Menghormati UAS, Memahami Singapura

0
291
Ustadz Abdul Somad. (Republika.co)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Bagi kita, UAS adalah seorang ulama yang harus mendapat tempat pun perlakuan terhormat. Bangsa Indonesia selalu memperlakukan ulama dalam posisi yang mulia. Apa yang dialami UAS di Singapura memang seharusnya tidak perlu terjadi.

***

Sejak kemarin media sosial dan media online di tanah air dipenuhi dengan pemberitaan tentang ditolaknya Ustadz Abdul Somad (UAS) Batubara berkunjung ke Singapura. Mengingat beliau adalah salah satu tokoh publik terkemuka yang cukup populer di negara kita, sehingga mengundang berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan masyarakat pendukung beliau, politisi, pengamat, juga pemerintah Indonesia melalui Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Begitu disebutkan bahwa UAS sempat ditahan oleh pihak imigrasi Singapura, rasanya saya tidak begitu yakin. Sebab dalam benak kita, yang dimaksud dengan ditahan adalah dimasukkan dalam penjara atau sel tahanan. Dalam pengalaman pribadi saya, pernah juga mengalami hal yang hampir sama dengan beliau. Saya pernah dimasukkan ke dalam satu ruangan kecil di kantor imigrasi Singapura sesaat setelah tiba dari Malaysia beberapa tahun yang lalu.

Dalam pandangan saya, itu bukanlah tahanan. Ruangannya memang kecil. Tapi bersih dan sejuk. Bahkan tidak dikunci. Saya dibiarkan sekitar satu jam duduk sendirian dalam ruangan tersebut. Setelah menjalani wawancara, akhirnya saya dibolehkan masuk ke Singapura. Pengalaman yang hampir sama juga pernah dirasakan oleh teman-teman mahasiswa pendoktoran asal Sulawesi Selatan yang kuliah di Malaysia tahun 2011–2016. Memang ada beberapa yang ditolak masuk ke Singapura, dengan alasan atau tanpa alasan yang jelas.

Bagi kita yang pernah berkunjung ke berbagai negara, sering mengalami hal yang hampir sama. Ditahan atau diinterogasi oleh pihak imigrasi setempat. Di Malaysia pun saya pernah ditahan, karena visa pelajar saya sudah hampir habis. Di Thailand pun pernah ditahan. Alasannya alamat hotel yang kami tuju tidak lengkap. Tapi pada akhirnya, kami bisa diperkenankan masuk ke negara berkenaan setelah memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada pihak imigrasi.

Ada juga pengalaman kami ketika akan masuk ke Australia. Tahun 2013 yang lalu, visa hampir tertolak. Alasannya adalah pada saat pemeriksaan kesehatan, seorang anak saya dinyatakan kurang sehat. Menurut pemeriksaan dokter di Makassar, sudah sehat. Sedangkan oleh tim pemeriksa kesehatan imigrasi Australia, tidak sehat. Kurang sehat tentunya sesuai standar departemen kesehatan Australia. Setelah berobat dan menunggu beberapa bulan, kami mengajukan visa lagi dan berhasil.

Setiap negara memang memiliki kedaulatan tersendiri yang tidak bisa diintervensi oleh negara lain, terutama dalam bidang keimigrasian. Pihak imigrasi bisa menolak siapa saja untuk berkunjung ke negaranya. Alasannya bisa bersifat subjektif, dan tidak bisa dipersamakan dengan orang lain. Mengapa seseorang bisa masuk, sedangkan orang lain tidak boleh. Padahal semua persyaratan telah dipenuhi. Itu adalah hak yang melekat pada setiap negara.

Berkunjung ke Singapura memang tidak semudah yang dibayangkan. Meskipun kita merasa sudah memenuhi syarat lengkap; ada uang yang cukup, memiliki tiket pulang, ada tujuan yang jelas, bahkan memiliki keluarga di sana, dan sebagainya. Semua itu tidak menjamin seseorang boleh masuk ke negara kaya raya ini. Sebabnya mereka memiliki standar yang berbeda dengan negara kita. Meskipun membutuhkan kunjungan wisatawan sebagai penghasilan penting bagi mereka, tetapi untuk alasan keamanan nasional, Singapura menetapkan pemeriksaan yang ketat.

Jangan heran bila suatu ketika di sekitar Bandara Internasional Cangi atau Woodland Checkpoint terlihat anggota tentara Singapura dengan senjata laras panjang. Seolah-olah tentara tersebut siap menembak siapa saja yang dianggap mencurigakan, apalagi jika dianggap membahayakan dan tidak mau bekerjasama. Pemeriksaan masuk ke Singapura juga sangat ketat dan tidak ada kompromi kalau terkait dengan masalah keamanan nasionalnya.

Singapura adalah negara yang sudah cukup maju. Mereka sudah bisa mendeteksi siapa saja yang akan datang ke negaranya. Mereka juga sudah memiliki data base, terkait dengan orang-orang yang penting dan berpengaruh di seluruh dunia. Demikian pula terhadap orang-orang yang dianggap berbahaya atau setidaknya terhadap orang-orang yang tidak sesuai dengan kultur dan atmosfer politik mereka. Termasuk dari negara kita, Indonesia. Tentu jika menemukan orang-orang seperti ini, pihak imigrasi tidak akan memberikan izin masuk.

Hal lain yang perlu saya bagikan informasi adalah jika akan bepergian ke Singapura, harap dengan sopan dan sabar. Biasanya pengunjung yang datang ke Singapura, begitu turun dari pesawat, kapal feri, kereta api atau bus, sudah dideteksi gerak-geriknya. Mereka memiliki begitu banyak alat pemantau atau CCTV systems yang bekerja dua puluh empat jam. Siapa saja yang datang dengan gerak-gerik yang mencurigakan sudah diketahui sejak awal. Termasuk misalnya dengan sikap atau perilaku.

Ketika anda berbicara keras, tertawa terbahak-bahak, berteriak, mengambil sesuatu yang bukan hak, membuang atau meletakkan sesuatu yang secara tidak benar, hal itu sudah terpantau. Pada saat tiba di konter pemeriksaan imigrasi, paspornya akan diambil. Selanjutnya diperiksa secara ketat. Baik pemeriksaan fisik maupun wawancara. Pemeriksaan ini bisa berlangsung lama. Kemudian diminta menunggu dalam satu ruangan.

Saat disuruh menunggu dalam satu ruangan ini, pihak imigrasi akan mencari biodatanya melalui data base mereka. Saat menunggu dalam ruangan tersebut, juga diawasi melalui CCTV. Saat ini sebaiknya, jangan melalukan perlawanan. Misalnya mencoba menelepon atau mengubungi orang lain. Sebab hal itu bisa dianggap sebagai perilaku yang mencurigakan. Sebaiknya sabar dan tenang saja, apalagi kita sudah merasa benar, tidak ada kesalahan.

Apabila dalam proses pencarian data oleh pihak imigrasi, ditemukan data kita yang tidak sesuai dengan sistem politik, ideologi, atau budaya mereka, maka tentu mereka akan menolak kedatangan tersebut. Sebaliknya, jika tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, atau tidak ada tindakan maupun perkataan kita yang bertentangan dengan sistem mereka, maka akan dibolehkan masuk.

Poin penting lain yang ingin disampaikan dalam tulisan sederhana ini adalah sebelum berkunjung ke suatu negara, perlu dulu memastikan persyaratan yang kita miliki lengkap. Untuk tokoh-tokoh nasional atau publik figur, perlu mengetahui sistem politik atau sistem budaya yang dianut suatu negara. Bahwa penolakan seseorang masuk ke suatu negara adalah hak negara tersebut, bahkan tanpa memberi alasan yang jelas. Wallahu’alam. (*)

Penulis adalah dosen Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar (saat ini sedang nonaktif karena menjalani cuti di luar tanggungan negara), aktivis Muhammadiyah Makassar.

Tulisan ini telah terbit di Harian Radar Sulbar Kamis, 19 Mei 2022. Atas seizin penulis, Klikmu.co memuatnya kembali edisi Jumat, 20 Mei 2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here