Muhammadiyah Sanggah Pengamat Intelijen yang Sebut Bahasa Arab Ciri Teroris

0
165
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Dadang Kahmad. (Foto istimewa)

KLIKMU.CO – Tudingan pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati terkait banyaknya sekolah di Indonesia yang berkiblat pada militan Taliban dan bahasa Arab sebagai ciri teroris mendapat kritik. Salah satunya dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad.

Dia menilai ini bagian dari Islamofobia. “Betul, pernyataan yang berbahaya jika bahasa Arab dikaitkan dengan terorisme. Ini bagian dari Islamofobia. Sangat disayangkan adanya pernyataan seperti itu,” kata Prof Dadang dikutip dari Republika.co.id, Rabu (8/9/2021).

Namun, Muhammadiyah juga tidak berniat untuk memberi klarifikasi dan memilih membiarkannya. Prof Dadang juga tak khawatir orang bisa termakan tudingan Susaningtyas.

Sebab, kata dia, Susaningtyas hanyalah pengamat intelijen. Artinya, pernyataannyanya sangat mungkin tidak berdasarkan fakta, melainkan asumsi belaka.

“Cuma, yang kita khawatirkan ini bagian dari gerakan pendiskreditkan simbol-simbol agama yang lain,” ujarnya.

Pihaknya justru menilai pentingnya sosialisasi tentang bahasa Arab dalam beragama Islam. “Bahasa Arab itu penting sebab kitab suci dan shalat pakai bahasa Arab,” katanya.

Sementara itu, Susaningtyas Nefo Kertopati memberikan klarifikasi terkait pernyataannya bahwa banyak sekolah di Indonesia berkiblat pada militan Taliban dan bahasa Arab sebagai ciri teroris.

Dia juga tak sepakat bahwa Islam adalah embrio teroris. Dia juga menegaskan Islam adalah agama yang cinta sesama.

“Sebagai umat Islam, tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya,” katanya dalam keterangan tertulis Rabu (8/9/2021).

Dia menambahkan, ajaran Islam adalah agama yang cinta sesama, bahkan dengan umat beragama lain atau Islam rahmatan lil ‘alamin. “Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme,” tegasnya.

Sebelumnya, Susaningtyas Nefo Kertopati menilai saat ini banyak sekolah di Indonesia yang mulai berkiblat ke Taliban yang dianggap sebagai organisasi radikal.

Dia menyebutkan, ciri-ciri sekolah dan para gurunya yang mulai berkiblat ke Taliban atau ke radikalisme, antara lain, tidak mau hafal nama-nama partai politik.

“Mereka tak mau pasang foto presiden dan wapres. Lalu, mereka tak mau menghafal menteri-menteri, tak mau menghafal parpol-parpol,” ujar Susaningtyas dilansir di progam Crosscheck yang disiarkan di akun YouTube, Rabu (8/9/2021).

Mantan anggota DPR Komisi I ini juga menyebut ciri anak muda yang terpapar radikalisme adalah dengan perbanyak belajar bahasa Arab. “Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera Indonesia, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, berbahasa Arab,” jelasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here