Muhammadiyah Butuh Ulama Jenaka

0
110
Kiai Nurbani Yusuf, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

Muhammadiyah Butuh Ulama Jenaka

KLIKMU.CO

Pak AR Fakhruddin pernah ditanya: “Bolehkah sebelum shalat baca usholi?” Beliau menjawab jenaka: “Boleh, pencakan dulu juga boleh.”

Masih tentang Pak AR Fakhruddin, Ketua PP Muhamadiyah yang sangat fenomenal ini, ketika Buya Syafii Maarif dalam sebuah pidato berkelakar: ”Pak AR ini kok banyak merokok yaaa? Pak AR juga menjawab jenaka tanpa ekspresi marah atau tersinggung: ”Saya nggak banyak kok, cuman satu-satu.”

Gus Dur juga pernah berkisah tentang Pak AR ini. Gus Dur pernah bertutur bahwa orang Muhammadiyah ini pernah membuat ratusan orang NU menjadi Muhammadiyah dalam satu malam. Ketika Pak AR ‘salah kamar’ masuk masjid NU dan didaulat menjadi imam shalat Tarawih.

Pernah juga Pak AR berpesan kepada Prof Yahya Muhaimin agar tidak kenceng-kenceng dalam mengurus Muhammadiyah. Bukan tak serius apalagi tak sungguh-sungguh, kadang kita perlu ketawa sedikit agar tak spaneng, semacam kehilangan urat ketawa, berganti serius amat hingga lupa tertawa.

Ajakan Dr Azaki Khoirudin, intelektual muda berpengaruh, penting untuk digaungkan Islam: Din wa Ni’mah, bukan Din wa Daulah, menarik dibincang:

Pertama: Islam Din wa Daulah. Tak dimungkiri, ada yang mencoba menyeret untuk terlibat dalam pekerjaan politik praktis yang belum selesai dan memosisikan Muhammadiyah berhadap-hadapan dengan negara atau rezim. Syahwat politik yang tak tersampaikan justru dialirkan di Persyarikatan. Jadilah nuansa politiknya kental. Rezim adalah musuh yang harus enyah.

Semangat oposisinya kuat. Nahi mungkar dipadankan dengan takbir keras, sweeping, menghardik yang tidak sepandangan, mencela, dan mudah menyesatkan pada yang tidak sehaluan, adalah sebongkah pikiran yang memosisikan Muhammadiyah sebagai sebuah Daulah.

Dinamika pergerakan pemikiran ini juga masif, sebab itu pimpinan yang dikehendaki adalah yang tegas, keras, dan berani sama rezim. Politik identitas terus digemakan bahkan dalam banyak hal narasi politisnya lebih kuat.

Kedua: Islam din wa ni’mah. Mainstream ini yang kental dikembangkan Kiai Dahlan di awal berdiri. Persyarikatan diposisikan sebagai sebentuk keberpihakan kepada kaum dhuafa dan antitesis terhadap tafsir atas agama jumud. Bahwa Islam itu tinggi tak ada yang lebih tinggi darinya (al Islamu ya’lu wala yu’la alaihi) dan al Islamu mahjubun bil muslimin menjadi bagian penting pergerakan.

Kiai Dahlan mengambil subsidi dari pemerintah untuk sekolah yang dibangunnya adalah bukti bahwa beliau tidak memosisikan negara (kompeni) sebagai musuh, tapi mitra dengan tidak meninggalkan sikap kritisnya.

Sebab itu dalam memahami konsep tentang jihad misalnya, Muhammadiyah memiliki keunikan, kalau tak boleh dibilang sebagai sebuah keistimewaan yang penuh keberkahan: membangun rumah sakit adalah jihad melawan kemusyrikan. Membangun masjid adalah jihad melawan bidah. Mendirikan sekolah dan perguruan tinggi adalah jihad melawan kejahilan. Bait amal, Lazismu, MDMC adalah jihad melawan kesengsaraan oemoem. Inilah konsep Islam Din wa Ni’mah yang harus terus digemakan sebagai spirit yang melandasi.

Prof Ahmad Jainuri menyebut bahwa tesis Kiai Ahmad Dahlan cukup menarik, karena berkemajuan: “TBC bakal hilang apabila masyarakat diberi pendidikan yang cukup.” Bukan dengan cara menyesatkan apalagi mengafirkan. Oleh karena itu, empat majelis yang awal didirikan adalah: Majelis PKO, Majelis Poestaka, Majelis Pendidikan, dan Majelis Tabligh.

Tapi jangan lupa, model kepemimpinan di Persyarikatan sangat berbeda dengan ormas lain yang bergantung pada satu figur ketua—kolektif kolegial adalah yang utama. Laksana orkestra, ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang keras, ada yang zuhud, ada yang melankolis, semuanya saling melengkapi dan menggenapi.

Saya punya hak suara dan saya akan pilih 13 orang. Semoga Allah Tabarakawataala menjaga dan memberkati Persyarikatan ini, dengan pimpinan terbaik, jamaah terbaik, amal usaha terbaik, dengan hikmah dan keberkahan. Amin…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini