Muhammadiyah-NU hingga MUI Siap Dukung SE Wali Kota Surabaya Terkait Pelaksanaan Idul Adha

0
180
Ketua PDM Kota Surabaya KH Mahsun Jayadi. (Foto Antara)

KLIKMU.CO – Surat edaran (SE) Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terkait Hari Raya Idul Adha 1442 H mendapat respons positif dari sejumlah kalangan. Selain NU dan Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung kebijakan itu. Tujuan pemkot membuat regulasi tersebut adalah menekan laju penularan Covid-19 yang masih melonjak di Kota Pahlawan.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya Kiai Mahsun Jayadi mengatakan, pihaknya mendukung penuh kebijakan pemkot. Itu merupakan upaya untuk mencegah musibah yang lebih besar. Yaitu, meledaknya kasus penularan Covid-19. ’’Ini kan kondisi darurat,’’ kata Kiai Mahsun sebagaimana dilansir dari jawapos.com.

Menurutnya, dalam kondisi darurat seperti saat ini, kebijakan ekstrem bisa ditempuh. Berlaku kaidah fikih. Yaitu, mencegah kerusakan jauh lebih diutamakan daripada menciptakan kebaikan. ’’Kaidah ini sudah disepakati oleh para ulama besar terdahulu,’’ jelasnya.

Ketua PCNU Surabaya KH Muhibbin Zuhri juga mendukung penuh kebijakan pemkot tersebut. Dia menilai, kebijakan itu diambil untuk mencegah bertambahnya kasus Covid-19 di Kota Pahlawan. ”Kebijakan pemkot ini tentu kita dukung,’’ papar Muhibbin.

Sementara itu, Sekretaris MUI Surabaya KH Muhaimin Ali mengatakan, SE tersebut merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Menurut dia, dalam menghadapi pandemi Covid-19, berlaku kaidah fikih jalbu al-mashalih wa daf’u al-mafasid. Yaitu, menciptakan kemaslahatan dan menolak kemafsadatan atau kerusakan. ’’Karena ini kondisinya darurat,’’ kata KH Muhaimin pada Selasa (13/7).

Dalam situasi darurat, kebijakan ekstrem bisa saja ditempuh untuk menyelamatkan masyarakat luas dari wabah penyakit. Ulama-ulama terdahulu, kata dia, juga sudah sepakat dengan rumusan fikih bahwa mencegah kerusakan jauh lebih diutamakan daripada menciptakan kebaikan. ’’Di sini pemerintah sudah mengambil keputusan yang tepat,’’ jelasnya.

Seperti diketahui, SE terkait Hari Raya Idul Adha 1442 H mengatur sejumlah hal. Di antaranya, teknis pelaksanaan malam takbiran, salat Idul Adha, dan tata cara penyembelihan hewan kurban. Salat Idul Adha, misalnya, ditiadakan di masjid atau musala.

Dalam regulasi itu, pemkot mengimbau warga untuk salat Id di rumah bersama dengan anggota keluarga masing-masing. ’’Dalam situasi darurat dan berdasar kaidah fikih, MUI mendukung itu (salat Idul Adha di rumah, Red),’’ kata KH Muhaimin.

Dengan ditiadakannya salat Idul Adha di masjid, diharapkan tidak ada kerumunan. Dengan begitu, potensi penularan Covid-19 bisa diminimalkan. Sebaliknya, dengan salat Idul Adha di rumah, protokol kesehatan bisa diterapkan dengan baik. Itu juga menjadi momen kebersamaan anggota keluarga. ’’Jadi, sekali lagi kita imbau masyarakat untuk salat Idul Adha di rumah masing-masing,’’ paparnya.

Malam takbiran juga demikian. Pemkot melarang takbiran keliling. Baik dengan arak-arakan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan. Takbir keliling dinilai sangat rawan menimbulkan kerumunan massa. Larangan itu dimaksudkan untuk mencegah penularan Covid-19 di tengah melonjaknya kasus baru di metropolis.

Kegiatan takbiran di masjid atau musala cukup melalui audiovisual. Dengan begitu, masyarakat masih bisa khusyuk mengikuti takbiran dari rumah. Tanpa mengundang jamaah di masjid karena berpotensi memicu kerumunan orang. SE juga mengatur teknis pemotongan hewan kurban. Masyarakat diharapkan tetap bisa menyembelih hewan kurban secara terpusat di rumah potong hewan (RPH). Namun, karena kapasitas yang terbatas, masyarakat diperbolehkan melakukan pemotongan di luar RPH dengan menaati protokol kesehatan secara ketat. (RF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here