Orang Tua Benteng Utama Keluarga, Bukan Sekolah!

0
30
Orang Tua Benteng Utama Keluarga, Bukan Sekolah! (Ilustrasi diambil dari Google)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Keluarga merupakan komunitas terkecil dalam kelompok sosial. Terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga menjadi kekuatan dalam sebuah kelompok besar dalam sosial kemasyarakatan, bangsa, dan negara. Sebagai elemen masyarakat, hal ihwal dinamika yang muncul dalam satuan keluarga menunjukkan indikasi apa yang terjadi dalam keluarga sebagai bukti nyata anggota keluarga memiliki eksistensi. Sangat mungkin di dalamnya terjadi hal-hal yang baik maupun hal buruk, sehingga konsekuensinya membuat kondisi keluarga dinamis.

Pembelajaran dalam rumah tangga bukan hanya melihat dan merasakan dari pengalaman yang dialami orang tua, nenek, dan kakek kita. Melainkan pengalaman langsung oleh pasangan suami istri secara tiba-tiba muncul begitu saja atau disebabkan oleh gesekan dan perselisihan anggota keluarga.

Bicara ibu, bukan hanya sebatas simbol orang tua semata, melainkan sebagai sosok manusia mulia. Jiwa dan raganya dikorbankan hanya untuk anak-anaknya, sejak mengandung, melahirkan, dan membesarkan, bahkan hingga menikahkan menjadi generasi penerus keturuannya. Kekuatan ibu menjadi kekuatan sebuah keluarga, napas ibu menjadi napas keluarga, dan kasih sayang ibu menjadi motivasi dan inspirasi dalam keluarga.

Begitupun seorang ayah sebagai generator, creator, dan inovator keluarga lebih dinamis bahu-membahu bersama ibu membentengi dan membuat pertahanan untuk membendung berbagai ancaman dan serangan dari dari dalam dan juga dari luar keluarga. Benturan-benturan dari dalam kerap kali terjadi hingga tidak sedikit bercerai-berai luluh lantak berkeping-keping berserakan. Saat itu terjadi, bukan hanya ibu dan ayah pusing tujuh keliling. Justru anak-anak yang diamanahkan kepada mereka berantakan hingga tidak punya arah dan tujuan.

Sosok ayah berperan menjadi leader, bukan sekadar menafkahi material semata. Begitu pun seorang ibu bukan sebatas melayani aspek-aspek materi. Keteladanan keduanya menjadi kunci ketangguhan dalam keluarga. Semakin bersama satu padu mengoraganisasi anggota keluarga penuh dengan kesungguhan dan keseriusan, anak pun setidaknya melihat dan merasakan apa yang diperbuat oleh kedua orang tuanya.

Sekecil apapun perbuatan buruk ayah dan ibu, akan membekas dan mentransformasi dalam kehidupan anak-anaknya. Baik itu sebatas kata-kata dan ungkapan, apalagi perbuatan dan sikap tingkah laku yang diulang-ulang. Andaikan yang diperbuat adalah perbuatan buruk, hal itu sangat mengancam kepribadian anak-anak dalam waktu tertentu akan muncul tanpa disadari oleh ayah dan ibu.

Yang lebih parah, ayah dan ibu tidak merasa berbuat salah dan menuduh anak dan lingkungan sekitarnya. Sungguh berat membentengi keluarga dari serangan virus-virus perilaku yang tidak disadari. Hal tersebut sekalipun dianggap tidak berpengaruh, padahal bagian dari perbuatan buruk.

Tidak sedikit kebiasan orang tua, baik ayah ataupun ibu, yang sering memperlihatkan kata-kata dan uangkapan tidak beradab, apalagi perbuatan yang menjadi kebiasaan kurang baik yang lost control. Kebanyakan dan kecendrungan orang tua membiasakan hal baik secara berulang-ulang cukup mengalami kesulitan. Contoh yang sering muncul dalam lingkungan keluarga, saat musim sinetron dalam televisi mainstream pada tahun akhir tahun 90-an, ibu-ibu sangat intensif menonton sinetron berseri, alih-alih waktunya masih dalam waktu ibadah, baik itu magrib maupun isya.

Suatu saat pernah cerita dari nenek ketika berkunjung pada anaknya di kota. Saat itu sang nenek setelah salat Magrib, tanpa basa-basi melihat keluarga anaknya sedang menonton televisi dan ditegur untuk menghindari tontonan dan disuruh mengaji Al-Qur’an. Usut demi usut, kebiasan tersebut sudah berlangsung lama. Di era milenial, orang tua dan anak-anaknya bukan menghadap televisi digital, melainkan menonton serial drama Korea (drakor) sampai berjam-jam lamanya. Suara pengajian di pojok-pojok rumah sangat sulit terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh orang tua dan anak-anaknya.

Jauh membentengi keluarga, justru yang terjadi tidak sedikit fenomena di depan mata kadang orang tua itu sendiri membawa virus keburukan. Keteladanan orang tua menjadi guru utama dan pertama dalam hakikat pendidikan sebenarnya. Sangat pas dijadikan peribahasa “Ibu bapak kencing berdiri, anak kencing berlari terbirit-birit”.

Konsekuensi dari perbuatan ayah dan ibu sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan spiritual anak. Apapun alasannya, orang tua sangat menjadi penentu dan aktor utama men-delivery sikap dan perilaku dasar menuju kualitas individu generasi berikutnya. Benteng kekuatan keluarga ada dalam ketahanan ayah dan bunda. Ketahanan akan muncul dan datang kepada ayah bunda ketika mereka bersatu padu membangun komitmen bersama dengan berbagai kekuatan yang dimiliki saling melengkapi kekurangan hingga memadukan kekuatan kedua orang tua tersebut dengan menjelmakan pada satu tujuan bersama.

Namun, realitas pendidikan kita dari sejak awal penjajahan kekerasan fisik kolonialisme Barat hingga penjajahan idealisme ke-Tuhan-an bangsa oleh kapitalis dan sosialis Barat. Hal itu tak pernah hilang dalam jantung bangsa dan negara Indonesia. Modernisme pendidikan kedok dari liberalisme pendidikan telah memasung kemerdekaan berpikir, berseni, dan berkarya lainnya.

Kita semua ingat pengalaman tahun 80-an hingga 90-an, saat kita sekolah di inpres-inpres yang disediakan pemerintah kala itu. Pagi buta sudah bangun untuk siap-siap sekolah dengan seragam pakai baju putih celana pendek merah dan sepatu hitam dan kaos kaki putih. Jalan jauh melewati perkampungan dan sawah-sawah, bahkan didaerah tertentu melewati ladang dan bukit-bukit hutan yang berliku serta ada juga harus melewati sungai-sungai yang cukup deras airnya. Mereka tetap semangat menatap masa depan.

Hanya sayang saat tiba di sekolah, semua murid masuk duduk dengan badan tegak, rapi, dan sopan. Semua siswa harus menyimak penuh khusyuk, tidak boleh ada yang berisik dan ribut. Bagi yang ribut, terlambat datang, dan pelanggaran lain di kelas langsung disanksi dengan cara di-strap, istilah hukuman bagi pelanggar dengan berdiri satu kaki sambil tangannya pegang satu hingga dua telinga.

Sekolah adalah lingkungan kedua setelah rumah. Dalam teks nash al hadits ada ungkapan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci. Maka, untuk membuat selanjutnya anak tersebut Nashoro dan Yahudi serta Majusi tergantung kedua orang tuanya!

Kemudian, pemaknaan teks “faabawah” maksudnya adalah kedua orang tua menjadi dasar penegasan bahwa pendidikan orang tua menjadi benteng pertama dan utama selanjutnya pemaknaan lain dari teks “faabawah” lingkungan selain orang tua di rumah, yaitu di sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya.

Anak-anak menjadi amanah yang diberikan kepada kedua orang tua, ibu dan bapaknya, bukan amanah guru-guru di sekolah. Mereka membantu para orang tua yang meminta bantuan kepadanya. Hanya saat diminta biaya berapapun yang diminta ada pembagian tanggung jawab. Saat anak di sekolah guru-guru mendapatkan amanah dari kedua orang tuanya selama waktu yang disepakati dan ditentukan pihak sekolah. Tanggung jawab utama tetap saja ada pada bapak dan ibunya, karena mereka yang diamanahi langsung dari Ilahi Rabbi. Wallahu’alam.  (*)

Bandung, Agustus 2023

Ace Somantri
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini