komentar duka cita. Saya tak secara sengaja menginginkan itu kisah tersebut dipublikasikan, ternyata pihak redaksi yang memuat dan bahkan menjadikannya sebagai judul berita.

Kemarin malam, redaksi harian Tribun Timur Makassar sengaja mengundang saya tampil memberikan testimoni dalam acara talk show mengenang almarhum. Beberapa narasumber lainnya dari kalangan aktivis Muhammadiyah pun ikut hadir. Acara ini disiarkan secara langsung melalui platform media sosial. Dalam kesempatan ini, kembali saya memperjelas kisah penjualan mobil dimaksud.

Itu saya ketahui saat saya menjadi staf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan awal tahun 1990-an. Saya hampir lima belas tahun, pernah bersama beliau. Melayani dan memenuhi keperluannya dalam bidang aministrasi dan urusan organisasi. Dalam satu pertemuan di kantor PWM Sulsel Jl. Gunung Lompobattang, Ujung Pandang, saya memang mendengar sendiri almarhum mengatakan demikian. Menjual mobilnya untuk urusan Muhammadiyah. Itulah yang saya ingat dari dedikasi dan keikhlasan almarhum dalam berjuang mengemban misi dakwah Persyarikatan.

Penjual mobil tersebut memang sudah lama. Sekitar tahun 1980-an. Saya sendiri belum tiba di Makassar. Posisi almarhum saat itu adalah Ketua Pemuda Muhammadiyah dan Ketua BPKPAMM Sulsel.  Saat ditanya oleh persenter acara kepada dr. Ilham (anak kandung paling bungsu), mengaku tidak tahu sama sekali. Perlu diketahui bawah usianya pada tahun 1980-an, masih balita. Sedangkan anggota keluarganya yang lain pun tidak tahu. Dan baru saat ini mereka mengetahui bahwa ayahandanya pernah melakukan hal yang demikian mulia.

Sebenarnya saya sempat merasa kurang nyaman dengan keadaan tersebut, karena tidak ada sama sekali data maupun informan lain yang mendukung testimoni ini. Kapan dijual, berapa harganya, untuk kegiatan apa? Tentu karena sudah sangat lama, tidak ada data atau saksinya. Apalagi pihak keluarga sama sekali tidak mengetahuinya.

Untungnya, seorang peserta atas nama Anwar, tiba-tiba angkat bicara.  Dia mengikuti acara talk show ini secara online langsung dari Kalimantan. Anwar adalah ponakan sekaligus pernah jadi sopir pribadi Pak Is. Sekarang Pak Anwar ini bermukim di Kalimantan, jadi dia tidak dapat datang ke rumah duka saat Pak Is meninggal dunia kemarin.

Menurut Pak Anwar, mobil yang dijual Pak Is itu adalah mobil kijang lama berwarna merah. Jika merujuk pada tahun 1980-an, biasanya mobil kijang demikian adalah mobil dinas camat di seluruh Indonesia.  Bahwa pada masa itu, memang Pak Is pernah menjadi direktur salah satu perusahaan swasta di Makassar. Akan tetapi berhenti jadi direktur karena sibuk dalam mengurusi Persyarikatan Muhammadiyah.

Sesungguhnya penjualan barang-barang pribadi untuk kegiatan dakwah Islam yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah pada masa lalu, bukanlah cerita baru. Bahkan ini sudah sering dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, menggadaikan perabotan rumahnya untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah. Ketika saya masih aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akhir tahun 1990-an, seorang Immawati (anggota perempuan), pernah menjual kalung emasnya untuk membiayai organisasi.

Mudah-mudahan amal jariyah dan segala dedikasi pun loyalitas almarhum saat mewakafkan diri untuk umat, menjadi ladang pahala di sisi Allah Swt. Lebih dari itu, menjadi pelajaran dan suri teladan bagi kader-kader pun pengurus Muhammadiyah saat ini dan masa yang akan datang. Amiin ya Rabbal alamin.

 

Gwynneville, 5/9/2021

Haidir Fitra Siagian, Dosen UIN Alauddin/Ketua PRIM NSW Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here