Nussa Rara Taliban?

0
230
Ilustrasi istimewa

Oleh: Fahd Pahdepie

KLIKMU.CO

Setelah pegawai KPK yang kritis dituduh Taliban, kini giliran animasi Nussa Rara yang dilabeli hal yang sama. Seolah ini cara baru untuk mengelompokkan orang ke dalam kategori ‘garis keras’, berlawanan dengan Pancasila, dan bukan Indonesia, lantas mengajak publik untuk memusuhinya.

Belakangan ini kita sering mendengar tuduhan serampangan dari sebagian orang untuk menuding kelompok tertentu yang menampilkan ke-Islaman-nya secara ekspresif: “Kamu Taliban!” Pakai peci haji dianggap Taliban, memanjangkan jenggot dituduh Taliban, pakai gamis dicap Taliban. Orang seolah tak boleh berpakaian atau bergaya tertentu, mengambil inspirasi dari Timur Tengah, karena konon itu ciri muslim radikal, ciri orang-orang yang ingin mengubah NKRI jadi negara Islam.

Tentu tuduhan itu ‘ngawur’ belaka. Atau, paling tidak, over-generalisasi. Boleh jadi ada kelompok tertentu yang ‘keras’ cara berislamnya dan mengekspresikan diri dengan model pakaian tertentu—berpeci putih, bergamis, bersandal gunung, dan seterusnya—tetapi tidak lantas membuat kita bisa menyebut semua yang bergaya demikian sebagai radikal atau teroris, bukan?

Saya kira ini bukan sekadar tuduhan. Tetapi upaya serius membangun stigma melalui propaganda yang massif. Publik ingin dikesankan bahwa menampilkan ekspresi keislaman dengan cara tertentu—yang mengambil inspirasi dari Timur Tengah tadi—sebagai sesuatu yang salah. Ekspresi berpakaian semacam itu diasosiasikan dengan sikap radikal dalam beragama, keras, bahkan identik dengan kelompok teroris.

Menariknya, logika ini dipakai oleh kelompok yang ingin merawat pembelahan dan polarisasi politik di tengah masyarakat kita. Sudah menjadi ciri khas mereka melakikan kategoriasi, melabeli orang dengan sebutan ini dan itu. Saya Pancasila, kamu khilafah. Saya toleran, kamu radikal. Saya Nusantara, kamu Taliban. Ada upaya membentuk kubu kami melawan mereka di sana, us vs them.

Ada bau Islamofobia di sana. Karena yang kerap dikesankan sebagai ‘musuh’ adalah kelompok Islam saja—yang ekspresif dengan keislamannya tadi. Buktinya, jika argumen mereka ingin menjaga budaya luhur bangsa dari pengaruh budaya asing itu benar, seharusnya mereka juga melakukan stigmatisasi yang sama kepada orang-orang yang bergaya Barat atau K-Popers yang mengadopsi style Korea. Nyatanya mereka tidak melakukan itu.

“Anak Indonesia tidak berpakaian seperti Nussa. Itu pakaian anak Taliban!” Ada sesat pikir luar biasa di dalam kalimat itu. Pertama, apa dan bagaimana yang disebut dengan pakaian anak Indonesia hari ini? Karena kita sudah hidup di era globalisasi di mana gaya berpakaian orang di seluruh dunia sudah hampir sama saja. Orang bisa berpakaian denhan gaya apa saja, sesuai selera masing-masing. Kedua, bahkan anak-anak Taliban pun—jika labelisasi ini mau dibenarkan—tidak berpakaian seperti Nussa dan Rara yang ditampikan di film animasi itu.

Sebenarnya apa itu Taliban?
Taliban atau Taleban adalah sebuah gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan sejak 1996 sampai 2001. Kelompok Taliban dibentuk pada September 1994, mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Pakistan. Jadi, kelompok ini sebenarnya adalah para pejuang kelompok Islam Sunni di Afghanistan. Menggunakan istilah Taliban untuk mengolok, jelas mengandung bias Islamofobia yang saya maksud tadi.

Thus, labelisasi dan tuduhan Taliban ini saya kira adalah bentuk evolusi dari tuduhan ‘radikal-radikul’ sebelumnya yang makin terasa tak masuk akal—mulai mudah untuk dibantah. Karena Afghanistan adalah negara gagal (failed state) karena perang berkepanjangan, sementara Afghanistan merupakan negara Islam, tuduhan Taliban ini ingin mengesankan bahwa orang dengan pikiran dan ekspresi Islam adalah seperti ‘orang-orang dari negara gagal’ ini. Ada upaya demoralisasi di dalamnya.

Siapa yang gemar menuduh orang lain Taliban? Cek saja rekam jejaknya. Saya kita rata-rata mereka memang memiliki kecurigaan—untuk tidak mengatakan kebencian—pada ekspresi Islamisme. Yang meski HTI sudah resmi dibubarkan, mereka masih merasa HTI ini ada dan mudah menuduh orang yang tidak sejalan dengan sebutan pro-HTI. Semua yang ‘Islam’ dikelompokkan dalam satu kategori tertentu untuk dituduh intoleran, radikal, pro-khilafah, Taliban.

Jadi, apakah animasi Nussa memang mengkampanyekan khilafah atau intoleransi? Jelas tidak. Seandainya mereka mau menonton filmnya. Mereka sebenarnya tak peduli, sebab yang mereka perlu lakukan hanya melakukan kategorisasi dan labelisasi itu. Terus mendorong yang ‘Islam’ ke-ekstrem kanan agar bisa diperlawankan dengan yang nasionalis. Ini celakanya.

Faktanya, animasi Nussa diapresiasi ajang film tingkat dunia, BIFAN di Korea Selatan. Ini mungkin film animasi panjang Indonesia pertama dengan prestasi sebaik itu. Isinya saya yakin positif dan menginspirasi. Layak kita tonton ramai-ramai nanti. Kalau perlu memakai baju seperti Nussa dan Rara, sambil mengatakan kepada kelompok yang parnoan dan doyan bikin ribut itu: Taliban, Taliban…

Fahd Pahdepie adalah intelektual Muhammadiyah, Direktur Eksekutif Amanat Institut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here