Nama Indonesia Dielu-elukan di Masjid Australia

0
268
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Kemarin sore saya telah menerima tiga paket kiriman dari Indonesia. Isinya berupa songkok atau peci hitam khas Nusantara. Ada tiga teman saya yang mengirimkannya yang diperuntukkan kepada pengurus Masjid Omar Wollongong Australia. Jumlah keseluruhan adalah sebanyak delapan buah dengan berbagai merek dan ukuran yang berbeda.

Ketiga teman yang mengirim tersebut adalah sahabatku Andi Anda Shalahuddin (pejabat di Perusda Maros), Mahmud (Mamuju Sulawesi Bara), dan kakandaku yang baik hati, Dr Hj Zaenab Djafar SpPD (Makassar). Kebetulan ketiga paket tersebut tiba bersamaan kemarin.

Malam tadi selepas buka puasa, saya sudah serahkan langsung kepada Sekretaris Pengurus Masjid, namanya Qasim. Beliau adalah mahasiswa program doktor di University of Wollongong. Dia berasal dari Pakistan. Selama ini, dia adalah tulang punggung Masjid Omar. Mulai dari mengurus administrasi masjid, mengurus kebersihan, menyiapkan dan membagikan hidangan buka puasa, sampai kepada khatib Jumat dan imam rawatib.

Peci-peci tersebut saya serahkan sepenuhnya kepada beliau untuk dibagikan kepada pengurus lainnya. Terdapat enam orang pengurus yang menerima peci dimaksud dan langsung memakainya ketika salat Isya dan salat Tarawih. Mereka yang menerima peci ini tampak merasa senang dan bergembira. Ini kelihatan dari raut majahnya, tampak begitu semringah.

Dalam beberapa perbincangan dengan teman-temannya sesama pengurus, dia menyatakan menerima peci kiriman Indonesia. Bahkan beberapa menyebut-nyebut nama Indonesia sambil menunjuk kepada saya. Saya sedikit malu kepada yang pengurus yang belum mendapat bagian.

Ada sejarahnya sehingga beberapa teman dari Indonesia mengirim peci ini ke Wollongong. Sebagaimana pernah saya nyatakan di beberapa media sosial, bahwa ada seorang pengurus masjid yang sudah sering menyatakan keinginannya terhadap peci yang selalu saya pakai. Bahkan sejak tahun 2019 lalu, saat saya baru tiba di sini. Namun, karena saya belum sempat pulang, tidak bisa memenuhi keinginannya.

Kemudian, sekitar sebulan yang lalu, saya umumkan persoalan ini. Alhamdulillah mendapat respons yang sangat menggembirakan. Tidak kurang dari sepuluh teman dari berbagai wilayah di Indonesia menyatakan kesanggupannya mengirimkan peci yang dimaksud. Mulai dari Panyabungan Sumatra Utara, Yogyakarta, Magelang, Makassar, Maros, hingga Mamuju Sulawesi Barat. Bahkan ada seorang teman yang merupakan pejabat penting di RRI  Pusat Jakarta.

Karena sudah ada beberapa yang sudah menyatakan kesediaannya, saya sarankan kepada yang lain agar tidak perlu mengirim. Karena sudah ada. Namun, beberapa lainnya tetap ngotot meminta alamat saya dan beberapa hari kemudian langsung mengirimkannya.

Saya menyadari bahwa harga peci tidak terlalu mahal. Bervariasi. Ada yang harganya di bawah seratus ribuan, ada pula yang di atasnya. Namun yang mahal adalah ongkos kirimnya. Mengingat ini pengiriman antar negara dan ongkos kirimnya itu akan disesuaikan dengan kurs dolar AS. Untuk mengirim dua peci yang cukup ringan, ongkosnya hampir setengah juta rupiah.

Ternyata teman-teman tidak mempermasalahkan ongkos kirimnya. Tentunya dia memiliki alasan kuat sehingga bersedia mengirimkan peci kepada pengurus masjid ini. Satu hikmahnya adalah mereka, para pengurus masjid tersebut, tadi menyebut-nyebut negara kita, Indonesia. Mereka tak menyangka ada orang Indonesia yang berbaik hati mengirimkan hadiah untuknya.

Sebelum ini, dua minggu lalu pun sudah tiba kiriman peci hitam sebanyak tiga buah. Ketiganya langsung saya berikan kepada orang tua yang pertama kali meminta atau menginginkan peci hitam yang dimaksud. Hormat saya kepada Abang Dr H Muhammad Harjum MAg, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.

Sesuai dengan catatan saya, masih ada tiga lagi teman yang sudah mengirimkan pecinya ke sini. Mungkin akan tiba dalam beberapa hari lagi. Satu dari Magelang Jawa Tengah. Tepatnya dari kampus Akademi Militer. Seorang anggota TNI berpangkat Letnan Kolonel sudah memaketkannya.  Kemudian dari seorang pejabat penting di Univesitas Hasanuddin, yang ketika kuliah dua puluhan tahun lalu, sempat mengajar saya di Jurusan Ilmu Komunikasi. Dan seorang ibu rumah tangga, teman saya, sesama alumni SMA Negeri 3 Makassar.

Alhamdulillah, saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah tiba kirimannya maupun yang masih dalam perjalanan. Semoga peci hitam yang diberikan, memberikan manfaat yang besar kepada yang memakainya, khususnya dalam melaksanakan ibadah. Hikmah lainnya, adalah marwah negara kita sedikit-banyaknya, telah naik di mata mereka. Indonesia.

Wassalam

Haidir Fitra Siagian

Gwynneville, 28/4/2021 bakda Isya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here