Muhammadiyah sebagai Model Masyarakat Profetik

0
44
Kiai Nurbani Yusuf, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Semakin hari saya semakin paham kenapa seorang ulama waskita yang tajam baca tanda tanda jaman, Kiai Dahlan sang pendiri memimpikan Muhammadiyah menjadi ‘khoiru-ummah’—sebaik baik kumpulan yang menjadi teladan, terdepan dalam kepeloporan. Tampaknya mendekati kenyataan. Demokrasi di muktamar salah satunya.

Muhammadiyah besar karena dihuni orang-orang ikhlas dari kumpulan para pengabdi.

Apapun yang diinginkan —Muhamamadiyah bisa menyediakan— ini gerakan paling komplet. Saya belum pernah menjumpai. Carl Whiterington salah seorang peneliti Amerika Serikat menyebut Muhammadiyah sebagai ‘organisasi yang diberkati’. Tak hanya itu, Muhammadiyah selalu terdepan dan memenangi pertarungan dialektrik. Padu padan intelektualitas dengan kerja amal saleh yang memesona.

Bagaimana tidak? Mau bikin kongsi intelektual atau gerakan pemikiran sudah ada puluhan perguruan tinggi berkelas, ratusan peneliti dan cendekiawan bertebaran dalam berbagai disiplin ilmu. Mau bikin gerakan filantropi sudah ada puluhan rumah sakit berkelas, Lazismu, MDMC di bawah Majleis Kesengsaraan Oemoem yang legendaris. Mau bicara tentang pendidikan sudah ada ribuan sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi.

Sikap profetik yang disandang sebagai ciri gerakan adalah sesuatu yang sangat spesial, sebuah kekhususan yang membedakan dengan gerakan lain sejenis. Sikap profetik itu adalah: hemat, suka memberi, pekerja keras, mementingkan orang lain, bersahadja, jujur, berlomba berbuat bajik, iklas tidak pamrih dan gotong-royong atau taawun. Yang kemudian diringkas menjadi memajukan dan mencerahkan.
Inilah sebagian sikap dasar atau ethos profetik yang dimiliki seluruh warga Persyarikatan.

Karena itu, anda tak bakal menjumpai ada orang bergamis bersurban menjuntai yang dikerumuni orang banyak. Bahkan saya tak pernah tahu siapa pendiri Universitas Muhamdiyah Surakarta, Jogja, Malang dan puluhan lainnya dengan aset puluhan triliun itu. Itulah kesahajaan sebagai wujud ‘muhammadiyah-ehics’ di Persyarikatan. Saya bilang Max Webber harus mengonstruksi ulang tesisnya.

Thesis Al Mawardi cukup relevan pemimpin adalah cerminan dari komunitasnya —pempimin yang ikhlas jujur mengabdi lahir dari kawanan jamaah yang jujur iklas dan mengabdi.

Muhammadiyah tak pernah jadi beban negara apalagi beban politik atau sosial lainnya—Robert N Bellah memberi catatan menarik meski teramat singkat— Muhammadiyah ditakdirkan sebagai gerakan dengan arus ‘transformatif-solutif’ yang kental. Muktamar kemarin contohnya. Muhammadiyah tidak hanya menunjukkan demokrasi secara konseptual, tapi telah dengan nyata menunjukkan bagaimana bermusyawarah dengan elegant, transparan dan bermatabat dengan efisien.

Ciri gerakan ini adalah selalu berhasil membumikan gagasan dan ide besar menjadi sebuah amal saleh. Padanan dua hal besar yang saling berkelindan. Kongsi intelektual dan kerja menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang mengubah. Inilah yang dimaksud dengan memajukan dan mencerahkan.

Maka tak pantas memandang Muhammadiyah dalam satu sudut sempit—antum tak bakalan merasakan lezatnya berMuhammadiyah jika hanya ditarik dalam definisi rigid. Dari sisi fiqh, politik, apalagi ditarik yang spesifik, politik kekuasaan misalnya. Muhammadiyah jauh melampaui itu semua dalam berbagai varian yang konstruktif.

Kongsi intelektual tentang epistemologi skripturalis dan legalis formalis dalam beragama sangat dihindari karena merendahkan dan melecehkan ide-ide pembaharaun dan tajdid. Pada sisi lain menjunjung tinggi spiritualisme Islam secara inklusiv agar mengundang banyak maslahat bagi banyak umat—aku cinta mati karena Muhammadiyah memang beda banget. (*)

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini