Muhammadiyah Besar Bukan karena Mengemis Rezim

0
1467
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Gus Dur pernah berkelakar: “Muhammadiyah itu kaya raya, tapi pengurusnya miskin-miskin”.
Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati, tulis Carl Whiterington peneliti senior Amerika.

Muhammadiyah lahir jauh sebelum NKRI berdiri. Kami bikin rumah sakit sebelum ada departemen kesehatan, kami bikin sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi sebelum ada Kemendiknas, kami juga bikin panti asuhan baitul amal Lazis sebelum ada Departemen Sosial atau Departemen Keuangan.

Sebab itu jika ada yang bilang bahwa kami kenyang saat Orde Baru, itu tuduhan keji. Sebab kami diajari untuk memberi, bukan diberi—para pimpinan dan ulama kami tak pandai bikin proposal. Apalagi menjilat ke para penjabat untuk dapat proyek.

Kami urunan bikin masjid, sekolah, universitas, atau rumah sakit. Setelah besar kami berikan untuk Persyarikatan, semua amal usaha yang kami punya bukan milik para pimpinan, pengurus, atau bahkan ulama, tapi milik Persyarikatan. Tidak ada yang dimiliki pribadi yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Meski begitu, kami tidak menutup diri—setiap pemberian baik dari pemerintah atau siapa pun kami terima dengan senang hati sebagai amanah. Kami juga bikin proposal secukupnya, meminta sumbangan sepatutnya, tidak berlebihan atau memaksa-maksa sambil menakar jasa.

Meski menabalkan sebagai organisasi modern, sesungguhya kami tetap konvensional secara generik. Tetap bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Merawat urunan, silaturahmi, dan kajian-kajian sederhana. Itu salah satu rahasia kenapa Persyarikatan kami tetap survive meski berbagai hambatan menghalang.

Banyak pengamat terkagum-kagum dengan gerakan yang digagas Kiai Dahlan 109 tahun silam ini. Mereka mengira banyaknya perguruan tinggi atau rumah sakit bertaraf internasional, ribuan masjid dan sekolah-sekolah yang bertebaran di seluruh Nusantara, adalah hasil dari minta-minta atau sokongan rezim— itu keliru besar.

Tak ada bantuan asing atau sokongan rezim. Taruhlah ada sangat sedikit sekali —Muhammadiyah juga tak pernah mengambil hak orang lain— tidak pernah mengambil masjid, mushala, atau menyerobot tanah orang lain. Kami diajarkan bersahaja dan memberi, bukan mengambil dengan jalan paksa.

Muhammadiyah tetap otentik, meski prestasi tak lagi bisa diukur. Pak AR Fakhruddin masih jualan bensin eceran dan naik Yamaha butut. Pak Amien Rais muazin reformasi itu masih tetap bersahaja dan istiqamah menyuarakan demokrasi.

Buya Syafii Maarif masih biasa jalan kaki ke masjid depan rumah, naik bus dan antre nunggu giliran. Prof Haedar Nashir naik kereta api dan duduk di serambi masjid khusyuk mendengar khutbah dari jamaah akar rumput tanpa rasa canggung. Tak ada kisah dramatis yang heroik atau kisah buih penuh kata dusta. Ulama kami bersahaja. Tak ada yang berkaramah.

Hampir semua ulama Muhammadiyah bersahaja, memakai pakaian yang sama, makan di meja yang sama, minum pada gelas yang juga sama, tak ada yang istimewa, kendaraan yang sama tak butuh pengawalan, atau penjagaan dan perlindungan berlapis. Juga tak butuh pembelaan karena hujatan atau celaan dari yang tak suka. Tak butuh buzzer atau influencer agar populer, juga tak butuh follower untuk menaikkan reputasi. (*)

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here