Menjadi Pembantu di Negeri Sendiri

0
71
Ilustrasi para pencari kerja di Indonesia. (Istimewa)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Bangsa Indonesia punya sejarah panjang menjadi bangsa yang terjajah. Watak dan karakter sosial terbentuk secara struktural. Masyarakat yang kritis dihabisi tidak diberi ruang untuk hidup, kecuali para pengabdi pada kolonialis. Tiga abad lebih secara politik bangsa Indonesia dicengkeram dalam kekuasaan Hindia Belanda, termasuk sistem ekonomi VOC berkuasa penuh penghisap darah warga masyarakat pribumi. Entah beberapa juta rakyat pribumi mati sia-sia karena darahnya habis diisap oleh monster VOC Hindia Belanda.

Fakta sosial hingga saat ini penjajahan tidak berhenti, jauh panggang dari api rakyat pribumi menguasai negeri. Yang ada semua orang yang katanya mengabdi pada negeri malah menjadi penghamba pada oligarki. Dari dahulu hingga kini warga pribumi selalu disakiti, lebih menyakitkan ketika para penghamba oligarki menghiasi bibirnya dengan janji yang membohongi sekaligus menikmati hidup dari darah saudaranya sendiri.

Kebijakan demi kebijakan seolah peduli pada negeri, padahal hanya membumbui kursi jabatan yang ditunggangi. Tidak peduli apakah Kebijakan itu berpihak pada negeri atau oligarki? Faktanya pribumi tetap tidak berdaya dan selalu terperdaya oleh dampak dari kebijakan yang mempersulit untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Katanya ada kebijakan ekonomi kreatif, untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan menengah, lagi-lagi hanya janji tidak ada realisasi yang pasti. Bahkan, kebijakan dinikmati oleh kaki-kaki usaha oligarki. Pelaku usaha pribumi hanya tersenyum meringis kesakitan ruang dan kesempatannya diisi oleh produksi yang datang dari banjir bandang impor berasal di negeri tirai bambu yang dialirkan dari tuan-tuanya oligarki.

Pasar baru tanah abang Jakarta, pasar baru kota Bandung, dan pasar-pasar induk lainnya yang menjadi pasar industri ekonomi kreatif semua penuh sesak oleh hasil produksi dari negeri katanya para tuan oligarki. Karena harga produk mereka lebih murah dari produksi anak negeri. Banjir bandang produksi import telah membumihanguskan produksi warga pribumi, yang semakin hari semakin memprihatinkan.

Berbagai promosi dan sosialisasi gerakan ekonomi kreatif berbasis keumatan terus-menerus diselenggarakan dengan berbagai cara dan pendekatan, namun hasilnya tetap tidak mempengaruhi terhadap peningkatan ekonomi umat. Ekonomi kreatif yang berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan, karena kebijakan hanya behenti pada industri yang terikat dengan oligarki.

Kebijakan tidak sampai kepada masyarakat yang seharusnya menerima manfaatnya, karena semua instrumen banyak membuat masyarakat tidak siap. Akhirnya tetap yang menikmati segelintir orang yang bisa menyiasati instrumen yang harus dipenuhi.

Sejatinya ekonomi kreatif menjadi solusi untuk sebagian masyarakat mengimbangi kesejahteraan hidup. Ternyata banyak yang harus dipersiapkan mentalitas masyarakat untuk survive menjadi pertarung jalanan dalam mendesain hidup, bukan mentalitas penghamba yang menjilat sana-sini berharap mendapat bagian pemberian dari tuan-tuan oligarki tanpa harus berjuang bercucur keringat dan darah dari hasil kerja keras mandiri. Mentalitas sebagian warga pribumi menjadi penghamba pada tuan dibentuk sangat lama, sejak kekuasaan Hindia Belanda pola pengabdian yang menghamba dengan perbedaan kelas sudah membudaya yaitu tuan (majikan) para warga asing dan pembantunya warga pribumi.

Berat memang, budaya struktur sosial yang dibentuk penjajah dengan perbedaan kelas telah mendarah daging, sementara menjadi warga yang benar-benar kreatif dan inovatif butuh waktu penempaan dan perjuangan panjang. Kreativitas bentuk sikap dan mental mandiri, bukan mental buruh dan pekerja. Sangat disayangkan, kebijakan pemerintah untuk membentuk mental kreatif sejak di bangku sekolah terlalu di beri mimpi-mimpi dunia kerja, bukan dunia wirausaha atau bisnis. Bahkan tidak bisa menutup mata, faktanya hingga saat ini sebagian besar pemilik industri meraka orang asing, dan para buruhnya orang pribumi.

Warga pribumi hanya menjadi pembantu rumah tangga, buruh kuli, buruh pabrik, security (satpam), cleaning service, staf admin dan sedikit yang jadi supervisor. Selebihnya direksi dan CEO semua orang asing. Benar kata banyak orang, pribumi menjadi pembantu di negeri sendiri. Lebih menyayat dan mengiris hati, pemimpin negeri ini menjadi penghamba oligarki. Semoga ini segera diakhiri. (*)

Bandung, Mei 2022

Ace Somantri adalah Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Bandung dan dosen UM Bandung. (Pribadi/KLIKMU.CO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here