Para Ulama Junjungan di Persyarikatan

0
18
Pak AR Fachruddin (kanan) dalam sebuah kesempatan. (Panji Masyarakat)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf

Rumah di Jalan Silikat yang dihuni Prof Malik Fadjar kerap menjadi jujukan Pak AR Fachruddin, Ketua PP Muhammadiyah, saat beliau berkunjung ke Malang. Pak AR, biasa akrab dipanggil, lebih memilih menginap di rumah pimpinan daerah atau cabang daripada menginap di hotel.

Mitsuo Nakamura, seorang mahaguru dan peneliti senior berkebangsaan Jepang, sempat dibuat kaget saat kali pertama datang ke Jogja. Bermaksud bertemu dengan para pimpinan Muhammadiyah. Mitsuo Nakamura diboncengkan Pak AR dengan sepeda motor Yamaha butut tahun tujuh puluhan yang mulai terlihat menua.

Dari ulama bersahaja ini, pegawai KUA golongan II tanpa deret gelar lahir puluhan universitas, rumah sakit, dan layanan oemoem lainnya. Bersyukur kita banyak punya ulama-ulama bersahaja yang hadir di saat yang tepat. Banyak uswah khasanah dari para ulama junjungan kami, dengannya kami membagi dan berbenah untuk kebaikan yang banyak.

Adalah Kiai Bedjo Dermoleksono, penggagas dan pendiri Universitas Muhammadiyah Malang, yang harus berjalan kaki dari Sidomulya Kota Batu ke rumahnya di Oro-Oro dowo Malang selepas mengisi pengajian rutin setiap hari Selasa bakda Ashar.

Beliau tidak sengaja berjalan kaki apalagi joging dengan jarak 35 kilometer. Lebih karena para muridnya lupa memberi uang transpor. Dan saat beliau wafat tak meninggalkan harta untuk diwariskan karena semua telah diwakafkan untuk Persyarikatan tanpa sisa.

Bahkan Bu Nyai Bedjo harus menumpang di kompleks perumahan Masjid Al Khairat Dinoyo tempat saya menjadi penjaga dan tukang sapu masjid selama enam tahun lebih.

Dua ulama yang saya sebut di atas bukanlah dari kalangan para sahabat, tabiin, atau para salaf yang muktabar. Keduanya hanya ulama biasa yang hidup beberapa tahun lebih dulu dari kita. Orang biasa dengan pikiran biasa dan status sosial biasa bukan pula keturunan Sayid, Syarif, apalagi Habib.

Bersyukur saya diberi sempat untuk ‘ngawula’ pada Pak AR meski hanya sekedar mengambilkan unjukan teh tubruk kesukaan, mengantar istirahat ke Jalan Silikat dan menjemputnya esuk pagi. Bersyukur pula mushala depan rumah, rintisan kakek saya beberapa kali disinggahi Kiai Bedjo Dermoleksono mengaji kitab bulughul maram dan nailul author meski hanya beberapa kali pertemuan.

Sungguh kenangan manis tak terperi bersama para ulama kesayangan. Orang-orang alim, zuhud, dan wara. Malu kiranya mengenang kesahajaan beliau saat ini. Ketika melihat lifestyle para ulama jaman sekarang, tarif mahal, jemputan mobil mewah dan hotel berbintang untuk istirahat.

Jika ulama sekelas Pak AR dan Kiai Bedjo Dermoleksono berpikir seribu kali hanya untuk memakai kemeja baru di depan santrinya, maka ulama sekarang tak malu menunjukkan berapa deret istri yang dinikahi. Atau koleksi kuda tunggangan atau kebun luas yang dimiliki atau jumlah tabungan di rekening hasil honorarium ceramahnya.

Memang, tak ada keharusan ulama harus hidup zuhud dan wara, berpakaian kumal, makan seadanya atau jalan kaki kemanapun pergi. Tapi juga tak elok menunjukkan kekayaan, melahap makanan mahal dan baju mewah di depan publik dikala umat lagi berkekurangan.

Pada akhirnya, semua terpulang kepada masing-masing dan hidup memang pilihan.

Dr Nurbani Yusuf MSi

Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar, Dosen UMM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini