Muhammadiyah dan Tuduhan Pengultusan

0
293
Foto KH Ahmad Dahlan. (Bukalapak)

Oleh: Ahsan Hakim MPdI

Mahasiswa Prodi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO

Terdapat salah satu fatwa yang cukup menarik di Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah terkait hukum gambar. Setelah menjelaskan berdasarkan ‘illat-nya (sebabnya) hukum gambar terbagi menjadi tiga, di antaranya: haram jika untuk disembah, mubah jika untuk sarana pengajaran, dan makruh atau haram jika untuk perhiasan yang dikhawatirkan mengundang fitnah baik kemaksiatan maupun kemusyrikan, penjelasan itu kemudian dilanjutkan dengan pernyataan: “Dan oleh karena gambar Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah itu dikhawatirkan mendatangkan fitnah kemusyrikan, maka Majelis Tarjih memutuskan, bahwa gambar beliau itu haram dipasang untuk perhiasan.”

Putusan tersebut ada dalam Kitab Beberapa Masalah cetakan 1964 bab 2. Meskipun fatwa itu kemudian dicabut oleh putusan Muktamar Tarjih Sidoarjo, hal yang menarik bukan pada bagaimana hukum gambar tersebut, tetapi bahwa Majelis Tarjih Muhammadiyah pernah mengharamkan pemasangan gambar KH. Ahmad Dahlan karena dikhawatirkan mengundang fitnah pengultusan yang mengarah pada kesyirikan.

Hal ini menjadi cukup logis, karena semangat tajdid dalam Muhammadiyah memang bermakna purifikasi agama sekaligus pembaruan menyesuaikan konteks zaman. Purifikasi agama tersebut dilakukan untuk menjauhkan umat dari mitos dan berupaya mengembalikan pada derajat keadabannya.
Budaya pengultusan yang berlebihan di tubuh Muhammadiyah memang sulit ditemukan.

Tuduhan pengultusan KH. Ahmad Dahlan setidaknya pernah terjadi di Sumatera pada tahun 2008 ketika empat organisasi otonom Muhammadiyah memprotes keras pemasangan gambar KH. Ahmad Dahlan di iklan sebuah partai politik. Protes tersebut sebenarnya lebih kepada pencatutan gambar secara tidak etis untuk agenda politik salah satu partai, bukan pada pengultusan tokoh oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah memang relatif aman dari pengultusan KH. Ahmad Dahlan. Indikasi lainnya adalah, bahkan untuk sekadar mengagendakan ziarah kubur secara khusus ke makam pendiri organisasi tersebut pun jarang dilakukan oleh warga Muhammadiyah. Padahal, dalam HPT tidak pernah ada larangan untuk berziarah kubur. Yang ada adalah larangan aktivitas ziarah kubur yang menyelisihi syariat dalam pandangan Muhammadiyah.

Majelis Tarjih bahkan memberi panduan adab dan tata cara dalam berziarah kubur. Dalam penghormatan kepada KH. Ahmad Dahlan, warga Muhammadiyah memang banyak melakukannya dengan cara meneruskan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam wadah Muhammadiyah, mempelajari sejarah kehidupan dan perjuangannya serta doa yang dikirimkan kepadanya.

Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik untuk disoalkan. Jika HPT telah mencabut putusan haramnya memasang gambar KH. Ahmad Dahlan karena tidak lagi dikhawatirkan adanya pengultusan sehingga warga Muhammadiyah bebas memasang foto pendiri Persyarikatan tersebut sebagai hiasan, lantas mengapa warga Muhammadiyah yang tidak lagi dikhawatirkan melakukan aktivitas yang melanggar dalam ziarah kubur tidak banyak yang mengagendakan ziarah kubur ke makam KH. Ahmad Dahlan? Sekurang-kurangnya, jika pun tidak dengan membuat agenda khusus berziarah kubur, warga Muhammadiyah yang secara kebetulan memiliki agenda di Yogyakarga –di mana makam itu ada– untuk kepentingan pendidikan, pekerjaan, hingga keperluan berwisata, dapat melakukan ziarah kubur ke makam KH. Ahmad Dahlan sebagai agenda sekundernya.

Warga Muhammadiyah bisa saja beralasan agar tidak terjadi pengultusan serta pengiriman doa dapat dilakukan dari mana saja. Tapi untuk sekadar berziarah kubur yang hal itu dibolehkan dan sudah diberikan tuntunan dalam HPT, mestinya dapat dilakukan sebagai salah satu ekspresi penghormatan kepada KH. Ahmad Dahlan. Terkhusus dalam pengajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lembaga-lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, sekiranya pendidikan kontekstual dengan menapaktilasi jejak-jejak perjuangan KH. Ahmad Dahlan, termasuk dengan mendatangi makamnya untuk berziarah kubur, dapat diagendakan agar penghayatan perjuangan dan penghormatan pada sosok KH. Ahmad Dahlan dapat lebih dekat dirasakan. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here