Obituari Farid Fathoni: Kader Autentik, Penulis Buku Wajib Baca IMM

0
537
Farid Fathoni AF (tengah) dalam sebuah acara. (Dok Qosdus Sabil/KLIKMU.CO)

Oleh: Qosdus Sabil

KLIKMU.CO

Sabtu 6 Syawal 1443 Hijriyah sedang beranjak siang. Usai mengantarkan bapak kami periksa ke dokter urologi, saya tercenung membaca kabar wafatnya Mas Farid Fathoni AF.

Sesaat kemudian azan Zuhur berkumandang. Panggilan azan menyadarkan saya bahwa kapan saja kematian akan menghampiri kita. Hanya menunggu giliran saja.

Sosok Farid Fathoni, bagi saya, adalah sosok kader autentik IMM. Farid Fathoni tidak saja merepresentasikan kemurnian ide dan aksi sebuah gerakan IMM. Namun, ia juga mencerminkan harapan besar akan “keaslian” visi gerakan IMM, yang selalu menekankan gerakannya atas dasar “amal ilmiyah, ilmu amaliyah”. Sehingga menjadi kebanggaan besar bagi IMM adalah ciri khasnya untuk selalu tampil “anggun moral, unggul intelektual”.

Adalah Allahuyarham Muhammad Ilham Thowil yang pertama kali memperkenalkan saya dengan sosok Farid Fathoni AF, walaupun secara tidak langsung, melalui Buku “IMM, Kelahiran Yang Dipersoalkan”. Saat itu Kak Ilham baru beberapa saat menjadi mahasiswa IAIN Surabaya dan langsung menjadi aktivis IMM. Sementara saya sendiri masih menjadi aktivis IPM Sekolah Kader SMA 2 Lamongan.

Sehingga, saat mulai kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember, saya langsung menyatakan aktif di IMM. Betapapun saat itu banyak senior kakak kelas yang mencoba merayu dan mengajak saya untuk aktif di HMI, namun sedikitpun saya tidak tertarik. Saya sudah jatuh hati kepada IMM, bahkan sejak saya masih pelajar.

Inilah asbab perjumpaan saya berikutnya dengan Mas Farid menjadi begitu intim. Terlebih sosok Mas Farid adalah role model seorang penggerak kader. Farid Fathoni sangat total dalam meluangkan dan memberikan waktu terbaik untuk melayani kader-kadernya.

Perjumpaan langsung dengan Mas Farid terjadi saat saya mengikuti Darul Arqam Madya DPD IMM Jawa Timur tahun 1994 di Pacet Mojokerto. Hingga larut malam Mas Farid Fathoni membakar semangat kami untuk meneguhkan identitas IMM di kancah nasional gerakan mahasiswa. Saat itu saya melihat Mas Farid ditemani sang istri tercinta. Mas Farid tidak segan mengemudikan sendiri ambulans sebuah puskesmas yang menjadi mobil dinas istrinya.

Hingga sepuluh tahun kemudian, dalam beberapa kali kesempatan hadir rapat konsolidasi pemenangan Pilpres 2004 bersama Allahuyarham Pak Yahya Abdul Muhaimin, saya melihat Mas Farid hampir selalu ditemani oleh sang istri tercinta. Dan ini yang istimewa, Mas Farid terkadang masih memilih mengemudikan sendiri sebuah ambulans.

Terlepas dari kesederhanaannya, rupanya itulah cara Mas Farid untuk dapat membagi waktu di tengah padatnya mobilitas kesibukan beliau sehari-hari. Ambulans menjadi pilihan jitu untuk dapat memaksimalkan kecepatan dalam memberikan pelayanan ke masyarakat, tidak hanya sebatas urusan pelayananan kesehatan. Namun juga pelayanan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat mustadh’afin.

Di halaman belakang rumahnya yang sangat luas, Mas Farid dan istri membuat Taman Kanak-kanak & Taman Pendidikan Al-Qur’an yang diperuntukkan gratis untuk melayani masyarakat sekitar.

Rumahnya di Jombang tidak hanya kerap menjadi jujugan para aktivis. Beberapa tokoh nasional seperti Adi Sasono dan ZA Maulani juga pernah singgah di rumah almarhum.

Tidak ketinggalan Piet Hizbullah Khaidir dan Endy Sjaiful Alim (Ketum dan Sekjen DPP IMM 2001-2003) usai sebuah agenda di Malang meminta kepada saya untuk menemani ke rumah Mas Farid di Jombang. Saya pun segera meminjam Suzuki Katana UMM, mobil dinas Mas Fauzan, kini Rektor UMM, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala BAU, untuk mengantarkan Piet dan Endy berjumpa Mas Farid Fathoni.

Siang hari kami memasuki kediaman Mas Farid yang luas dan asri, membuat kami sangat betah berlama-lama bertamu. Terlebih kami mendapatkan sangat banyak sudut pandang sejarah gerakan IMM dari sumber penulisnya langsung. Mas Farid pun meminta kami menginap saja di rumahnya. Hanya saja Piet sudah terlanjur memesan tiket kereta malam dari stasiun Pasar Turi untuk kembali ke Jakarta. Sehingga, kami pun terpaksa mengakhiri diskusi gayeng bersama Mas Farid.

Sebagai tindak lanjut diskusi tersebut, saya kemudian ditunjuk oleh DPP IMM untuk segera mempersiapkan sebuah Lokakarya Nasional yang bertitel “Rancang Bangun Gerakan IMM Visi 2020”. Alhamdulillah, acara lokakarya tersebut dilaksanakan di Gedung Diklat Depdagri di Kota Malang. Kami diizinkan memakai gedung tersebut secara gratis atas bantuan Pak Syahrazad Masdar, Kepala Diklat Depdagri Jawa Timur saat itu. Pak Syahrazad Masdar sempat ditunjuk menjadi Pejabat Bupati Jember. Dan kemudian menjadi Bupati terpilih di Kabupaten Lumajang.

Intensitas perjumpaan dengan Mas Farid Fathoni terjadi saat kami sedang mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah IMM Jawa Timur pada akhir bulan Februari 2004. Acara Musyda IMM Jatim XIV tersebut dilaksanakan di Kota Jombang. Mas Farid sangat antusias membantu hajatan kami tersebut. Mas Farid sangat bergembira dengan kehadiran kader-kadernya yang malah banyak ngriwuk’i (merepotkan). Mas Farid bahkan mengundang khusus saya dan kawan-kawan DPD IMM Jatim untuk menginap di rumahnya, agar bisa berdiskusi lebih dalam hingga larut malam.

Tema besar yang kami angkat saat Musyda adalah “Mempertegas Peran Kesejarahan Memperkukuh Aksi Kepeloporan”. Musyda IMM Jatim XIV ini dilaksanakan dalam suasana milad IMM yang ke-40 tahun. Usia sebuah gerakan yang selayaknya sudah semakin mapan. Hadir dalam Musyda tersebut Prof Yahya A. Muhaimin sebagai Ketua Kornas Fokal IMM. Pak Yahya yang mantan Mendiknas Kabinet Gus Dur, d itengah kesibukan konsolidasi nasional pemenangan MAR for President, merasa sangat penting bisa hadir ke Jombang.

Sejak pertama saya berdiskusi dengan Mas Farid, saya merasakan ada chemistry yang begitu erat dengan almarhum. Mungkin juga karena dilatari oleh kesamaan background keluarga besarnya di Brondong-Lamongan dan Tuban, yang secara pemikiran politik khas Masyumi. Dimana itu semua nyambung dengan aktivitas politik Abah saya di Lamongan sejak era orde baru berkuasa.

Bagian terpenting dari legasi seorang Farid Fathoni adalah menemukan frasa “IMM, Kelahiran yang Dipersoalkan”, yang kemudian menjadi buku wajib bagi setiap kader IMM.

Ada sebuah amanah dari Pak Djazman Al-Kindi yang belum tertulis semuanya dalam buku “Kelahiran yang Dipersoalkan” tersebut. Saya mendengar dari Mas Abduh, aktivis IMM Surabaya yang kini aktif sebagai PDM Kab Jombang, bahwa edisi cetak baru dan revisi buku Kelahiran yang Dipersoalkan sudah hampir selesai. Semoga bisa segera naik cetak.

Allahuyarham Mas Farid Fathoni….

Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala melimpahkan atas Almarhum Maghfirah, Rahmah dan Jannah-Nya. Aamiin Yaa Arhamarraahimiin.

 

Ciputat, Ahad 7 Syawal 1443 H

Qosdus Sabil,

Ketua Lembaga Pengkajian Strategi dan Kebijakan DPP IMM 2001-2003

Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur 2002-2004

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here