Orang Lain Masih Deradikalisasi, Muhammadiyah sejak Awal Konsisten dengan Moderasi

0
88
Prof Dr Abdul Mu’ti MEd mengisi pengajian tentang Moderasi Beragama dalam Perspektif Muhammadiyah yang digelar secara daring, Rabu malam, 17 November 2021. (Tangkapan layar AS/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd membahas pandangan Muhammadiyah dalam moderasi agama dan aktualisasinya di tingkat lokal maupun internasional. Hal itu diungkap dalam Refleksi Milad Ke-109 Muhammadiyah: Moderasi Beragama dalam Perspektif Muhammadiyah yang digelar secara daring, Rabu malam, 17 November 2021, dan disiarkan secara live di YouTube Tarjih.

“Istilah moderasi agama ini belakangan memang cukup populer,” kata Mu’ti. “Ketika banyak pihak masih bertahan dengan konsep deradikalisasi dan berbagai istilah lain, Muhammadiyah sejak awal konsisten dengan konsep moderasi,” lanjutnya.

Menurut Mu’ti, konsep moderasi Islam dikembangkan merujuk pada konsep washatiyah Islam yang berlandaskan pada Alquran. Gerakan washatiyah Islam kemudian populer dan menjadi maistream gerakan Islam Indonesia, bahkan dalam konteks diplomasi internasional Indonesia.

“Sebelumnya kita pakai Islam rahmatan lil amin. Sejak 2017-2018, ketika Prof Din Syamsuddin menjadi utusan khusus presiden untuk dialog antaragama dan peradaban, dirumuskanlah konsep washatiyah Islam oleh para tokoh muslim dari berbagai negara. Ada 100 tokoh yang hadir pada waktu mengusung konsep washatiyah Islam. Itu pengarusutamaan moderasi di level nasional dan internasional,” terang Mu’ti.

Secara konseptual atau lafadz, kata dia, washata dilafadzkan dan disebutkan lima kali di Alquran. Pertama, di surah Al Adiyat ayat 5. Washata di sini artinya tengah atau posisi di tengah.

Kedua, di surah Al Baqarah ayat 143. “Kami telah menjadikan umat Islam yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi perbuatan manusia dan Muhammad jadi saksi atas perbuatan kamu,” kata Mu’ti merujuk pada ayat tersebut.

Ketiga, lafadz austh dalam surah Al Maidah. Ketika orang melanggar sumpah, maka berikanlah makanan dan pakaian kepada orang miskin yang biasa kamu kenakan. Artinya, washata itu tidak ekstrem.

Keempat, di surah Al Qalam. Disebutkan bagaimana agar kita menjadi orang yang memiliki pemikiran maju dan cerdas. “Orang-orang cerdas berkata, washata dikaitkan dengan kualitas keilmuan dan konsistensi dengan ilmunya itu berbuat baik dan bertasbih,” katanya.

Kelima, di surah Al Baqarah ayat 238. Itu berkaitan dengan shalat. “Hendaknya kamu jaga waktu-waktu shalat itu dan shalat wustha dan hendaknya kamu tegak penuh kekhusyukan,” paparnya.

Dari konsep ini, Muhammadiyah menyikapi sikap moderat dengan tiga dimensi. Kesimpulannya, pertama, washata sesuatu yang sangat baik sehingga sering disamakan dengan kata-kata khair.

“Washata itu ibarat oase di tengah gurun,” ujar Mu’ti lagi.

Kedua, soal sikap. Washat itu tidak berlebih-lebihan, termasuk dalam urusan agama.  Terakhir atau  ketiga, washat artinya berperilaku sesuai dengan ilmu dan hukum. Sehingga seringkali diartikan sebagai adil. “Seperti wasit itu yang artinya adalah pengadil pertandingan,” tandasnya (A/S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here