MPID Ajak Pelajar Spemjitu City Tour Napak Tilas Muhammadiyah

0
105
Andi Hariyadi (kiri) bersama Muhammad Miftahul Muslim (dua dari kiri) memberikan penjelasan tentang sejarah Muhammadiyah di Kota Pahlawan. (Kaysan Nawfal Ali/KLIKMU.CO)

Surabaya, KLIKMU.CO – Ketua PDM Surabaya Dr M. Ridwan MPd me-launching dan melepas rombongan city tour dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMP Muhammadiyah 17 Surabaya (Spemjitu) pada Sabtu (18/11) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya. Pelepasan ini berbarengan dengan rangkaian acara Milad Ke-111 Muhammadiyah.

Dalam amanatnya, Ridlwan menyampaikan bahwa napak tilas perjuangan para pahlawan merupakan upaya mengetahui lebih dekat profil dan peran para pahlawan. Mereka telah memberikan keteladanan bagi generasi bangsa untuk meneruskan perjuangan.

“Surabaya sebagai Kota Pahlawan memiliki banyak situs jejak perjuangan pahlawan yang perlu kita ketahui dan memaknai perjuangannya. Dan Muhammadiyah Surabaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika perjuangan di Kota Pahlawan Surabaya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ridlwan menambahkan, momentum milad menjadi media untuk memperkuat dan memperluas dakwah Muhammadiyah Surabaya. Di antaranya melalui city tour napak tilas perjuangan para pahlawan sehingga kader-kader Muhammadiyah mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan.

Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya Andi Hariyadi menambahkan, city tour napak tilas dakwah dan perjuangan para pahlawan bisa menjadi media edukasi pada lembaga pendidikan. Dengan begitu, siswa bisa mengetahui lebih dekat perjuangan pahlawan.

“Andi melanjutkan, ada banyak situs sejarah perjuangan pahlawan di Kota Surabaya yang terkait dengan dakwah Muhammadiyah, khususnya di awal berdirinya hingga di masa perang kemerdekaan,” ujarnya.

Napak tilas saat launching ini juga didampingi Abdan Fikri, salah satu cucu pahlawan nasional KH Mas Mansur bersama tim MPID dan PCM Wiyung Surabaya. Mereka menuju kawasan Peneleh ke rumah HOS Cokroaminoto yang sering dijadikan tempat diskusi kebangsaan dan keagamaan bersama KH Ahmad Dahlan, KH Mas Mansur, Soekarno, dan lainnya di rumah Abdul Latif Zein, pemilik toko Buku Peneleh, yang berhadapan dengan rumah HOS Cokroaminoto.

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum dr Soetomo.

“Sementara masih banyak yang belum tahu bahwa dr Soetomo itu kader Muhammadiyah yang dipercaya oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu sebagai penasihat bidang kesehatan, sehingga menginspirasi berdirinya balai kesehatan, termasuk berdirinya Rumah Sakit Muhammadiyah Mansur Surabaya yang berdiri pada 1924 dan membentuk lembaga amal Pusura bersama KH Mas Mansur,” tutur Andi.

Terakhir, tim mengunjungi makam KH Mas Mansur yang berada satu kompleks dengan makam KH Hasan Gipo di kawasan Masjid Ampel Surabaya.

City tour ini akan terus dikembangkan dan dipromosikan ke sekolah-sekolah untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas,” tandasnya.

Andi menilai para pelajar harus banyak belajar tentang sejarah agar tahu keteladanan perjuangan pahlawan kita.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya kunjungan, tapi kita bisa menemukan banyak hikmah yang bisa kita dapatkan sehingga para generasi penerus bisa melanjutkan misi dakwah yang sudah dilakukan pendahulunya,” harapnya.

Para pelajar SMP Muhammadiyah 17 Surabaya menyimak pemaparan tentang sejarah Muhammadiyah di Surabaya. (Kaysan Nawfal Ali/KLIKMU.CO)

Sementara itu, Muhammad Miftahul Muslim, anggota MPID PDM Surabaya, memberikan kesannya untuk kegiatan napak tilas.

“Cukup menarik. Karena ini 111 tahunnya Muhammadiyah di Surabaya tidak hanya diadakan apel pagi, tapi juga perjalanan dakwah Muhammadiyah di Surabaya,” ujar pria yang juga sebagai tim ekspedisi jejak KH Ahmad Dahlan PWM Jawa Timur itu.

Dengan melibatkan anak-anak Spemjitu ini, bagi dia, ini salah satu hal yang menarik. Karena anak-anak SMP atau siswa sekolah yang dulu biasanya belajar dari buku saja bisa langsung terlibat pembelajaran langsung di lapangan.

”Kalau bisa anak-anak di usia remaja ini belajar sejarah dengan rileks dan santai dan juga bisa punya keinginan untuk terus menggali pelajaran sejarah. Karena selama ini sejarah cenderung menjadi hal yang membosankan bagi anak anak remaja, padahal jika terlibat langsung di lapangan membuat lebih menyenangkan,” tandasnya.

(Kaysan Nawfal Ali/Andi/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini