Ogah Disebut Dahlaniyah tapi Bangga Disebut Wahabi, Siapa Dia?

0
218
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Muhammadiyah itu harakah Islam didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan di Kota Gedhe Ngajogjakarta Hadiningrat. Wahabi atau Muwahidun didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di semenanjung Arab—masih kurang jelaskah?

Kiai Dahlan juga terinspirasi kompeni yang memiliki banyak sekolah. Maka beliau mendirikan sekolah sekuler yang mengajarkan ilmu-ilmu agama dan umum dalam satu atap, mendirikan panti asuhan, klinik kesehatan bermula dari usulan Kiai Sudjak yang awalnya dilawan dan ditentang oleh sesama kader karena dianggap tasyabuh. Bahkan mendirikan Padvinder (Javaansche Padvinders Organisatie) yang kemudian lazim disebut kepanduan Hizbul Wathan setelah mendengar penjelasan Soemodirdjo selepas perjalanan dakwah di Surakarta.

Tak dimungkiri bahwa gerakan Wahabi di semenanjung Arab juga ikut mewarnai dalam hal semangat dan puritanisme. ”Ambil apinya” kata Soekarno tentang Wahabi yang riuh penuh gelora. Pada umat Islam yang jumud Kiai Dahlan terinspirasi Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha tentang pembaharaun dan pemodernan pemikiran Islam.

Kiai Dahlan tertarik dalam banyak hal, termasuk fremansory yang punya banyak sekolah dan lembaga pendidikan bonafide. Beliau tidak segan mengambilnya bilamana dianggapnya banyak membawa maslahat. Benar tutur Prof Din bahwa Muhammadiyah adalah federasi pemikiran, ide, dan gagasan. Ibarat permen, Muhammadiyah adalah nano-nano, banyak rasa, kaya warna. Ada banyak varian pemikiran yang diramu menjadi sebuah gerakan pemikiran—disitulah cerdiknya Kiai Dahlan.

Bukti bahwa inklusif dan terbuka menjadi salah satu karakter gerakan Kiai Dahlan, beliau sangat terbuka dengan berbagai macam pemikiran dan dinamis terhadap perubahan dan modernitas. Beliau menerjemahkan Al-Quran dengan menggunakan huruf latin dan mengajarkan ilmu hitung, memakai celana, pentalon dan mengendarai Harley Davidson?

Ketika mengajar di OSVIA sekolah pamong praja tempat calon birokrat dan pejabat dididik, berbeda dengan DNA Wahabi yang eksklusif, konservatif, menganut kebenaran tunggal, keras, radikal, puritan, dan tekstual dalam memahami agama. Wahabi juga menempatkan perempuan dalam posisi paling belakang.

Akan halnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau lebih suka menyebut gerakannya dengan nama Muwahidun, sedang Wahabi bermula dari sebutan lawan-lawannya yang tidak suka.

Tidak ada salah jika kemudian ada kemiripan tapi bukan berati ‘menjadi sama’. Itu naif,  terinspirasi adalah hal lumrah dan lazim. Jadi tak harus bersusah mencari berbagai pembenaran bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi hanya karena terinspirasi—itu sesat pikir saya bilang.

Ironis jika enggan disebut Dahlaniyah karena takut kultus, di sisi lain mencari berbagai pembenaran agar bisa dipadankan dengan Wahabi, dan baper ketika dikatakan bahwa Muhammadiyah tak ada tautan dengan Wahabi—sungguh ruwet.

Jangan sesat pikir, pernyataan bahwa Muhammadiyah tak ada tautan dengan Wahabi itu bukan merendahkan, apalagi membenci Wahabi. Hanya semacam menarik garis demarkasi bahwa Muhammadiyah itu bukan Wahabi, Muhammadiyah bukan Salafi, bukan HTI, bukan FPI. Dibalik juga tidak apa-apa: Wahabi itu bukan Muhammadiyah, FPI, HTI juga bukan Muhammadiyah, tapi Islam. Memang kenapa?

@nurbaniyusuf

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here