Meretas Peradaban Milenial, Digi-Dakwah Sebuah Keharusan

0
20
Ace Somantri, dosen Universitas Muhammadiyah Bandung. (Dok pribadi)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Era global memaksa masyarakat bertransformasi dari manual-konvensional ke digital. Sistem kemasyarakatan sudah tergerus oleh prilaku manusia itu sendiri tanpa henti, efek dan dampaknya sangat banyak dirasakan, baik dampak buruk maupun baik. Berbagai macam varian yang muncul, efek yang paling dirasakan adalah sikap dan perilaku manusia. Hal itu lebih banyak yang berkaitan dengan pola komunikasi dalam berinteraksi yang sudah menggunakan alat bantu mesin digital. Saat ini dikenal dengan fasilitas media sosial.

Itulah sebuah fakta bahwa disrupsi sudah terjadi, beberapa tahun terlewati dan seolah seperti tidak ada yang terjadi. Padahal disrupsi itu gerak pengaruhnya lebih senyap, cepat, dan tepat. Berapa persen pelaku industri yang gulung tikar alias mengalami kebangkrutan akibat dari efek dan dampak digitalisasi sistem kehidupan manusia.

Terlepas hal itu semua adalah bagian skenario konspirasi yang disengaja oleh pihak-pihak tertentu, bagi umat muslim di mana pun berada memiliki tanggung jawab untuk melakukan penyikapan secara serius dan sungguh-sungguh. Perubahan sikap perilaku manusia era digital bukan sekaar perubahan biasa, melainkan merupakan pergantian zaman yang sudah diprediksi jauh sebelum hari ini terjadi. Doel Sumbang dalam liriknya, “zaman edan” di mana pada kenyataannya manusia sudah banyak yang berpaling dari ajaran Islam, baik langsung ataupun tidak langsung.

Saat ini, pelanggaran demi pelanggaran yang dipertontonkan dalam media sosial hal yang lumrah dan biasa, baik itu game online dan judi online merebak tumbuh subur. Siapa pun dapat akses, baik itu anak-anak usia belia maupun dewasa berselancar menikmati dunia maya untuk melihat apa yang terjadi tanpa sekat batas usia.

Peradaban milenial adalah peradaban digital puncaknya, waktu dan ruang milik mereka dimana segala hal ihwal yang ada dalam dunia maya mereka lebih awal mengetahui dan menjadi pemain utama, sementara orang tua hanya menjadi pengikut dan penonton, bukan pemain utama dalam era digital ini. Jikalau hal ini terus tanpa ada usaha keras orang dewasa untuk melakukan tindakan pengawasan lebih extra penuh daya yang kuat. Maka tindak pelanggaran norma dan etika tak terhindarkan. Bahkan saat ini, tingkat perceraian meningkat akibat judi online.

Selanjutnya, selain berusaha memahami berbagai perkembangan varian teknologi digital, juga berusaha mengurangi anak usia belia untuk dialihkan aktifitasnya pada yang relevan dengan usianya. Hal itu salah satu  treatment menghindari kecanduan permainan hal buruk yang bersumber di alam maya digital. Karena faktanya apabila ditelusuri banyak usia belia yang banyak kecanduan game online yang sarat dengan content buruk menyesatkan.

Peran taktis dan strategis penggerak dakwah harus semakin cerdas, tabligh konvensional saat ini sudah digantikan oleh tabligh digital. Persentasenya saat ini, pendekatan dakwah manual-konvensional tergerus tidak lagi memikat para jamaah. Kesigapan para kreator muslim digital, baik youtuber atau tiktoker kiranya anda semua sedikit tersentuh umtuk meluangkan waktu memberi konten-konten yang mengedukasi, bukan hanya konten entertainment yang bersifat hiburan semata.

Karyamu saat ini menarik dan memikat para followers, jikalau hanya untuk profit semata, tidak peduli akan kerusakan aspek kehidupan manusia dampak dari era digital. Maka sangat disayangkan sekali, harta yang didapat akan sia-sia tidak ada investasi dan bekal kelak kehidupan setelah di akhir hayatmu.

Dakwah digital sudah menjadi kewajiban personal, bukan lagi fardu kifayah yang cukup diwakili para content creator. Dan juga bukan hanya para dai dan mubaligh, juga umat muslim harus bertransformasi bersama-sama menjadi penyampai pesan, berkomunikasi dan berinteraksi dengan media dakwah yang kreatif dan inovatif, tidak mengandalkan dari mimbar ke mimbar yang terbatas dari masjid ke masjid atau majlis taklim ke majlis taklim.

Semua harus menyadari wahai para orang tua padakhususnya bahwa hari ini adalah peradaban milenial, pemain utamanya generasi milenial generasi Y & Z hingga generasi alfa yang akan datang, dan yang menjadi alat utamanya perangkat teknologi serba praktis dan instan. Mereka hidup dengan jiwa dan raga yang terkonekasi dengan perngkat lunak aplikasi yang mampu melayani segala kebutuhan hajatnya.

Tidak dapat dimungkiri, peradaban sudah berjalan mengikat ruang dan waktu. Sekeras apapun tenaga kita untuk keluar akan sia-sia, kecuali mencari cara dan strategi mengambil ruang dan waktu mereka untuk kebaikan dan kebermanfaatan yang bernilai. Apapun kondisinya, generasi milenial hari ini pemilik peradaban, mereka lebih banyak peluang menjadikan ruang dan waktu berdaya guna.

Sementara generasi baby boomers dan generasi X berusaha mengendalikan pada ruang dan waktu yang tidak di ambil mereka. Kita yakin, dan seyakin-yakinya bahwa pemilik ruang dan waktu akan selalu melihat dan mendengar semua yang terjadi di alam semesta ini. Yang paling penting, kewajiban seorang manusia untuk senantiasa menghamba untuk tetap beribadah kepada-Nya tetap istiqomah, maka bagi-Nya tidak ada yang sulit dan menyulitkan.

Secanggih apapun peradaban manusia hingga membuat zaman silih berganti, manusia tetap manusia tidak akan berubah menjadi malaikat, apalagi menjadi Tuhan hal itu sangat mustahil adanya. Sekalipun ada pribahasa sering terlontar dalam kata dan kalimat, “ada manusia yang berhati malaikat”  kalimat itu bukan menjadi malaikat melainkan mempersonifikasikan akan sebuah kebaikan yang suci, karena perbuatan Malaikat senantiasa menghamba beribadah kepada Sang Pencipta Allah Ta’ala selamanya.

Sehingga semua meyakini bahwa segala hal ihwal yang terjadi di alam semesta yang penuh dinamika, manusia membangun peradaban dan mengganti zaman dengan akal sehat nan cerdas pada dasarnya itu adalah ilmu yang diberikan oleh Allah SWT dan yang terjadi semua atas ijin-Nya. Wallahu’alam. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini