Mengenang KH Abdi Manab: Rumahnya Pernah Disinggahi M Natsir, Buya Hamka, hingga AR Fachruddin

0
737
KH Abdi Manab dalam cover buku "KH Abdi Manaf Sang Penggerak" karangan Suharyo AP.

Oleh: Suharyo AP

Suatu hari, saya kedatangan tamu pribadi alim mantan Ketua PDM Kabupaten Lumajang tahun 1980-an. Beliau Alm KH Abdi Manab.

Banyak petuah yang disampaikan. Saya menikmati. Di sela-sela jagongan, beliau bertanya, “Kabarnya baru membeli rumah?”. Saya jawab iya karena sudah 7 kali ngontrak. Terhadap jawaban saya, kiai tadi berkomentar, “Tidak apa-apa ngontrak, la wong Nabi Isa dulu nggak punya rumah juga kok,” jelasnya.

Mak jleb. Kaget tapi sadar. Kalimat seperti itu sering saya dapatkan dari Sang Kiai. Beliau luar biasa. Semasa menjadi Ketua PDM, marwah Muhammadiyah sangat terjaga, begitu wibawa. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu di Lumajang sangat dikenal dan berpengaruh.

Muhammadiyah begitu dominan. Menjadi tempat rujukan dalam mencari kemantapan hati para pejabat dan warga mulai persoalan agama, politik, sampai persoalan rumah tangga dan pribadi.

Saya pernah menulis biografi beliau dengan judul, KH Abdi Manab Sang Penggerak”. Buku sekitar 200 halaman itu banyak dipaparkan berbagai mutiara kehidupkan kiai, guru kehidupan bagi banyak orang. Dia hanya tamatan sekolah dasar dan mondok. Salah satu kelebihannya mampu membaca suara batin orang lain sehingga nasihat yang disampaikan pas, jitu, dan tembus ke dalam relung jiwa.

Di forum-forum seminar beliau mengatakan tidak ceramah ilmiah tetapi ceramah barokah. Materinya selalu up to date, di luar mainstream.

Pernah seorang profesor di Aceh di forum Muktamar Muhammadiyah menyatakan kekagumannya atas pikiran yang disampaikan dalam Kuliah Subuh di masjid setempat. Kiai Abdi Manab menyampaikan materi sebagai pengganti orang yang terjadwal tidak hadir.

Secara mendadak diminta tampil mengganti yang absen. Dan beliau memperkenalkan diri sebagai wakil ketua PDM Kabupaten Lumajang. Wakilnya saja seperti ini luas dan dalam materinya. Bagaimana kalau ketuanya yang tampil, kata sang guru besar mengomentari.

KH Abdi Manab sosok pribadi yang sudah selesai persoalan ekonomi keluarganya. Beliau pernah menolak ketika ada yang menghadiahi mobil baru untuk operasional dakwah.

Rumahnya –kalau malam hari– tidak pernah dikunci. Ada pejabat Pemda Lumajang bertanya mengapa tidak dikunci, beliau dengan tenang mengatakan bahwa pencuri itu yang menggerakkan hatinya Allah dan harta yang menjaga juga Allah. Kalau Allah tidak menggerakkan pencuri mengambil barang miliknya tidak terjadi pencurian.

KH Abdi Manab seorang petani, pekerja keras tetapi tidak menggebu-gebu alias kemrungsu. Tidak kedonyan. Pernah menanam brambang di sawah. Setiap hari disiram. Saat menjelang panen, tanamannya dicuri orang. Kejadian itu tidak diceritakan ke bu nyai (istrinya). Baru terungkap ketika bu nyai bertanya tentang tanaman brambang. Bagaimana kabarnya? tanya bu nyai. Alhamdulillah ada yang membantu memanen, jawab kiai. Dan bu nyai paham yang dimaksud.

Hidup di desa tapi pikirannya maju seperti kota. Mampu mengubah warga di desanya yang awalnya suka main (judi), sabung ayam dll  menjadi desa santri, taat beragama. Sekarang keturunan beliau mendirikan pesantren tahfidzul Qur’an.

Sahabat baiknya antara lain –pernah ke rumah kiai– antara lain, M Natsir, Buya Hamka, AR Fachruddin, Dr Amien Rais, Prof Buya Syafii Maarif, dan sejumlah tokoh lain.

Orangnya lemah lembut tapi tegas. Ada bupati ditegur karena minum dengan tangan kiri. Menurut nabi minum itu dengan tangan kanan Pak Bupati, ujar kiai. Oh ya maaf jawabnya. Pertemuan berikutnya dijumpai lagi bupati minum dengan tangan kiri. Pak Bupati menurut hadits nabi minum dengan tangan. Oh ya maaf. Kali ketiga kalinya melihat Bupati minum dengan tangan kiri lagi. Pak Bupati ini dablek ya. Sudah saya sampaikan menurut nabi minum itu tangan kanan masih tetap saja pakai tangan kiri, sentil kiai. Oh ya maaf…maaf…maaf.

Semasa bupati Suwandi pernah akan merehab rumah kiai yang berdinding bambu beralaskan tanah. Tapi gagal. Ketika tukang ngirim material oleh kiai dibelokkan ke madrasah ibtidaiyah Muhammadiyah. Setelah dicek ternyata bukan rumah kiai yang direnovasi melainkan gedung MIM. Maka kiai “diculik” dengan cara diberangkatkan menunaikan ibadah haji.

Saat kiai di tanah suci, rumahnya direhab cepat. Begitu datang dari Makkah beliau kaget dan tidak mau masuk rumahnya. Beberapa hari tinggal di masjid, malu rumahnya telah berubah. Begitulah sosok KH Abdi Manab. Menarik dijadikan contoh. Beliau guru kehidupan bagi warga persyarikatan dan warga lain.

Dalam berdakwah tidak mengenal lelah. Jangkauannya merata di semua jengkal tanah di Kabupaten Lumajang, Jember, Banyuwangi dan kawasan Tapal Kuda. Khusus Kabupaten Lumajang beliau sering naik sepeda ontel. Banyak orang terhipnotis oleh keikhlasannya.

Semoga lahir KH Abdi Manab lain di era modern ini. Sosok pribadi ikhlas, bersungguh-sungguh, kerja keras dalam dakwah, dan membesarkan persyarikatan. (*)

Suharyo AP
Ketua Dewan Dakwah Lumajang, Ketua PDM Lumajang periode 2010-2021

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini